Selasa, 21 Juli 2026 | 11:14
COMMUNITY

Terang Kebangkitan Penuhi Katedral Jakarta, Umat Hayati Vigili Paskah

Terang Kebangkitan Penuhi Katedral Jakarta, Umat Hayati Vigili Paskah
Suasana Misa Malam Paskah di Gereja Katedral Jakarta (Dok Askara)

ASKARA - Dalam balutan malam yang hening, cahaya kecil dari sebatang lilin perlahan menembus kegelapan, menjadi tanda harapan yang hidup. Ribuan umat yang memadati gereja pada Sabtu (4/4/2026) malam larut dalam doa, mengikuti Misa Vigili Paskah dengan hati yang teduh dan penuh iman.

Perayaan Misa Malam Paskah pertama dimulai pukul 17.00 WIB yang dipimpin Romo Macarius Maharsono Probho, lalu berlanjut pada misa kedua pukul 21.00 WIB yang dipimpin Romo Yohanes Deodatus bersama Romo Adrianus Suyadi dan Romo Vincentius Doni. 

Ritus cahaya menjadi awal yang sarat makna. Lilin Paskah diberkati, ditorehkan tanda-tanda suci, lalu didupai sebagai lambang Kristus yang hidup dan berkuasa. Saat lilin utama diarak menuju altar, suasana menjadi begitu khidmat. Setiap langkah seolah mengajak umat merenungi perjalanan hidup, bahwa Tuhan selalu menuntun dari gelap menuju terang.

Dari satu nyala kecil, api kasih itu dibagikan dari lilin ke lilin. Dalam sekejap, seluruh gereja dipenuhi cahaya hangat yang berpendar lembut. Di sanalah tampak simbol Gereja yang hidup: iman yang tidak padam, melainkan terus dibagikan, dari hati ke hati.

Dalam homilinya, Romo Vincentius Doni mengajak umat untuk tidak hanya mengenang kebangkitan Kristus, tetapi sungguh membuka hati agar terang-Nya hidup dalam keseharian.

"Terang kebangkitan bukan hanya untuk dikenang, tetapi untuk dihidupi, menjadi harapan di tengah luka, menjadi kekuatan di tengah kerapuhan," demikian pesan yang mengalir lembut, menyentuh relung hati umat.

Momen pembaruan janji baptisan menjadi titik permenungan yang mendalam. Dengan lilin menyala di tangan, umat menerima percikan air suci, sebuah tanda bahwa hidup lama ditanggalkan, dan manusia baru dibangkitkan bersama Kristus. Ada keheningan yang berbicara, ada doa yang tak terucap, namun terasa begitu nyata.

Sekitar 5.000 kursi disiapkan untuk umat yang mengikuti rangkaian Tri Hari Suci tahun ini. Antusiasme yang membludak bukan sekadar angka, melainkan ungkapan kerinduan akan kehadiran Tuhan yang menguatkan.

Vigili Paskah malam itu bukan hanya sebuah perayaan liturgi. Ia menjadi pengalaman batin yang menghidupkan kembali iman, bahwa dalam setiap kegelapan hidup, selalu ada terang yang menanti untuk dinyalakan. Dan dalam setiap penderitaan, selalu ada janji kebangkitan yang setia menunggu untuk digenapi.

 

Komentar