Selasa, 21 Juli 2026 | 06:28
NEWS

Di Talk Highlight Radio Elshinta, Prof. Rokhmin Dahuri: Ketahanan Pangan Adalah Hidup-Matinya Bangsa

Di Talk Highlight Radio Elshinta, Prof. Rokhmin Dahuri: Ketahanan Pangan Adalah Hidup-Matinya Bangsa
Prof. Rokhmin Dahuri (kanan) menjadi narasumber Talk Highlight Radio Elshinta (sc Radio Elshinta)

ASKARA — Radio Elshinta kembali menghadirkan diskusi mendalam dalam program Talk Highlight pada Kamis, 2 April 2026. Kali ini, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri MS, pakar kelautan sekaligus tokoh nasional, tampil sebagai narasumber dengan tema yang sangat relevan: “Ketahanan Pangan sebagai Pilar Ketahanan Nasional di Tengah Perang, Krisis Iklim, dan Disrupsi Teknologi.”

Dalam pemaparannya, Prof. Rokhmin menegaskan bahwa pangan bukan sekadar urusan ekonomi, melainkan fondasi politik, sosial, dan keamanan negara. “Bangsa yang mampu menjamin pangan bagi rakyatnya akan lebih kuat menghadapi guncangan global, baik berupa perang, perubahan iklim, maupun disrupsi teknologi,” tegas Anggota Komisi IV DPR RI ini.

Ia mengingatkan, dari lima kebutuhan dasar manusia — pangan, sandang, papan, kesehatan, dan pendidikan — pangan adalah yang paling vital. “Kecerdasan seseorang ditentukan oleh asupan gizi. Tanpa pangan yang cukup, bangsa akan kehilangan daya saing,” ujarnya.  

Ia menyambut baik langkah Presiden Prabowo yang menempatkan swasembada pangan sebagai prioritas utama. Ia mengaitkan hal itu dengan pidato Bung Karno pada 7 April 1957 saat meletakkan batu pertama Fakultas Pertanian Universitas Indonesia: “Pangan adalah hidup-matinya sebuah bangsa.”  

Mengutip penelitian FAO tahun 2000, ia menegaskan bahwa negara dengan penduduk lebih dari 100 juta jiwa yang bergantung pada impor pangan akan sulit menjadi maju, makmur, dan berdaulat. “Apalagi kini, perang Iran vs AS dan Israel, ditambah krisis iklim, membuat pasokan pangan global semakin rapuh,” katanya.  

Sebagai Rektor Universitas UMMI Bogor, ia memaparkan capaian produksi nasional. “Alhamdulillah, beras kita sudah surplus. Tahun 2025 produksi mencapai 34 juta ton, sementara kebutuhan nasional hanya 32 juta ton,” jelasnya. Namun ia menekankan, persoalan bukan sekadar produksi, melainkan akses rakyat terhadap pangan yang adil dan merata.  

Jagung, garam, dan cabai sudah swasembada, tetapi gandum, kedelai, bawang putih, dan daging sapi masih bergantung pada impor. “Menteri Amran bersama kami bahu membahu agar komoditas lain bisa menyusul swasembada,” ungkapnya.  

Menteri Kelautan dan Perikanan 2001–2004 itu mengingatkan sejarah kelam krisis pangan 2008 yang menumbangkan rezim di Pakistan, Afganistan, dan Meksiko. “Pangan bukan hanya masalah ekonomi, tapi juga politik. Jika impor terganggu, harga pupuk dan pangan bisa melambung, rakyat menderita, dan stabilitas negara terancam,” ujarnya lantang.  

Ia menyoroti bagaimana perang di berbagai belahan dunia telah mengganggu rantai pasok global, membuat harga pangan melonjak, dan menimbulkan kerentanan bagi negara-negara yang bergantung pada impor. Di sisi lain, krisis iklim memperburuk kondisi dengan menurunkan produktivitas pertanian, mengancam keberlanjutan sumber daya alam, serta memicu bencana yang merusak lahan produktif.  

Prof. Rokhmin juga menekankan pentingnya inovasi teknologi dalam menjawab tantangan ini. Menurutnya, disrupsi teknologi harus dipandang sebagai peluang, bukan ancaman. “Digitalisasi, bioteknologi, dan kecerdasan buatan dapat menjadi senjata strategis untuk meningkatkan efisiensi produksi, distribusi, dan konsumsi pangan,” jelasnya. 

Namun, ia mengingatkan bahwa teknologi harus diintegrasikan dengan kebijakan yang berpihak pada petani, nelayan, dan masyarakat kecil agar manfaatnya benar-benar dirasakan secara merata.

Diskusi yang berlangsung hangat ini menggarisbawahi urgensi kolaborasi lintas sektor: pemerintah, akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat sipil. Prof. Rokhmin menutup dengan pesan kuat, bahwa ketahanan pangan adalah “benteng terakhir” yang menentukan daya tahan bangsa. Tanpa pangan yang cukup, sehat, dan terjangkau, ketahanan nasional akan rapuh menghadapi badai global.

Talk Highlight Radio Elshinta edisi ini bukan hanya menjadi ruang refleksi, tetapi juga panggilan aksi bagi seluruh elemen bangsa untuk menempatkan ketahanan pangan sebagai prioritas utama pembangunan.  

Talk Highlight Elshinta edisi ini menjadi lebih dari sekadar diskusi. Ia adalah peringatan keras sekaligus seruan aksi: bahwa ketahanan pangan adalah benteng terakhir bangsa. Tanpa itu, kedaulatan hanyalah ilusi.

Komentar