Memahami Hakikat Kehidupan Manusia
ASKARA - Kehidupan sering kali membuat manusia terlena oleh rutinitas, kesibukan, dan berbagai ambisi duniawi. Namun sesungguhnya ada tiga tempat yang mampu membuka mata hati tentang makna hidup yang sebenarnya, yaitu rumah sakit, penjara, dan makam. Ketiga tempat ini mengajarkan bahwa kesehatan, kebebasan, dan kesempatan hidup adalah nikmat yang sangat besar yang sering dilupakan hingga nikmat itu berkurang atau bahkan hilang sama sekali.
Banyak manusia mengukur kebahagiaan dengan harta, jabatan, popularitas, atau kemewahan. Padahal ukuran kebahagiaan yang sesungguhnya sering kali baru disadari ketika seseorang kehilangan sesuatu yang selama ini dianggap biasa. Karena itulah Allah Subhanahu wa Ta'ala menghadirkan berbagai peristiwa dan tempat yang menjadi sarana perenungan agar manusia kembali memahami siapa dirinya, dari mana ia berasal, untuk apa ia hidup, dan ke mana ia akan kembali.
Rumah sakit adalah tempat pertama yang dapat mengajarkan manusia tentang betapa berharganya kesehatan. Ketika seseorang berada dalam keadaan sehat, ia dapat berjalan, bekerja, beribadah, berkumpul bersama keluarga, dan menikmati berbagai karunia Allah tanpa hambatan. Namun ketika sakit datang, semua kenikmatan itu terasa berbeda. Makanan yang lezat tidak lagi menggugah selera. Tempat tidur yang nyaman tidak mampu menghilangkan rasa nyeri. Harta yang banyak pun tidak selalu mampu membeli kesehatan yang hilang.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
﴿ وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ ﴾
"Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku." (QS. Asy-Syu'ara: 80)
Ayat ini mengingatkan bahwa kesehatan bukanlah hasil kekuatan manusia semata. Semua berasal dari Allah dan hanya Allah yang mampu mengembalikan kesehatan ketika penyakit datang. Karena itu, orang yang sehat hendaknya tidak sombong dengan kekuatannya. Ia seharusnya bersyukur dengan mempergunakan tubuhnya untuk ketaatan, bukan untuk kemaksiatan.
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
"Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu padanya, yaitu kesehatan dan waktu luang." (HR. Bukhari)
Betapa sering manusia menunda ibadah ketika sehat. Betapa banyak kesempatan berbuat baik yang disia-siakan karena merasa masih memiliki waktu panjang. Padahal kesehatan dapat berubah menjadi sakit dalam hitungan detik dan usia dapat berakhir tanpa pemberitahuan.
Tempat kedua yang mengajarkan makna kehidupan adalah penjara. Di sana seseorang akan memahami betapa mahalnya kebebasan. Kebebasan untuk berjalan, berkumpul dengan keluarga, melihat langit terbuka, bekerja, belajar, dan beribadah dengan leluasa merupakan nikmat yang luar biasa. Banyak orang baru menyadari nilai kebebasan ketika ruang geraknya dibatasi.
Sesungguhnya Islam sangat menghargai kebebasan yang bertanggung jawab. Manusia diberi pilihan untuk menentukan jalan hidupnya, namun setiap pilihan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Karena itu kebebasan bukan berarti hidup tanpa aturan, melainkan menggunakan kesempatan yang diberikan Allah untuk melakukan kebaikan.
Allah berfirman:
﴿ فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ ﴾
"Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya." (QS. Az-Zalzalah: 7-8)
Ayat ini mengajarkan bahwa kebebasan yang dimiliki manusia bukanlah tanpa batas. Setiap perkataan, tindakan, dan keputusan akan dipertanggungjawabkan. Oleh sebab itu, orang yang berakal akan menggunakan kebebasannya untuk mendekatkan diri kepada Allah dan menghindari segala hal yang dapat menjerumuskannya kepada penyesalan.
Tempat ketiga yang paling kuat menggugah kesadaran manusia adalah makam. Di sanalah berakhir seluruh perjalanan dunia. Tidak ada lagi perbedaan antara orang kaya dan miskin, pejabat dan rakyat biasa, terkenal ataupun tidak dikenal. Semua akan berbaring di dalam tanah yang sama. Rumah yang megah akan ditinggalkan. Kendaraan mewah tidak akan menemani. Jabatan tinggi tidak akan memberi manfaat. Yang tersisa hanyalah amal.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
﴿ كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۖ ثُمَّ إِلَيْنَا تُرْجَعُونَ ﴾
"Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kemudian hanya kepada Kami kamu dikembalikan." (QS. Al-'Ankabut: 57)
Kematian adalah kepastian yang tidak dapat dihindari. Tidak ada manusia yang mampu melarikan diri darinya. Cepat atau lambat, setiap orang akan menghadapi saat ketika seluruh lembar kehidupannya ditutup dan amal perbuatannya dihitung.
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ
"Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan, yaitu kematian." (HR. Tirmidzi)
Mengingat kematian bukan untuk membuat manusia putus asa, melainkan agar ia hidup lebih bijaksana. Orang yang mengingat kematian akan lebih mudah memaafkan, lebih ringan bersedekah, lebih rajin beribadah, dan lebih berhati-hati dalam berbuat dosa. Ia sadar bahwa setiap detik kehidupan adalah modal yang tidak akan pernah kembali.
Rumah sakit mengajarkan syukur atas kesehatan. Penjara mengajarkan syukur atas kebebasan. Makam mengajarkan syukur atas kesempatan hidup. Ketiganya adalah madrasah kehidupan yang diam namun penuh pelajaran. Orang yang mampu mengambil hikmah dari ketiga tempat tersebut akan melihat dunia dengan pandangan yang berbeda. Ia tidak lagi terlalu mengejar apa yang akan ditinggalkan, tetapi lebih fokus mempersiapkan apa yang akan dibawa menuju akhirat.
Sesungguhnya tanah yang hari ini kita pijak dengan penuh kesombongan suatu hari akan menjadi tempat peristirahatan jasad kita. Karena itu, tidak ada alasan untuk menunda taubat, menunda kebaikan, atau menunda mendekat kepada Allah. Selama nafas masih berhembus, pintu rahmat-Nya masih terbuka. Selama jantung masih berdetak, kesempatan memperbaiki diri masih tersedia.
Marilah kita mensyukuri kesehatan sebelum datang sakit, mensyukuri kebebasan sebelum datang keterbatasan, dan mensyukuri kehidupan sebelum datang kematian. Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang mampu mengambil pelajaran dari setiap peristiwa, memperbanyak amal saleh sebelum ajal tiba, serta mengakhiri kehidupan kita dengan husnul khatimah.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الشَّاكِرِينَ لِنِعَمِكَ، وَمِنَ الْمُحْسِنِينَ فِي أَعْمَالِنَا، وَاخْتِمْ لَنَا بِالْحُسْنَى وَاجْعَلْ قُبُورَنَا رَوْضَةً مِنْ رِيَاضِ الْجَنَّةِ
"Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang senantiasa bersyukur atas nikmat-Mu, termasuk orang-orang yang berbuat baik dalam amal-amalnya, akhirilah kehidupan kami dengan kebaikan, dan jadikan kubur kami sebagai salah satu taman dari taman-taman surga."

Komentar