Minggu, 07 Juni 2026 | 17:39
Editorial

Dunia Bergejolak, Pemimpin Harus Menenangkan Bukan Menakuti Rakyat

Dunia Bergejolak, Pemimpin Harus Menenangkan Bukan Menakuti Rakyat
Rakyat butuh kecukupan pangan, energi dan empati (Dok Askara)

ASKARA - Dunia sedang memasuki babak baru ketidakpastian. Konflik di berbagai kawasan, ketegangan geopolitik, hingga gangguan rantai pasok energi dan pangan menjadi tantangan serius bagi banyak negara. Indonesia memang tidak berada di wilayah konflik, tetapi sebagai bagian dari komunitas global, dampak krisis keamanan dunia tetap terasa.

Beberapa tahun lalu Indonesia berhasil melewati ujian besar ketika pandemi melanda dunia. Krisis kesehatan global itu mengajarkan satu hal penting: dalam situasi sulit, stabilitas kepemimpinan dan ketenangan komunikasi pemerintah menjadi kunci menjaga kepercayaan publik.

Kini tantangan yang dihadapi berbeda. Jika sebelumnya ancaman datang dari virus yang tak kasat mata, sekarang tekanan muncul dari konflik geopolitik, ketidakpastian energi, dan potensi gangguan pangan dunia. Situasi seperti ini menuntut kepemimpinan yang tidak hanya kuat, tetapi juga bijak dalam menyampaikan pesan kepada masyarakat.

Rakyat pada dasarnya tidak membutuhkan retorika yang menegangkan. Yang dibutuhkan adalah pernyataan yang menyejukkan, menenangkan, dan memberikan rasa aman. Bahasa yang penuh kekhawatiran atau kalimat bernada negatif justru berpotensi menimbulkan kepanikan yang tidak perlu.

Di tengah dinamika global, kebutuhan rakyat sebenarnya sangat sederhana: pangan yang cukup dan energi yang tersedia. Selama dua hal itu terjaga, stabilitas sosial dapat dipertahankan. Karena itu perhatian pemerintah harus benar-benar fokus pada ketahanan pangan, stabilitas harga, serta ketersediaan energi bagi masyarakat.

Namun ada satu hal lain yang tidak kalah penting: empati kepemimpinan. Dalam masa sulit, rakyat ingin melihat pemimpinnya hadir bersama mereka, merasakan kegelisahan yang sama, dan menunjukkan sikap sederhana.

Sebaliknya, mempertontonkan kemewahan di tengah situasi global yang tidak menentu dapat menimbulkan jarak psikologis antara pemimpin dan rakyatnya. Simbol-simbol kesederhanaan justru memiliki kekuatan moral yang besar untuk menjaga solidaritas sosial.

Sejarah menunjukkan bahwa dalam setiap krisis, bangsa yang mampu bertahan bukan hanya yang memiliki sumber daya besar, tetapi yang dipimpin oleh pemimpin yang mampu menjaga ketenangan publik.

Indonesia memiliki pengalaman menghadapi berbagai ujian. Dengan kepemimpinan yang empatik, komunikasi yang menyejukkan, serta fokus pada kebutuhan dasar rakyat, bangsa ini memiliki modal kuat untuk melewati krisis global berikutnya.

 

 

Komentar