Renungan Jumat Prof. Rokhmin Dahuri: Maafkan Pasanganmu Sebelum Tidur Malam, Kunci Sehat Mental dan Bahagia
Menyimpan Dendam Picu Jantung Hingga Hipertensi
ASKARA - Ada yang berbeda dari diskusi di WAG Dulur Rokhmin Dahuri pada Jumat pagi ini, Jum'at (7/8). Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS, yang dikenal luas sebagai pakar kemaritiman dan Menteri Kelautan dan Perikanan RI periode 2001-2004, membagikan sebuah renungan rumah tangga yang langsung menyentuh hati dan viral di kalangan anggotanya.
Renungan berjudul "MAAFKAN PASANGANMU SEBELUM TIDUR MALAM" mengupas tuntas arti memaafkan dalam pernikahan, bukan hanya dari kacamata agama, tapi juga sains dan kesehatan modern.
Bagi Prof. Rokhmin, membangun Indonesia Emas 2045 tidak hanya soal membangun laut, ekonomi, dan infrastruktur, tetapi juga membangun keluarga yang kuat, sehat, dan bahagia sebagai fondasi utama bangsa.
Bukan Sekadar Nasehat Agama, Tapi Fakta Sains
Dalam tulisan yang dibagikannya, Prof. Rokhmin mengutip dua penelitian ilmiah penting yang menjadi landasan mengapa dendam sangat berbahaya.
Pertama, penelitian tahun 2016 yang dipublikasikan dalam Journal of Health Psychology. Penelitian tersebut mengungkap fakta mencengangkan bahwa orang yang selama masa hidupnya menyimpan dendam dan tidak mau memaafkan kesalahan orang lain, cenderung memiliki kesehatan mental dan fisik yang jauh lebih buruk serta mengalami tingkat stres yang tinggi dan berkepanjangan.
Kedua, riset dari Medical College of Georgia tahun 2014. Hasilnya lebih mengejutkan lagi, mereka yang mengaku memendam dendam selama bertahun-tahun terbukti mengalami peningkatan risiko berbagai masalah kesehatan serius. Mulai dari penyakit jantung, hipertensi, maag, sakit kepala kronis, bahkan hingga sakit punggung.
"Banyak studi menunjukkan bahwa menyimpan dendam serta senantiasa berperasaan negatif berakibat buruk bagi kesehatan mental Anda seperti gangguan kecemasan dan frustasi. Justru dengan memberi maaf perasaan kita jadi tidak stres. Selama ini dianggap dendam hanya ada di pikiran dan mental kita tetapi tubuh kita pun akan terpengaruh," ujar Prof. Rokhmin Dahuri saat membagikan tulisan Ustadz Cahyadi Takariawan yang mengutip dari psikolog klinis dr. Seth Meyers, PsyD.
Artinya, saat suami atau istri memilih tidur dengan membawa amarah dan kekecewaan, yang rusak bukan hanya suasana malam itu, tapi juga jantung, lambung, dan kesehatan mentalnya sendiri keesokan harinya.
Memaafkan Adalah Kekuatan, Bukan Kelemahan
Poin paling kuat dari renungan Jumat ini adalah meluruskan stigma bahwa memaafkan itu tanda kalah atau lemah. Justru sebaliknya. "Orang yang mudah memaafkan bukanlah orang yang lemah. Justru mereka adalah orang-orang kuat yang sanggup memaafkan kesalahan banyak orang," tegas tulisan tersebut.
Prof. Rokhmin menekankan, dalam memaafkan tersimpan tiga kekuatan besar sekaligus:
1. Kekuatan Kepribadian: Orang yang sangat pemaaf, baik terhadap diri mereka sendiri maupun orang lain, cenderung memiliki kepribadian yang lebih menarik, lebih kuat, dan lebih dewasa.
2. Kekuatan Kesehatan: Dalam memaafkan tersimpan manfaat kesehatan, bukan hanya kesehatan mental, namun juga kesehatan badan. Orang pemaaf terhindar dari stres dan gangguan mental sepanjang hidupnya.
3. Kekuatan Kebahagiaan: Dalam memaafkan terkandung kebahagiaan. Semakin pandai memaafkan, semakin mudah seseorang mendapat kebahagiaan.
"Berbagai studi ilmiah telah menunjukkan betapa dahsyat pengaruh memaafkan dalam kehidupan seseorang. Dalam memaafkan tersimpan kekuatan," lanjutnya.
Tamparan Halus Untuk Suami Istri Zaman Now
Renungan ini memberikan pertanyaan reflektif yang begitu menohok, terutama bagi pasangan suami istri di era modern yang seringkali gengsi untuk meminta maaf duluan.
Jadi, masih ingin menjadi pendendam? Bukankah semua orang bisa melakukan kesalahan? Bukankah Allah SWT menyuruh kita untuk selalu memaafkan kesalahan orang?
Jika orang pada umumnya saja kita maafkan, mengapa pasangan hidup sendiri justru tidak dimaafkan?
Kalimat itu seolah menjadi cermin. Kita begitu mudah memaafkan teman kantor, tetangga, bahkan orang yang baru dikenal di media sosial, namun begitu sulit memaafkan pasangan yang setiap hari tidur di samping kita, yang telah berjuang bersama membangun rumah tangga.
Prof. Rokhmin pun menutup renungan tersebut dengan ajakan yang sederhana namun sangat powerful untuk dipraktikkan malam ini juga.
"So, berhentilah menjadi pendendam. Capek deh jadi pendendam. Hidup tak pernah tenteram. Segera maafkan kesalahan pasanganmu, sebelum tidur malam ini. Dan rasakan efek positifnya saat bangun tidur besok..."
Hingga berita ini ditulis, pesan tersebut terus mendapat respon positif dari ratusan anggota WAG Dulur Rokhmin Dahuri. Banyak yang mengamini dan mengaku tertohok.
Kuncinya bukan tentang siapa yang paling benar atau siapa yang paling salah dalam rumah tangga. Kuncinya adalah siapa yang paling berani memaafkan lebih dulu sebelum lampu kamar dipadamkan. Karena rumah tangga yang hebat bukan yang tanpa masalah, melainkan yang tidak pernah menyimpan dendam hingga matahari terbenam.

Komentar