Kamis, 23 Juli 2026 | 06:51
MILITER

Tangis di Pos Perbatasan TNI: Bocah Papua Diantar Mimpi ke Jakarta

Tangis di Pos Perbatasan TNI: Bocah Papua Diantar Mimpi ke Jakarta
Wakil Komandan Pos Satgas Pamtas RI-PNG Yonif 126/KC bersama Alo dan Inang Bukit di pos perbatasan Republik Indonesia-Papua Nugini (Dok Tiktok Sitanggang)

ASKARA - Sebuah momen haru terekam di Pos Tembutka, kawasan perbatasan Republik Indonesia-Papua Nugini (RI-PNG). Di tempat yang jauh dari hiruk-pikuk kota, ketulusan justru tumbuh begitu dekat dan nyata.

Tisantro Sitanggang, yang bertugas sebagai Wakil Komandan Pos Satgas Pamtas RI-PNG Yonif 126/KC, tak kuasa menahan haru saat menerima pemberian sederhana dari seorang bocah Papua bernama Alo.

Tiga buah nenas matang, kacang panjang hasil panen, sereh, hingga pisau dan parang, semuanya dibawa Alo bersama ibunya, Mama Bukit, sebagai bentuk kasih tulus dari keluarga sederhana di perbatasan.

Persahabatan yang Tumbuh dari Ketulusan

Di balik kesederhanaan itu, terjalin hubungan yang tak biasa. Sertu Tisantro dan Alo bukan sekadar tentara dan warga, melainkan seperti ayah dan anak yang dipertemukan oleh keadaan.

Dengan penuh rasa tanggung jawab, Sertu Tisantro memberanikan diri meminta izin kepada Mama Bukit untuk membawa Alo ke Jakarta. Ia ingin menyekolahkan dan membimbing bocah tersebut hingga kelak bisa meraih cita-citanya menjadi prajurit TNI.

Permintaan itu menjadi momen yang paling menggetarkan. Tangis haru pecah. Mama Bukit tak kuasa menahan air mata, antara berat melepas dan harapan akan masa depan anaknya.

Adik Alo pun ikut larut dalam suasana, memeluk orang tuanya dan Sertu Tisantro, lalu menciumi mereka dengan penuh kasih.

Viral di Media Sosial

Kisah menyentuh ini menyebar luas setelah dibagikan melalui TikTok akun @tisantrositanggang. Video yang diunggah pada Minggu (30/3/2026) itu telah ditonton hampir 500 ribu kali dan mendapatkan sekitar 28 ribu tanda suka dari warganet.

Respons publik pun mengalir deras, dipenuhi doa dan harapan bagi masa depan Alo serta apresiasi terhadap ketulusan sang prajurit.

“Semoga adik Alo bisa mendapatkan pendidikan terbaik dan kembali membangun tanah kelahirannya,” tulis salah satu warganet.

Komentar lain menyebut, apa yang dilakukan Sertu Tisantro adalah gambaran nyata pengabdian TNI yang tak hanya menjaga perbatasan, tetapi juga merawat harapan.

Lebih dari Sekadar Tugas

Kisah ini menjadi pengingat bahwa pengabdian bukan hanya soal menjaga kedaulatan negara, tetapi juga tentang menyentuh hati manusia.

Di ujung negeri, di antara keterbatasan, lahir sebuah harapan besar, bahwa dari tangan-tangan tulus, masa depan bisa diubah.

Dan di Pos Tembutka, air mata yang jatuh hari itu bukan hanya tentang perpisahan, tetapi tentang cinta, kepercayaan, dan mimpi yang mulai menemukan jalannya.

 

Komentar