Minggu, 05 Juli 2026 | 06:24
NEWS

4 Dokter Muda Internship Tewas, Komisi IX DPR Minta Kemenkes Evaluasi Total Program PIDI

4 Dokter Muda Internship Tewas, Komisi IX DPR Minta Kemenkes Evaluasi Total Program PIDI
Empat dokter muda internship yang meninggal.dunia (dok)

ASKARA-Komisi IX DPR RI meminta Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap Program Internship Dokter Indonesia (PIDI).

Evaluasi ini penting dilakukan menyusul wafatnya empat dokter muda peserta program tersebut dalam kurun waktu tiga bulan terakhir (Februari hingga awal Mei 2026).

Terkait kasus meninggalnya empat dokter muda tersebut, anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani, menyampaikan duka mendalam. Keempat dokter tersebut meninggal saat menjalankan tugas di rumah sakit.

Menurutnya, rangkaian peristiwa tersebut harus menjadi alarm untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem internship di Indonesia.

“Ini bukan sekadar musibah, tetapi dapat dimaknai sebagai sinyal adanya persoalan sistemik yang harus segera dibenahi. Para dokter muda tidak boleh menjadi korban akibat sistem yang kurang sempurna,” kata Netty, dalam keterangan persnya, Selasa, (5/5/2026).

Pihaknya pun menyoroti ketidakjelasan status peserta internship yang berada di antara posisi sebagai peserta didik dan tenaga layanan kesehatan. Hal itu berdampak pada lemahnya perlindungan hak, termasuk terkait jam kerja, jaminan kesehatan, serta kepastian kesejahteraan.

Dia juga menekankan pentingnya evaluasi terhadap sistem supervisi dan pendampingan di lapangan. Karena program internship seharusnya menjadi proses pembelajaran untuk membangun kompetensi, bukan menggantikan peran tenaga medis penuh tanpa pengawasan.

“Banyak laporan yang menunjukkan beban kerja tinggi, bahkan melebihi batas, serta minimnya pendampingan. Ini berisiko tidak hanya bagi dokter muda, tetapi juga bagi keselamatan pasien,” tegasnya.

Di sisi lain, Netty mengakui masih banyak peserta internship yang enggan melaporkan kondisi kerja yang tidak ideal karena khawatir berdampak pada penilaian dan kelulusan mereka.

Oleh sebab itu, ia mendesak Kementerian Kesehatan, segera melakukan langkah konkret, seperti evaluasi nasional terhadap seluruh wahana internship, memperkuat sistem supervisi, serta memastikan adanya mekanisme pengaduan yang aman dan independen.

Selain itu, pihaknya juga mendorong pembentukan tim investigasi yang transparan dan akuntabel guna mengungkap penyebab pasti dari rangkaian kasus tersebut, sekaligus merumuskan perbaikan kebijakan ke depan.

“Keselamatan dokter adalah bagian dari keselamatan pasien. Kita tidak boleh menutup mata. Ini momentum untuk melakukan pembenahan total,” kata Netty.

DPR menyoroti laporan mengenai beban kerja yang tidak manusiawi dan melampaui batas, seperti bekerja berbulan-bulan tanpa libur.

Evaluasi mendalam diperlukan pada sistem pendampingan di lapangan agar program ini menjadi ruang belajar yang aman, bukan sekadar mengganti peran tenaga medis penuh tanpa pengawasan yang memadai.

Sementara itu, Kemenkes menyatakan akan melakukan investigasi dan mengakui perlunya perbaikan sistem, meskipun dalam laporan awal untuk kasus-kasus sebelumnya di Maret 2026, mereka sempat menyatakan kematian disebabkan oleh kondisi medis (seperti campak dan DBD) dan bukan kelebihan beban kerja. Berikut nama dokter Internship yang meninggal dunia (2026). dr Myta Aprila Azmy. Dokter lulusa. Universitas Sriwijaya (Unsri) dan bertugas di RSUD KH Daud Arif, Kuala Tungkal Jambi.

Sedangkan tiga dokter lainnya berasal dari daerah yang berbeda yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah dan Bali. Ketiganya meninggal dalam rentang waktu Marwt hingga Mei 2026.

Laporan menyebutkan. Kasus terjadi dalam satu rangkaian periode internship yang sama. Poin penting dari kasus tersebut para dokter muda dilaporkan mengalami beban kerja berlebihan. Bahkan mereka tetap diminta bertugas saat sakit. Akibatnya kondisi mereka menurun drastis.(dry)

Komentar