Rabu, 22 Juli 2026 | 00:03
COMMUNITY

Pegiat Media Gereja Didorong Adaptif Hadapi Tantangan AI dan Era Digital

Pegiat Media Gereja Didorong Adaptif Hadapi Tantangan AI dan Era Digital
Seluruh peserta PKSN XIII berpoto bersama saat seremoni pembukaan, Selasa (26/05/2026). (Dok Komsos KAP)

ASKARA - Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI) menjadi tantangan baru bagi pengelola media Gereja Katolik di Indonesia. Di sisi lain, persoalan klasik seperti keterbatasan dana, minimnya relawan terampil, hingga tingginya pergantian pengelola media masih menjadi pekerjaan rumah bagi Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) di berbagai keuskupan.

Hal tersebut mengemuka dalam hari ketiga Perayaan Komunikasi Sosial Nasional (PKSN) XIII Tahun 2026 di Pontianak, Kamis (28/5/2026), yang diikuti para Ketua Komisi Komsos dari 18 keuskupan di Indonesia.

Dalam forum tersebut, para peserta membahas Draft Pedoman Umum Pastoral Komsos sebagai panduan tata kelola pelayanan komunikasi Gereja di tingkat keuskupan, mulai dari dasar teologis, penguatan spiritualitas pelayanan, hingga strategi menghadapi perkembangan media digital dan AI.

Sekretaris Komisi Komsos Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), RD Petrus Noegroho Agoeng, mengatakan setiap Komsos keuskupan harus mampu membaca persoalan di wilayah masing-masing dan menghadirkan solusi yang sesuai dengan kebutuhan lokal.

Menurutnya, tantangan klasik yang masih dihadapi antara lain keterbatasan sumber daya manusia, belum meratanya relawan yang memiliki kemampuan media, serta persoalan pendanaan operasional.

“Masalah keterbatasan dana dan kebingungan membangun tata kelola organisasi masih sering menjadi hambatan. Karena itu perlu kepercayaan terhadap potensi umat, membangun komunikasi yang baik dengan Bapa Uskup, serta mengembangkan dukungan publik melalui konsistensi karya media,” ujar Agoeng.

Sementara itu, Ketua Komisi Komsos KWI, Mgr Agustinus Tri Budi Utomo atau Mgr Didik, menegaskan bahwa Komsos Gereja harus mampu menjaga sisi kemanusiaan di tengah derasnya arus teknologi digital.

Ia mengingatkan agar pegiat Komsos tidak menjadi kelompok eksklusif, melainkan hadir sebagai komunitas yang terbuka dan aktif memberdayakan Orang Muda Katolik (OMK).

“Komsos harus menjadi wajah Gereja yang ramah dan membangun kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk insan pers lokal, demi memperkuat pewartaan,” kata Mgr Didik.

Selain diskusi strategis, peserta PKSN XIII juga mengikuti berbagai workshop keterampilan media, mulai dari jurnalistik, podcast, video, hingga konten kreatif.

Pada kelas jurnalistik, peserta mendapat pembekalan mengenai teknik peliputan dan penulisan berita, termasuk pentingnya disiplin verifikasi informasi di era AI.

“AI hanya alat bantu. Jurnalis tetap harus melakukan verifikasi dan menjaga akurasi informasi,” tegas wartawan senior The Jakarta Post, Kornelius Purba, yang menjadi mentor dalam workshop tersebut.

Di kelas podcast dan video, peserta dilatih teknik berbicara di depan kamera, produksi dokumenter pendek, hingga penyusunan konsep konten yang menarik dan komunikatif.

Sementara pada kelas konten kreatif, peserta diajak memahami penggunaan AI secara bijak untuk mendukung produksi komunikasi Gereja tanpa kehilangan nilai etika dan validitas informasi.

Literasi digital dalam PKSN XIII juga menyasar kalangan keluarga melalui seminar khusus bagi kelompok ibu-ibu. Dalam sesi tersebut, peserta mempraktikkan penggunaan AI untuk membuat poster UMKM, pengumuman paroki, hingga materi katekese sederhana.

Kegiatan PKSN XIII menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan kapasitas bagi para pegiat media Gereja agar mampu menjawab tantangan zaman dan tetap menghadirkan komunikasi yang humanis, edukatif, serta relevan di era digital.

 

Komentar