Yayasan Pulih Gelar Program Refresh, Perkuat Mental Aktivis Papua Selatan
ASKARA - Yayasan Pulih terus memperluas upaya penguatan kesehatan mental bagi para pejuang kemanusiaan di Tanah Papua. Melalui program bertajuk Refresh, lembaga ini menggelar lokakarya “Kesehatan Jiwa dan Psikososial” selama dua hari, 13–14 April 2026, di Rumah Bina Pankat.
Kegiatan yang berlangsung di Merauke ini menyasar organisasi masyarakat sipil (OMS) yang bergerak di bidang hak asasi manusia, lingkungan, dan kemanusiaan. Program tersebut dirancang untuk memperkuat daya lenting serta ketahanan psikologis para aktivis yang selama ini bekerja di wilayah dengan kompleksitas sosial dan tekanan tinggi.
Salah satu pendiri Yayasan Pulih, Livia Iskandar, menegaskan pentingnya pendekatan Mental Health and Psychosocial Support (MHPSS), khususnya di daerah dengan dinamika konflik dan persoalan lingkungan.
“Kami ingin menciptakan ruang aman bagi para aktivis untuk berbagi pengalaman sekaligus memperkuat jejaring. Mereka tidak boleh merasa bekerja sendirian dalam menghadapi berbagai tekanan di lapangan,” ujarnya.
Program Refresh sendiri merupakan bagian dari komitmen Yayasan Pulih yang telah lebih dari dua dekade memberikan layanan psikologis berbasis HAM. Kini, fokus diperluas ke wilayah Papua, termasuk Jayapura, Merauke, dan Sorong, dengan pendekatan berbasis komunitas dan kearifan lokal.
Lokakarya ini menghadirkan kolaborasi lintas lembaga, dengan melibatkan fasilitator nasional dan lokal seperti Dimas Teguh Prasetyo, Adriana Mailoa, serta Beatrix Gebze. Kehadiran mereka memperkaya perspektif peserta dalam memahami pendekatan psikososial yang kontekstual dengan budaya Papua.
Peserta yang terlibat pun berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari lembaga bantuan hukum, organisasi lingkungan, hingga kelompok perempuan dan lembaga keagamaan. Sinergi ini dinilai penting untuk membangun ekosistem dukungan yang berkelanjutan bagi para aktivis di daerah.
Selain menyasar masyarakat umum yang terdampak trauma, program ini juga memberi perhatian khusus kepada para “penolong di garis depan”, seperti jurnalis, pendamping penyintas, pekerja kemanusiaan, dan pembela HAM.
“Mereka rentan mengalami trauma sekunder. Karena itu, penguatan kapasitas psikososial menjadi penting agar mereka tetap sehat secara mental dan mampu terus mendampingi masyarakat,” jelas Livia.
Melalui program ini, Yayasan Pulih berharap para aktivis di Papua Selatan semakin tangguh, terhubung satu sama lain, serta mampu menjalankan peran strategisnya dalam memperjuangkan kemanusiaan dan lingkungan secara berkelanjutan.

Komentar