Jumat, 03 Juli 2026 | 08:53
COMMUNITY

PMKRI Soroti Perdamaian Papua di Forum Indonesia-Denmark

PMKRI Soroti Perdamaian Papua di Forum Indonesia-Denmark
Ketua Presidium Pengurus Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PP PMKRI) periode 2024-2026, Susana Florika Marianti Kandaimu (Dok Winona)

ASKARA - Ketua Presidium Pengurus Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PP PMKRI) periode 2024-2026, Susana Florika Marianti Kandaimu, menyoroti isu perdamaian dan kemanusiaan di Papua dalam forum Dialog Interfaith 4 Tahun Indonesia–Denmark yang berlangsung di Aula Kantor Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, 4 Mei 2026.

Kehadiran PP PMKRI dalam forum internasional tersebut menjadi bagian dari keterlibatan organisasi mahasiswa dalam mendorong dialog lintas agama serta penguatan nilai-nilai perdamaian antarbangsa.

Dalam kesempatan itu, Susana menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Luar Negeri RI yang telah mengundang PMKRI untuk terlibat dalam dialog internasional tersebut.

“Terima kasih kepada Kementerian Luar Negeri yang telah mengundang PMKRI untuk hadir dan terlibat dalam dialog ini,” ujarnya.

Pada sesi kedua dialog yang membahas isu perdamaian, Susana menyampaikan pandangan terkait kondisi kemanusiaan di Papua. Ia menegaskan bahwa Papua merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), namun masih menghadapi berbagai persoalan yang membutuhkan perhatian bersama.

“Tanah Papua adalah bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Namun hari ini Papua membutuhkan dukungan kita bersama. Banyak pertumpahan darah terjadi, mama-mama meninggal, anak-anak meninggal, dan itu menjadi luka yang terus berlangsung di tanah Papua,” tegas Susana di hadapan peserta dialog.

Dalam forum tersebut, PMKRI juga mendorong agar dialog lintas iman tidak hanya berhenti pada isu toleransi, tetapi diarahkan untuk membuka ruang bersama dalam membangun perdamaian di Papua.

Susana berharap seluruh pihak, mulai dari tokoh agama, pemerintah, hingga komunitas internasional, dapat mengambil peran aktif dalam menciptakan kehidupan masyarakat Papua yang damai, baik dalam kehidupan sosial, bernegara, maupun kehidupan beragama.

Ia juga mengusulkan agar ke depan diselenggarakan dialog khusus yang membahas perdamaian dan kerukunan umat beragama di Papua.

“Harapan kami, ke depan ada dialog khusus yang membahas tentang kedamaian di tanah Papua dan kehidupan umat beragama di Papua, sehingga tercipta ruang bersama untuk membangun perdamaian yang berkelanjutan,” tutupnya.

 

Komentar