PMBN Banyumas Raya Hadiri Nyadran Makam Kebo Kuning Sirkandi
ASKARA - Di bawah langit Februari yang teduh, warga Desa Sirkandi, Kecamatan Purworejo Klampok, kembali menapaki jalan menuju Makam Kebo Kuning. Kamis (5/2/2026), langkah-langkah itu bukan sekadar ziarah, melainkan cara mereka menjaga ingatan, menghormati leluhur, dan merawat kebersamaan menjelang bulan suci Ramadan.
Tradisi Nyadran ini diikuti warga dari satu wilayah kadus yang terdiri dari 9 RT. Suasana terasa hangat, meski prosesi berlangsung khidmat. Camat Purworejo Klampok dan Lurah Sirkandi turut hadir, menyatu bersama warga dalam ritual yang sudah menjadi denyut tahunan desa.
Rangkaian kegiatan diawali dengan doa bersama, pembacaan Yasin, dan tahlil. Kalimat-kalimat doa melayang pelan, seolah menjadi jembatan antara yang hidup dan yang telah berpulang. Setelah itu, warga melanjutkan dengan ziarah dan bersih-bersih makam, memastikan tempat peristirahatan leluhur tetap terawat.
PMBN Banyumas Raya juga hadir dalam kegiatan tersebut. Kehadiran mereka menjadi penanda bahwa Nyadran bukan hanya urusan satu kampung, melainkan bagian dari ikatan sosial yang lebih luas, bahwa tradisi masih dipelihara, dan nilai-nilai kebaikan tetap dijaga.
Yang membuat Nyadran terasa berbeda adalah tradisi “nasi berkat”. Setelah doa selesai, warga saling memberikan nasi kepada kerabat atau tetangga untuk dibawa pulang. Bukan soal makanan semata, tetapi simbol perhatian kecil yang menguatkan rasa persaudaraan.
Informasi kegiatan ini disampaikan R.Ngt. Arini dari PMBN. Menurutnya, Nyadran menjadi cerminan kuatnya kekeluargaan dan harmonisasi masyarakat, terutama saat menjelang puasa, ketika suasana batin warga mulai dipersiapkan untuk lebih tenang dan lebih bersih.
Di Desa Sirkandi, Nyadran di Makam Kebo Kuning bukan hanya tradisi. Ia adalah cara sederhana untuk mengatakan: kita masih saling menjaga, masih saling mendoakan, dan masih percaya bahwa hidup akan lebih ringan jika dijalani bersama.

Komentar