Sabtu, 29 Agustus 2026 | 10:05
COMMUNITY

Aceh Kaya Rakyat Sengsara, Mahasiswa ALA Nyatakan Perlawanan Terbuka

Aceh Kaya Rakyat Sengsara, Mahasiswa ALA Nyatakan Perlawanan Terbuka
Tiga narasumber utama, yakni Prof. Rahmad Salam, Armen Desky, dan Zam Zam Mubarak (Dok Mubarak)

ASKARA - Gelombang dukungan terhadap pembentukan Provinsi Aceh Leuser Antara (ALA) kembali menguat. Aspirasi tersebut mengemuka dalam diskusi virtual bertema “Aceh Leuser Antara: Jalan Baru Kesejahteraan atau Tantangan Baru Tata Kelola” yang digelar Aliansi Pemuda Aceh Leuser Antara (ALA), Sabtu (10/5/2026).

Forum tersebut diikuti mahasiswa, pemuda, aktivis, dan tokoh masyarakat Aceh kawasan tengah dari berbagai daerah di Indonesia sebagai ruang konsolidasi perjuangan pembentukan Provinsi ALA.

Kegiatan ini diprakarsai Ketua Ikatan Mahasiswa Gayo Lues (IMGL) Jabodetabek, Tiro Irawan, bersama Ikatan Pemuda Mahasiswa Aceh Tenggara (IPMAT), Ikatan Mahasiswa Subulussalam dan Aceh Singkil, BEMPes DKI Jakarta, serta Aliansi Pemuda Aceh Leuser Antara.

Dalam forum tersebut, para peserta menilai masyarakat kawasan tengah Aceh selama ini masih menghadapi ketimpangan pembangunan meski Aceh dikenal sebagai daerah kaya sumber daya alam.

Tiga narasumber utama, yakni Prof. Rahmad Salam, Armen Desky, dan Zam Zam Mubarak, menegaskan bahwa perjuangan pembentukan ALA bukan upaya memecah Aceh, melainkan memperjuangkan pemerataan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat pedalaman Aceh.

Prof. Rahmad Salam mengatakan kawasan ALA memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi provinsi maju apabila dikelola secara serius dan berbasis kekuatan sumber daya lokal.

“ALA bukan ancaman bagi perdamaian Aceh. Ini adalah hak demokratis rakyat untuk memperjuangkan kesejahteraan dan masa depan yang lebih adil,” ujar Rahmad Salam.

Sementara itu, Armen Desky menyoroti kondisi Aceh yang dinilai masih menghadapi persoalan kemiskinan meski memiliki sumber daya alam melimpah. Menurutnya, pemekaran wilayah menjadi salah satu solusi untuk mempercepat pemerataan pembangunan.

“Sudah 26 tahun aspirasi ALA diperjuangkan. Ini bukti bahwa suara rakyat tidak pernah mati. ALA bukan untuk memecah Aceh, tetapi mempercepat pembangunan dan mendekatkan pelayanan kepada masyarakat,” katanya.

Ia menegaskan masyarakat kawasan tengah Aceh tidak boleh terus tertinggal di tengah kekayaan sumber daya alam yang dimiliki daerah tersebut.

Sedangkan Zam Zam Mubarak menilai pemerintah pusat perlu mulai melihat kawasan Aceh Leuser Antara sebagai wilayah strategis nasional yang memiliki potensi geografis, ekonomi, dan sumber daya alam yang besar.

“Masa depan Aceh tidak boleh terus dikurung dalam narasi konflik semata. Sudah saatnya berbicara tentang pemerataan pembangunan dan keadilan ekonomi bagi seluruh rakyat Aceh,” tegas Zam Zam.

Melalui forum tersebut, mahasiswa dan pemuda ALA se-Indonesia menyatakan komitmen untuk terus mengawal perjuangan pembentukan Provinsi Aceh Leuser Antara melalui jalur konstitusional, diskusi publik, konsolidasi nasional, dan gerakan intelektual secara damai.

 

 

Komentar