Minggu, 07 Juni 2026 | 16:22
Editorial

Saat Pemimpin Abaikan Tuhan, Dunia di Ambang Kiamat Perang

Saat Pemimpin Abaikan Tuhan, Dunia di Ambang Kiamat Perang
Ilustrasi iman yang dikhianati, dunia di ambang perang (Dok Askara)

ASKARA - Kegagalan perundingan antara Amerika Serikat dan Iran bukan lagi sekadar kebuntuan diplomasi. Ini adalah alarm keras bahwa dunia sedang didorong, perlahan tapi pasti, menuju jurang perang yang lebih luas, dan mungkin tak terkendali.

Sejarah selalu mencatat, perang besar tidak pernah benar-benar “meledak tiba-tiba”. Ia dimulai dari ego, dari kegagalan mendengar, dari pemimpin yang lebih memilih menang sendiri ketimbang menyelamatkan umat manusia.

Di titik inilah sorotan tajam mengarah pada Donald Trump. Ia kerap membungkus pidato politiknya dengan identitas sebagai seorang Kristen. Nama Tuhan disebut, nilai iman diangkat. Namun pertanyaannya kini telanjang: di mana iman itu ketika keputusan-keputusan justru membawa dunia semakin dekat pada kehancuran?

Iman tanpa tindakan bukan sekadar kosong, ia adalah kemunafikan yang berbahaya.

Dan ketika para politisi sibuk memainkan narasi, suara moral akhirnya datang dari tempat yang selama ini memilih diam. Paus Leo XIV tidak lagi berbicara dalam bahasa diplomasi yang halus. Ia memukul langsung ke jantung persoalan.

Pesannya brutal dalam kejujuran: Tuhan menolak doa dari tangan yang berlumuran darah.

Ini bukan sekadar seruan damai. Ini adalah dakwaan moral. Sebuah peringatan bahwa kekuasaan yang kehilangan nurani bukan hanya gagal, tetapi juga berbahaya bagi peradaban.

Vatikan, yang selama ini dikenal hati-hati, kini seperti menanggalkan sarung tangan diplomatiknya. Dunia sudah terlalu dekat dengan api, dan diam bukan lagi pilihan. Ketika lembaga keagamaan tertua di dunia memilih bersuara sekeras ini, itu berarti situasinya sudah melampaui batas kewajaran.

Masalahnya, apakah para pemimpin dunia masih punya telinga untuk mendengar?

Atau mereka sudah terlalu mabuk kekuasaan hingga tak lagi peduli bahwa setiap keputusan mereka bukan sekadar strategi geopolitik, melainkan penentu hidup dan mati jutaan manusia?

Perang bukan solusi. Itu kalimat yang terlalu sering diulang, hingga kehilangan makna. Tapi hari ini, kalimat itu kembali relevan, karena dunia sedang bersiap mengabaikannya sekali lagi.

Dan jika itu terjadi, maka yang akan tercatat dalam sejarah bukan hanya kegagalan diplomasi, tetapi pengkhianatan terhadap kemanusiaan itu sendiri.

 

 

Komentar