Argus dan Hachiko
OLEH JAYA SUPRANNA
ASKARA - Dalam Odyssey karya Homer, ada satu adegan yang paling sunyi tapi paling menghantam : kepulangan Odysseus dan pertemuan dengan anjing tuanya, Argus. Tidak ada sambutan meriah. Tidak ada musik. Hanya seekor anjing di atas tumpukan kotoran, menunggu mati.
Adegan inilah yang diabadikan Briton Rivière tahun 1871 dalam Ulysses and Argus. Ulysess adalah nama Romawi bagi Odysseus . Dan 150 tahun kemudian dihidupkan lagi oleh Christopher Nolan di bagian akhir film THE ODYSSEY, tepat sebelum Odysseus menyelinap masuk ke istana Ithaca. Rivière tidak melukis Odysseus sebagai pahlawan gagah perkasa. Ia melukisnya sebagai pengemis tua, bongkok, pakaian compang-camping.
Fokusnya justru di Argus. Tubuhnya kurus, tergeletak lemah. Tapi kepalanya terangkat, matanya menatap lurus ke tuannya. Di antara mereka ada ruang kosong. Itu jarak 20 tahun. Tidak ada manusia mengenali Odysseus. Hanya Argus yang mengenali. Rivière menegaskan: kesetiaan sejati tidak butuh panggung.
Di film THE ODYSSEY, Nolan menaruh adegan Argus persis sebelum klimaks. Kamera menahan napas. Seekor anjing tua di gerbang. Ekornya bergerak pelan saat melihat Odysseus. Lalu ia mati. Tanpa dialog. Tanpa musik dramatis. Nolan dan Rivière sama-sama paham: kesetiaan paling keras justru yang paling sunyi suaranya.
Kisah Argus ternyata tidak pernah mati. Ia lahir kembali 3.000 tahun kemudian di Jepang dengan nama Hachiko.
Hachiko adalah anjing Akita yang tiap sore menunggu tuannya, Profesor Ueno, di Stasiun Shibuya, Tokyo. Selama 9 tahun, 9 bulan, 15 hari. Bahkan setelah tuannya meninggal, Hachiko tetap datang.
Sama seperti Argus, Hachiko menunggu tanpa tahu apakah yang ditunggu akan kembali. Sama-sama setia pada bau, suara, dan kebiasaan. Sama-sama diabaikan orang sekitar, sampai akhirnya dunia menoleh.
Kini Patung Hachiko berdiri di depan Stasiun Shibuya. Titik temu paling ramai di Tokyo, tapi semua orang berhenti sejenak di sana. Patung Hachiko yang satu lagi ada di Universitas Tokyo, tempat Profesor Ueno mengajar.
Argus tidak punya patung. Tapi ia punya lukisan Rivière dan adegan Nolan. Fungsinya sama: membuat kita berhenti dan ingat.
Argus dan Hachiko mengajarkan 3 hal:
1. Kesetiaan tidak butuh kemewahan. Bisa di atas jerami, bisa di trotoar stasiun.
2. Kesetiaan tidak butuh kata. Satu kibasan ekor, satu tatapan cukup.
3. Kesetiaan punya akhir yang indah. Ia selesai setelah misinya tuntas: memastikan yang dicintai "pulang".
Dunia punya banyak kisah pahlawan. Tapi dunia juga butuh kisah penunggu. Baik Argus di Ithaca, maupun Hachiko di Shibuya, mereka mengingatkan kita bahwa keberanian terbesar bukan menyerang. Tapi menunggu. Kalau Dolce Vita adalah seni menikmati hidup, maka Argus dan Hachiko adalah seni menunggu orang yang kita cintai pulang.
Dan di antara semua karakter Odyssey, hanya Argus yang tidak pernah diuji. Ia lulus sejak awal. Sama seperti Hachiko.

Komentar