Senin, 29 Juni 2026 | 21:46
MILITER

TB Hasanuddin Desak Pemerintah Evaluasi Total Latsarmil Program SPPI KDMP

TB Hasanuddin Desak Pemerintah Evaluasi Total Latsarmil Program SPPI KDMP
Peserta calon manager KDMP tengah digembleng Latsarmil. (Dok)

ASKARA-Pemerintah didesak evaluasi total terhadap pelaksanaan Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) dalam Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) bagi calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP).

Pasalnya, akibat digembleng Latsarmil tersebut lima peserta meninggal dunia selama mengikuti pelatihan.

Desakan itu disampaikan Anggota Komisi I DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Mayjen TNI (Purn) TB Hasanuddin, di gedung DPR, Senayan, Senin (29/6/2026).

Dia mengakui pelatihan untuk meningkatkan kapasitas calon pengelola koperasi tetap diperlukan. Namun, pihaknya menilai pendekatan latihan dasar kemiliteran sudah tidak relevan apabila justru menimbulkan korban jiwa.

“Pelatihan manajemen koperasi harus tetap berjalan karena sangat dibutuhkan. Namun latihan dasar kemiliteran yang justru merenggut nyawa peserta sudah saatnya dihentikan dan diganti dengan metode pembinaan yang lebih relevan dengan tugas mereka,” kata TB Hasanuddin.

Berdasarkan data Kementerian Pertahanan hingga Sabtu (27/6/2026), jumlah peserta SPPI yang meninggal dunia telah mencapai lima orang. Korban terbaru diketahui bernama Nola Dya Sari dari Nola Dya Sari dari Satdik Dodik Bela Negara Kalimantan.

Menurut TB Hasanuddin, materi Latsarmil sebenarnya tidak selaras dengan kebutuhan kompetensi calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih. Apalagi, tugas utama para peserta adalah mengelola koperasi secara profesional, memperkuat tata kelola organisasi, mengembangkan usaha, serta mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat.

"Kurikulum pelatihan seharusnya lebih diarahkan pada penguatan kemampuan manajerial, kepemimpinan, kewirausahaan, akuntansi, serta tata kelola keuangan koperasi. Sementara latihan fisik berintensitas tinggi tidak memiliki keterkaitan langsung dengan tanggung jawab para calon manajer dan berpotensi membahayakan keselamatan peserta," jelasnya.

TB Hasanuddin yang juga mantan perwira tinggi TNI AD tersebut berharap insiden yang menewaskan lima peserta menjadi momentum bagi pemerintah untuk mengevaluasi secara menyeluruh desain Program SPPI, terutama pelaksanaan Latsarmil.

Sebab menurutnya, pembangunan sumber daya manusia harus berjalan beriringan dengan jaminan keselamatan bagi setiap peserta.

“Ironis kan kalau tujuan membangun SDM yang berkualitas justru dibayar dengan hilangnya nyawa peserta. Keselamatan harus menjadi prioritas utama dalam setiap program pendidikan dan pelatihan pemerintah,” ujarnya.

Pihaknya juga mendesak pemerintah segera menyusun metode pembinaan karakter yang lebih aman, proporsional, dan sesuai dengan kebutuhan calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih.

" Dengan demikian, tujuan program untuk mencetak pengelola koperasi yang profesional tetap dapat tercapai tanpa mengorbankan keselamatan peserta," pungkasnya. (Dry)

Komentar