Kamis, 04 Juni 2026 | 04:50
COMMUNITY

Detara Foundation Dorong Pelajar Jadi Agen Perubahan Hadapi Krisis Iklim

Detara Foundation Dorong Pelajar Jadi Agen Perubahan Hadapi Krisis Iklim
Sebanyak 64 siswa tingkat SMP, SMA, SMK, dan MA dari 14 sekolah di wilayah Bogor, Jakarta, dan Tangerang mengikuti kegiatan School-Led Climate Action for Resilience and Innovation (Dok Yudi)

ASKARA - Upaya membangun kesadaran lingkungan di kalangan generasi muda terus diperkuat melalui program School-Led Climate Action for Resilience and Innovation yang digagas Detara Foundation bersama Global Exploration dan Wilde Ganzen.

Program tersebut diperkenalkan dalam kegiatan “Jelajahi Bentang Alam: Aksi Nyata Generasi Muda Atasi Perubahan Iklim” yang menjadi bagian dari Festival Raksha Loka 2026 di M-Bloc Space, Jakarta Selatan, Sabtu (23/5/2026)

Sebanyak 64 siswa tingkat SMP, SMA, SMK, dan MA dari 14 sekolah di wilayah Bogor, Jakarta, dan Tangerang mengikuti kegiatan yang mengedepankan pembelajaran berbasis pengalaman langsung atau experiential learning.

Melalui kolaborasi dengan GEF Small Grants Programme (SGP) Indonesia, para peserta diajak mengenal berbagai praktik konservasi dan aksi iklim dari empat bentang alam prioritas di Indonesia, yakni DAS Bodri di Jawa Tengah, DAS Balantieng di Sulawesi Selatan, Suaka Margasatwa Nantu dan Tahura BJ Habibie di Gorontalo, serta Pulau Sabu Raijua di Nusa Tenggara Timur.

Direktur Detara Foundation, Latipah Hendarti, mengatakan pendidikan perubahan iklim perlu dibangun melalui pengalaman nyata agar lebih mudah dipahami generasi muda.

“Anak-anak muda membutuhkan ruang belajar yang dekat dengan realitas kehidupan mereka. Ketika mereka bertemu langsung dengan para penjaga bentang alam dan melihat praktik konservasi di lapangan, mereka memahami bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari kehidupan sehari-hari,” ujar Latipah, dalam keterangan yang diterima Rabu (27/5/2026).

Dalam kegiatan tersebut, peserta tidak hanya mengikuti pemaparan materi, tetapi juga mengunjungi booth tematik, berdiskusi dengan komunitas lokal, mengamati praktik pengelolaan lingkungan, hingga menyusun gagasan aksi iklim yang dapat diterapkan di sekolah masing-masing.

Berbagai isu yang diangkat meliputi konservasi air dan daerah aliran sungai, energi terbarukan, pengelolaan sampah, ekonomi sirkular, keanekaragaman hayati, hingga pangan berkelanjutan.

Salah satu inovasi yang menarik perhatian peserta adalah demonstrasi pembangkit listrik sederhana berbasis sepeda bekas yang dilengkapi generator dinamo untuk mengisi daya telepon genggam.

Inovasi tersebut menunjukkan bahwa solusi energi ramah lingkungan dapat dimulai dari teknologi sederhana dan mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Adit, siswa SMA Al Ghazali Kota Bogor, mengaku mendapatkan perspektif baru mengenai isu perubahan iklim setelah mengikuti kegiatan tersebut.

“Saya baru sadar kalau perubahan iklim itu dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Dari sini saya belajar bahwa menjaga sungai, mengurangi sampah, dan menanam pohon adalah langkah kecil yang punya dampak besar,” ujarnya.

Ia juga mengaku tertarik dengan konsep ekonomi sirkular dan pengolahan sampah yang diperkenalkan dalam kegiatan tersebut.

“Biasanya kami hanya belajar teori dari buku. Di sini kami bisa melihat langsung bagaimana sampah bisa diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat,” katanya.

Sementara itu, salah satu guru pendamping dari SMA di Jakarta menilai kegiatan tersebut efektif dalam memperkuat pendidikan lingkungan di sekolah.

“Kegiatan seperti ini membuat siswa tidak hanya menerima informasi, tetapi juga belajar berpikir kritis dan mencari solusi atas persoalan lingkungan di sekitar mereka,” ujarnya.

Selain mengedepankan pembelajaran berbasis aksi, program ini juga menerapkan prinsip Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI) dengan memastikan keterlibatan perempuan minimal 40 persen serta membuka ruang partisipasi bagi peserta berkebutuhan khusus.

Sebagai tindak lanjut, para peserta membuat video kampanye singkat tentang solusi iklim yang dapat diterapkan di sekolah dan membagikannya melalui media sosial dengan tagar #GenerasiPenjagaLoka dan #JelajahBentangAksi.

Kegiatan ditutup dengan pembacaan “Ikrar Generasi Penjaga Loka” sebagai simbol komitmen bersama generasi muda untuk menjaga bumi melalui aksi nyata.

Melalui program School-Led Climate Action for Resilience and Innovation, Detara Foundation bersama Global Exploration, Wilde Ganzen, dan GEF Small Grants Programme Indonesia berharap semakin banyak generasi muda tumbuh menjadi pelopor aksi lingkungan yang mampu membawa perubahan menuju masa depan yang lebih lestari dan tangguh menghadapi krisis iklim.

 

Komentar