Rabu, 22 Juli 2026 | 21:08
COMMUNITY

Dari Satu Guru Lahir Tiga Jalan Bangsa

Dari Satu Guru Lahir Tiga Jalan Bangsa
Ilustrasi

ASKARA - Pada awal abad ke-20, sebuah rumah sederhana di Gang Peneleh, Surabaya, menjadi ruang pertemuan gagasan yang kelak mengubah sejarah Indonesia. Rumah milik H.O.S. Tjokroaminoto itu bukan sekadar tempat tinggal. Di sana, para pemuda berdiskusi tentang kolonialisme, kemerdekaan, agama, keadilan sosial, dan masa depan Hindia Belanda. Salah seorang penghuni rumah itu adalah Soekarno. Penghuni lainnya adalah Musso dan Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo. Tidak ada yang menyangka bahwa dari atap yang sama akan lahir tiga jalan perjuangan yang kelak saling berhadapan dalam sejarah bangsa.

Keberadaan rumah Tjokroaminoto sebagai tempat berkumpulnya para aktivis pergerakan telah banyak dicatat dalam berbagai sumber sejarah. Historia.id dalam artikel "Rumah Raja Tanpa Mahkota" yang terbit 18 Juli 2011 menjelaskan bahwa rumah di Gang Peneleh pernah menjadi tempat tinggal sejumlah tokoh muda dari beragam latar ideologi, termasuk Soekarno, Musso, dan Kartosuwiryo. Sementara Kompas.com melalui artikel "Oemar Said Tjokroaminoto: Kehidupan, Peran, dan Gerakan Islam" yang dipublikasikan 2 Juni 2021 menegaskan posisi Tjokroaminoto sebagai pemimpin Sarekat Islam dan guru politik bagi banyak tokoh pergerakan nasional. 0

Tjokroaminoto hidup pada masa ketika kolonialisme Belanda menghadapi tantangan baru. Pendidikan modern mulai melahirkan kelompok terpelajar pribumi yang mempertanyakan ketidakadilan politik dan ekonomi. Sarekat Islam yang dipimpinnya berkembang menjadi organisasi massa terbesar pada zamannya. Melalui pidato, tulisan, dan pendidikan politik, Tjokroaminoto mengajarkan pentingnya harga diri bangsa, kesadaran sosial, serta keberanian menentang penindasan. Banyak sejarawan menyebutnya sebagai salah satu guru politik paling berpengaruh dalam sejarah Indonesia. 1

Namun sejarah menunjukkan bahwa pendidikan tidak pernah menghasilkan manusia yang seragam. Murid menerima pelajaran yang sama, tetapi menafsirkan dunia melalui pengalaman hidup yang berbeda. Dalam kasus rumah Peneleh, perbedaan itu bahkan berkembang menjadi perbedaan ideologi yang sangat tajam.

Soekarno tumbuh menjadi tokoh nasionalisme Indonesia. Dari Tjokroaminoto ia belajar teknik berpidato, organisasi politik, dan kemampuan membaca suasana rakyat. Akan tetapi, Soekarno kemudian mengembangkan gagasannya sendiri tentang kebangsaan Indonesia. Ia berusaha mempersatukan berbagai kelompok yang berbeda agama, suku, dan pandangan politik ke dalam satu identitas nasional. Baginya, kemerdekaan hanya dapat dicapai apabila seluruh kekuatan bangsa bergerak bersama.

Pilihan Soekarno tidak lahir dalam ruang kosong. Ia menyaksikan langsung bagaimana politik pecah belah kolonial sering memanfaatkan perbedaan identitas untuk melemahkan gerakan rakyat. Karena itu, nasionalisme menjadi alat pemersatu yang dianggap paling mungkin digunakan untuk menghadapi kekuatan kolonial yang jauh lebih besar. Gagasan tersebut kemudian menjadi salah satu fondasi berdirinya Republik Indonesia pada tahun 1945.

Musso memilih jalan yang berbeda. Ia melihat kemiskinan dan ketimpangan sosial sebagai masalah utama yang harus diselesaikan. Pengaruh sosialisme dan komunisme internasional membuatnya meyakini bahwa perjuangan kemerdekaan tidak cukup hanya mengganti penguasa kolonial dengan elite nasional. Menurut pandangannya, struktur ekonomi dan hubungan kelas juga harus diubah secara mendasar.

Perbedaan itu makin terlihat ketika Indonesia memasuki masa revolusi. Saat sebagian tokoh nasional berusaha mempertahankan negara yang baru berdiri, Musso mendorong perubahan sosial yang lebih radikal. Konflik politik yang berkembang pada akhir dekade 1940-an akhirnya berujung pada Peristiwa Madiun 1948, salah satu episode paling kontroversial dalam sejarah Indonesia. Musso tewas dalam operasi militer setelah peristiwa tersebut.

Jika Soekarno mewakili nasionalisme dan Musso mewakili sosialisme revolusioner, maka Kartosuwiryo bergerak ke arah yang lain. Ia memandang bahwa kemerdekaan politik belum cukup apabila kehidupan bernegara tidak dibangun berdasarkan ajaran Islam. Dari pemikiran inilah kemudian berkembang gagasan Negara Islam Indonesia yang kelak melahirkan gerakan Darul Islam.

Kartosuwiryo sebenarnya memiliki latar belakang yang dekat dengan Sarekat Islam. Akan tetapi, pengalaman politik pada masa revolusi dan kekecewaan terhadap berbagai kompromi politik membuatnya mengambil jalan yang berbeda dari Republik. Konflik panjang antara Darul Islam dan pemerintah berlangsung selama bertahun-tahun sebelum akhirnya Kartosuwiryo ditangkap dan dieksekusi pada tahun 1962.

Di sinilah letak ironi sejarah Indonesia. Dari satu rumah lahir seorang Presiden Republik Indonesia, seorang pemimpin gerakan komunis, dan seorang pemimpin gerakan Negara Islam. Mereka pernah duduk di ruang yang sama, mendengarkan guru yang sama, dan berbicara tentang cita-cita yang sama: membebaskan rakyat dari penindasan.

Akan tetapi, apakah perbedaan nasib mereka menunjukkan kegagalan Tjokroaminoto sebagai pendidik? Banyak sejarawan justru melihat sebaliknya. Tjokroaminoto tidak mendidik murid untuk menjadi pengikut yang berpikir seragam. Ia mengajarkan keberanian berpikir, kemampuan berorganisasi, dan kesadaran terhadap persoalan masyarakat. Ketika para murid itu menghadapi realitas sejarah yang berbeda, mereka mengambil kesimpulan yang berbeda pula.

Faktor lingkungan juga memainkan peranan besar. Soekarno hidup dalam pergulatan nasionalisme antikolonial yang berkembang di berbagai negara Asia. Musso banyak dipengaruhi arus komunisme internasional setelah Revolusi Rusia 1917. Sementara Kartosuwiryo bergerak dalam tradisi politik Islam yang berkembang di lingkungan Sarekat Islam dan berbagai gerakan pembaruan Islam pada awal abad ke-20. Dengan kata lain, perbedaan ideologi mereka bukan semata-mata hasil pendidikan seorang guru, melainkan hasil pertemuan antara pendidikan, pengalaman hidup, lingkungan sosial, dan dinamika zaman.

Karena itu, pertanyaan paling menarik dari kisah ini bukanlah siapa yang paling benar di antara Soekarno, Musso, dan Kartosuwiryo. Pertanyaan yang lebih penting adalah mengapa manusia yang belajar dari sumber yang sama dapat sampai pada kesimpulan yang sangat berbeda. Sejarah rumah Peneleh memperlihatkan bahwa pendidikan memberi arah, tetapi tidak menentukan seluruh perjalanan seseorang. Pada akhirnya, setiap manusia tetap memilih jalannya sendiri.

Rumah Tjokroaminoto di Gang Peneleh tidak hanya melahirkan tokoh-tokoh besar. Rumah itu juga meninggalkan pelajaran penting tentang bangsa Indonesia. Bahwa perbedaan gagasan merupakan bagian dari sejarah kita sejak awal. Bahwa ideologi, keyakinan, dan cita-cita dapat tumbuh dari akar yang sama. Dan bahwa perjalanan sejarah sering kali dibentuk bukan oleh keseragaman, melainkan oleh perdebatan panjang tentang masa depan yang dianggap paling benar oleh masing-masing generasi.

Komentar