Rabu, 08 Juli 2026 | 02:17
OPINI

Indeks Kebahagiaan

Indeks Kebahagiaan
Ilustrasi indeks kebahagiaan (Dok Askara)

OLEH: JAYA SUPRANA

ASKARA - Bhutan  tergores dengan tinta emas pada lembaran sejarah dunia sebagai negara pelopor indeks kebahagiaan . Ketika menjelang akhir abad XX, Perdana Menteri Bhutan memperkenalkan indeks kebahagiaan (Gross National Happiness) sebagai alternatif ukuran pembangunan kepada Persatuan Bangsa Bangsa maka dunia mulai tertarik kepada indeks  kebahagiaan. Para cendekiawan sibuk melakukan penelitian dan pengembangan dan pemerintah melakukan ikhtiar sistematis untuk membentuk kebijakan sosial demi meningkatlan indeks kebahagiaan sebagai alternatif terhadap kapitalisme liberal yang sudah terbukti menyengsarakan rakyat di seluruh dunia.

Persatuan Bangsa-Bangsa begitu terkesan atas indeks kebahagiaan sehingga menyelenggarakan KTT Kebahagiaan serta mendeklarisasikan tanggal 20 Maret sebagai International Day of Happiness (Hari Kebahagiaan Sedunia).  Gerakan kebahagiaan kemudian melanda planet bumi abad XXI. Universitas Yale menyatakan bahwa kelas paling popular bagi para mahasiswa adalah kelas pedoman hidup bahagia sementara kementerian pendidikan India resmi menerapkan kurikulum mata pelajaran kebahagiaan di segenap sekolah negeri India terinspirasi oleh indeks kebahagiaan Bhutan. 

Kemudian PBB sempat menyelenggarakan riset tentang indeks kebahagiaan di setiap negara anggota PBB di mana ternyata Norwegia menduduki tingkat teratas sementara Amerika Serikat ranking ke 14 dan Bhutan yang semula dianggap negara paling bahagia di dunia harus puas berada pada posisi ke 47.

Saya menghargai serta menghormati karsa upaya pemerintah kerajaan Bhutan membahagiakan rakyat Bhutan . Namun di sisi lain saya pribadi tidak pernah percaya pada pengukuran kecerdasan maka pada hakikatnya juga skeptis bahwa kebahagiaan bisa diukur untuk dijadikan indeks kebahagiaan apalagi untuk suatu bangsa dan negara yang masing masing memiliki kaidah kebahagiaan saling beda satu dengan lain-lainnya. Saya tidak pernah berani menulis buku sebagai pedoman kebahagiaan bagi seluruh insan manusia sebab kebahagiaan bagi saya belum tentu sama dengan kebahagiaan bagi anda atau dia apalagi mereka. Bahkan ada manusia yang merasa bahagia apabila berhasil membuat orang lain merasa tidak bahagia.

Dalam soal merasa bahagia manusia memang multi kompleks sebab ada pula manusia yang merasa bahagia apabila dia merasa tidak bahagia.  Bagi saya, mustahil kebahagiaan sebagai suatu bentuk perasaan yang pada dasarnya bersifat subyektif bisa begitu saja dipaksakan untuk dipukul rata menjadi obyektif alias sama dan sebangun bagi semua orang. Berdasar segenap kesadaran tersebut maka saya hanya berani menulis buku “Pedoman Menuju Tidak Bahagia”  yang diterbitkan oleh Elex Media Komputindo dari grup Gramedia.

Sempat terberitakan bahwa konon pemerintah Bhutan pernah melarang warga Bhutan memeluk agama bukan Buddha. Bahkan penguasa kerajaan Bhutan sempat memaksa warga Bhutan yang kebetulan umat Hindu untuk memilih antara pindah agama ke Buddhisme atau meninggalkan Bhutan demi pindah ke negara lain. Apabila berita itu benar adanya maka wajar apabila saya sebagai warga Indonesia merasa jauh lebih bahagia hidup di Indonesia ketimbang di Bhutan. Sudah menjadi keyakinan bagi saya yang memang de facto dan de jure warga negara Indonesia, bahwasanya pada indeks kebahagian, Indonesia menduduki posisi teratas.

Dirgahayu Hari Kabahagiaan Sedunia yang semoga dirayakan  bukan hanya terbatas pada tanggal 20 Maret saja namun pada setiap hari pada setiap bulan serta setiap tahun, umat manusia merayakan hari kebahagiaan. Karena pada hakikatnya di lubuk terdalam sanubari, setiap insan manusia mendambakan kebahagiaan. Tidak ada orang waras yang mendambakan ketidak-bahagiaan.

Maka Ismail Marzuki menulis lirik lagu Indonesia Pusaka : Di Sana Tempat Lahir Beta, Dibuai Dibesarkan Bunda, Tempat Berlindung Di Hari Tua, Tempat Akhir Menutup Mata.

 

Komentar