Selasa, 21 Juli 2026 | 22:13
COMMUNITY

PERWATUSI Diam-Diam Bantu Korban Bencana di Sumatera

PERWATUSI Diam-Diam Bantu Korban Bencana di Sumatera
Bantuan dari PERWATUSI setelah menembus medan berat akhirnya dapat diterima warga (Dok Perwatusi)

ASKARA - Di saat banyak bantuan hanya berhenti di kota, PERWATUSI memilih jalan yang lebih sunyi: menembus pedalaman. Permintaan bantuan dari warga Dusun Bedari, Desa Rantau Panjang, Aceh Timur, direspons langsung oleh Ketua Umum PERWATUSI, Anita A. Hutagalung, bersama tim yang bergerak hingga ke pelosok.

Anggota PERWATUSI, Sovyan, melaporkan seluruh rangkaian kegiatan telah selesai dilaksanakan. Meski medan jauh dan perjalanan panjang, semangat tim tidak surut.

“Perjalanan berangkat pukul 09.00 sampai pukul 18.00. Sekitar 9 jam. Akhirnya sampai juga ke tujuan,” ujar Sovyan, Rabu (18/2).

Setibanya di Dusun Bedari, PERWATUSI menjalankan sejumlah agenda kemanusiaan yang sederhana, namun sangat berarti bagi warga. Mulai dari pembagian dandang dan sayur mayur untuk kebutuhan sehari-hari, peresmian menasah sebagai pusat ibadah dan kebersamaan, hingga potong lembu/megah sebagai bentuk syukur dan penguatan solidaritas warga.

Di tengah keterbatasan yang masih dirasakan masyarakat pedalaman, kehadiran PERWATUSI menjadi pelukan hangat yang tak ternilai. Ketua Adat Gayo Bedari pun menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada PERWATUSI.

“Ketua adat Gayo Bedari mengucapkan terima kasih kepada PERWATUSI yang sudah membantu warga masyarakatnya di pedalaman,” lanjut Sovyan.

Sovyan juga menuturkan hal yang menyentuh: para relawan bencana yang ditemuinya di Aceh ternyata mengenal PERWATUSI sebagai organisasi yang selalu hadir dalam berbagai musibah di Indonesia.

Ia mengaku pernah bertemu relawan yang sama saat penanganan bencana di Cianjur, Sukabumi Selatan, hingga kampung adat. Dan di Aceh, mereka kembali bertemu.

“Mereka hanya mengenal PERWATUSI sebagai INORGA yang selalu ada di setiap bencana di Indonesia,” kata Sovyan.

Bahkan, relawan tersebut menanyakan sesuatu yang sederhana, tetapi penuh makna, tanda bahwa PERWATUSI bukan sekadar datang memberi bantuan, tetapi juga meninggalkan kesan.

“Mereka tanya, ‘Gimana pa senam Osteonya?’ Berarti mereka sudah tahu apa itu PERWATUSI,” ungkapnya.

Kegiatan di Dusun Bedari menjadi pengingat bahwa kemanusiaan tak boleh pilih-pilih lokasi. Ketika jalan jauh dan medan berat, justru di sanalah kehadiran menjadi paling bermakna.

PERWATUSI tidak sekadar hadir. PERWATUSI datang untuk menguatkan, tidak hanya di Aceh, juga di Sumatera Utara dan Sumatera Barat.

“PERWATUSI selalu di hati,” tutup Sovyan.

 

Komentar