Senin, 22 Juni 2026 | 03:34
COMMUNITY

Mengalir dari Surau Syathariyah: Kisah Pesantren Sabilil Muttaqien Magetan Penjaga Sanad Diponegoro

Mengalir dari Surau Syathariyah: Kisah Pesantren Sabilil Muttaqien Magetan Penjaga Sanad Diponegoro
Ihtifal XXIV Pesantren Sabilil Muttaqien (dok.psm)

ASKARA - Di antara hamparan sawah dan desir angin lereng Gunung Lawu, sebuah cahaya telah menyala tanpa putus sejak 1943. Namanya Pondok Pesantren Sabilil Muttaqien, atau yang akrab disebut PSM. Beralamat di Jl. Ngladongan RT 01 RW 01, Desa Takeran, Kabupaten Magetan, pesantren ini bukan sekadar bangunan tua dengan santri bersarung. Ia adalah napas sejarah yang terus berdetak, menuntun generasi demi generasi menapaki jalan ilmu, akhlak, dan peradaban.

Berawal dari Tekad Seorang Kiai Pejuang

Tanggal 16 September 1943, di tengah gelapnya masa penjajahan Jepang, Kyai Imam Mursyid Muttaqien menancapkan tonggak pertama PSM. Bukan dengan kemewahan, tapi dengan keyakinan: bahwa bangsa yang merdeka harus dimulai dari jiwa yang merdeka, dan jiwa yang merdeka lahir dari pendidikan.

Di sebuah surau sederhana, Kyai Imam Mursyid mulai mengajarkan Al-Qur’an, kitab kuning, dan dzikir tarekat Syathariyah. Tarekat yang ia pilih bukan untuk menjauh dari dunia, melainkan untuk menanamkan eling – kesadaran mendalam kepada Allah – agar setiap santri kelak turun ke masyarakat dengan hati yang bersih dan pikiran yang jernih.

“Pendirian PSM itu bukan hanya membangun pesantren, tapi membangun benteng,” tutur salah satu dzurriyah pengasuh. “Benteng akidah, benteng akhlak, dan benteng kecintaan pada tanah air.”

Merawat Akar, Menumbuhkan Sayap

Kini, Surau kecil itu telah menjelma menjadi komplek pendidikan yang menaungi ribuan mimpi. Yang membuat PSM istimewa adalah keberaniannya untuk berdialektika dengan zaman tanpa kehilangan jati diri.

Di satu sisi, lantunan shalawat dan wirid Syathariyah masih menggema tiap ba’da maghrib. Para santri masih setia mengaji kitab Fathul Qorib, Ta’lim Muta’allim, hingga Ihya’ Ulumuddin di bawah sorot lampu yang sama seperti puluhan tahun silam. Adab kepada kiai, tradisi sorogan, bandongan, dan musyawarah tetap dijaga sebagai ruh pendidikan pesantren.

Di sisi lain, PSM membuka pintu lebar-lebar untuk dunia. Lahirlah Islamic International School PSM (IIS PSM) – wujud nyata bahwa santri tidak boleh gagap teknologi dan tertinggal dalam sains. Di ruang kelas IIS, santri belajar matematika dan fisika dengan bahasa pengantar bilingual, mendiskusikan coding dan AI, sekaligus menghafal Al-Qur’an dan mempraktikkan akhlaqul karimah.

“Ini bukan tentang memilih antara kitab kuning atau laptop,” ujar salah satu ustadz pengajar IIS PSM. “Kyai Imam Mursyid dulu berjuang dengan bambu runcing dan doa. Santri hari ini harus berjuang dengan ilmu agama dan sains. Dua-duanya adalah senjata.”

Santri Mendunia, Tetap Membumi

Hasilnya nyata. Alumni PSM Takeran kini tersebar di berbagai penjuru: ada yang menjadi ulama kharismatik di kampung, pengusaha nasional, dokter, akademisi di Timur Tengah dan Eropa, hingga penggerak sosial. Namun satu benang merah tak pernah putus: tarekat sebagai kompas moral.

Seperti kata Kyai Imam Mursyid dalam salah satu wasiatnya: “Dadio wong sing manfaat. Yen ora bisa dadi menoro sing madhangi jagad, dadio lilin sing madhangi omahmu.” Jadilah orang yang bermanfaat. Jika tak mampu jadi menara yang menerangi dunia, jadilah lilin yang menerangi rumahmu.

Wasiat itu hidup. Di PSM, santri diajarkan bahwa mengejar gelar internasional tak ada artinya jika melupakan tetangga yang kelaparan. Fasih berbahasa Arab dan Inggris tak bermakna jika tak mampu menyapa orang tua dengan santun.

Dari Ngladongan untuk Indonesia

Di usia yang ke-83, PSM Sabilil Muttaqien bukan lagi sekadar milik Takeran. Ia adalah cermin bahwa pesantren bisa menjadi kawah candradimuka peradaban: tempat lahirnya manusia yang ahli dzikir, ahli pikir, dan ahli ikhtiar.

Di tengah derasnya arus modernisasi yang kadang mencabut manusia dari akarnya, PSM berdiri tegak memberi teladan. Bahwa menjadi modern tidak harus menjadi ‘kebarat-baratan’. Bahwa menjaga tradisi bukan berarti anti kemajuan.

Dari Jl. Ngladongan yang sederhana, PSM terus mengirim pesan kepada Indonesia: masa depan bangsa ini akan cerah jika generasi mudanya memiliki kepala yang berisi ilmu, dada yang lapang dengan iman, dan tangan yang terampil bekerja untuk umat.

Karena sesungguhnya, seperti nama yang disematkan sang pendiri, Sabilil Muttaqien – Jalan Orang-orang yang Bertakwa – adalah jalan panjang yang tak pernah usang. Jalan yang dimulai 16 September 1943, dan insyaAllah akan terus dilalui hingga akhir zaman.

Sejarah PSM

146 Tahun Pesantren Penjaga Sanad Diponegoro

Sebut “PSM” di luar Madiun-Magetan, orang akan langsung menunjuk ke Makassar, ke lapangan hijau. Namun bagi warga di kaki Gunung Lawu, PSM punya makna lain: Pondok Pesantren Sabilil Muttaqien. Bukan klub bola, melainkan benteng tauhid berusia 146 tahun yang lahir dari pelarian Perang Jawa, tumbuh dalam dzikir Syathariyah, dan kini menatap dunia tanpa melepas sarung.

1. Titik Nol: Dari Tegalrejo ke Takeran, Jejak Darah Diponegoro  

Jauh sebelum 16 September 1943 yang sering dicatat sebagai “kelahiran” PSM, cikal bakalnya sudah ada sejak 1303 H atau sekitar 1880 M. Pondok ini dirintis Kyai Hasan Ulama bersama Kyai Muhammad Ilyas, dua ulama sufi yang disegani di Takeran.

Siapa Kyai Hasan Ulama? Ia bukan kiai biasa. Ayahnya, Kyai Khalifah atau Pangeran Kertapati, ikut mengangkat senjata bersama Pangeran Diponegoro melawan VOC. Saat perang meredup, Kyai Hasan Ulama melarikan diri ke timur. Sempat membangun langgar di Tegalrejo, Ponorogo, ia akhirnya menetap di Takeran dan mendirikan “Pondok Takeran”.

Dengan metode bandongan, sorogan, dan wetonan, Kyai Hasan Ulama menjadi mursyid tarekat Syathariyah. Langgar itu bukan hanya tempat mengaji, tapi ruang menata batin umat yang porak-poranda oleh kolonialisme. Ia memimpin hingga wafat pada 1920.

2. Empat Generasi, Satu Sanad  

Tongkat kepemimpinan berlanjut ke Kyai Imam Muttaqien, putra Kyai Hasan Ulama. Corak salafiyah murni tetap dijaga hingga beliau wafat 1936.

Titik balik terjadi di tangan generasi ketiga: Kyai Imam Mursyid Muttaqien. Di tengah pendudukan Jepang, 16 September 1943, beliau memodernisasi Pondok Takeran menjadi Pondok Pesantren Sabilil Muttaqien (PSM). Madrasah dan sekolah formal mulai dibuka. Namun satu hal tak diubah: Syathariyah tetap jadi jantung spiritual pesantren. Tradisi mujahadah taubat dan wirid malam tak pernah padam.

Dari pelarian, menjadi pondok, lalu menjadi pesantren modern. Tapi DNA-nya sama: tasawuf sebagai benteng, ilmu sebagai senjata.

3. Di Mana PSM? Petunjuk Jalan untuk yang Rindu Sanad  

PSM terletak di Jl. Ngladongan RT 01 RW 01, jantung Kecamatan Takeran, Magetan. Jaraknya 16 km dari pusat Magetan, 9 km dari Kota Madiun.

• Dari Madiun: Ambil jalan raya arah Goranggareng.   

• Dari Magetan: Menuju Goranggareng, lanjut arah Madiun.   

• Dari Maospati & Ponorogo: Ikuti jalur Goranggareng. Dari Ponorogo bisa lewat Madiun kota atau jalur Lembeyan-Goranggareng lalu belok ke Madiun.  

Mudah dijangkau, tapi tak banyak dikenal di luar Mataraman. Karena itu, PSM lebih sering dikira klub bola ketimbang pesantren.

4. Visi Misi: Dakwah dengan Dua Sayap  

Pedoman pesantren dalam Risalah Peraturan Umum menegaskan tujuan PSM: “memancarkan pendidikan Islam seluas-luasnya, melahirkan jiwa yang cakap dan tinggi kepahamannya tentang Islam.”

Caranya? Mendirikan lembaga formal dan tradisional sekaligus. Santri PSM hari ini bisa kuliah kitab Ihya’ Ulumuddin pagi hari, sore belajar di Islamic International School PSM dengan kurikulum global. Tapi setiap malam Jumat, mereka tetap mujahadah taubat, seperti diwasiatkan para pendahulu. Modernisasi tanpa tercerabut dari akar.

8 Wasiat Kyai Hasan Ulama

Yang membuat PSM beda adalah 8 pitutur luhur dari pendirinya. Ini bukan sekadar slogan, tapi kurikulum karakter:

1. Ojo kepingin sugih, lan ojo wedi mlarat – Jangan mimpi kaya, jangan takut miskin.   2. Pilih ngendi, sugih tanpo iman opo mlarat ananging iman – Pilih kaya tanpa iman atau miskin tapi beriman?   

3. Ojo demen ngudi pengaruhing pribadi... Topo ngrame lakonono – Jangan cari pengaruh pribadi. Rawat yang ada dengan sungguh. Jangan silau dunia. Kanuragan bukan tujuan. Lakukan tapa ngrame: ramai dalam kesunyian, khusyuk di tengah keramaian.   

4. Sumber bening ora bakal golek timbo – Sumber jernih tak akan mencari timba. Kebaikan sejati akan didatangi, bukan dijajakan.   

5. Ojo demen owah-owah tatanan poro sepuh... – Jangan ubah tatanan leluhur. Tugas kita merawat dan melestarikan.   

6. Ojo demen nyunggi katoke mbahe, amal sholeh tindakno – Jangan hanya bangga membawa “celana kakek”. Kerjakan amal sholeh.   

7. Nyawiji naliko nindakake kautamaan, pisah ing dalem kemaksiatan... – Bersatu dalam kebaikan, berpisah dari maksiat. Kelak anak cucu ada yang temukan emas sebesar ayam jago, tapi hanya sebatas itu imannya.   

8. Ora liwat anak putuku sing guyub rukun... tak pangestoni slamet ndonyo akhirat – Cucu-cucuku yang rukun dan meramaikan masjid, ku doakan selamat dunia akhirat.   

9. Ojo kendat tansah nindakake mujahaddah taubat... – Jangan lupa selalu mujahadah taubat seperti diajarkan guru.

PSM, Sumber Bening dari Takeran  

146 tahun PSM membuktikan satu hal: pesantren bukan anti-perubahan. Dari era Diponegoro, kolonial, kemerdekaan, hingga era digital, PSM terus beradaptasi. Nama boleh berganti dari Pondok Takeran ke PSM, metode boleh ditambah sekolah formal, tapi wasiat “sumber bening ora bakal golek timbo” tetap dijaga.

Maka jika suatu hari Anda melintas Goranggareng, menepilah ke Ngladongan. Di sana ada “PSM” yang tak main bola, tapi mencetak penjaga gawang akidah. Ada sumber bening yang tak pernah habis, karena ia tak pernah mengejar timba. Ia hanya setia mengalirkan ilmu, dari Takeran untuk Indonesia.

Komentar