Muhammadiyah dan NU Menjaga Persatuan Indonesia
ASKARA - Di tengah dinamika perbedaan pemahaman keagamaan dan praktik keislaman, dua organisasi Islam terbesar di Indonesia yakni Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama secara konsisten merawat persaudaraan. Narasi sejarah, kerja sama kontemporer, dan kontribusi terhadap kebangsaan menyuguhkan cerita yang tidak sekadar toleransi tetapi sinergi untuk bangsa yang beragam. Kisah ini menunjukkan bahwa persatuan dan perbedaan bisa berjalan berdampingan.
Islam di Indonesia tidak hanya soal ritual ritual keagamaan tetapi juga persoalan persaudaraan dan kebangsaan. Sejak awal abad ke dua puluh dua organisasi Islam besar yakni Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama telah memainkan peran penting bagi negara dan masyarakat Indonesia. Dalam sejarah masa awal kebangkitan nasional kedua organisasi ini memiliki hubungan yang lebih dekat daripada sekadar label perbedaan organisasi sosial keagamaan. Hal ini tercatat dalam narasi sejarah yang menjadi pijakan pemahaman kontemporer tentang pentingnya kerjasama lintas tradisi Islam.
Sumber: NU Online, 23 Maret 2018.
Muhammadiyah lahir lebih dahulu pada 18 November 1912 sementara Nahdlatul Ulama berdiri pada 31 Januari 1926. Keberadaan kedua organisasi ini bukan hanya dalam konteks perbedaan metodologi dakwah atau praktik keagamaan tetapi juga sebagai bagian dari pergerakan nasional yang menyiapkan umat dan bangsa menuju kemerdekaan. Perbedaan dalam menginterpretasi ajaran Islam sempat memicu diskusi akademik dan sosial namun tidak pernah memutus persaudaraan di antara kedua pihak.
Sumber: Okezone Nasional, 31 Januari 2024.
1 spasi
Salah satu aspek yang menarik dalam sejarah dua organisasi ini adalah hubungan pribadi antara para pendirinya. KH Ahmad Dahlan dari Muhammadiyah dan KH Hasyim Asyari dari Nahdlatul Ulama dikenal memiliki hubungan akrab. Keduanya sama sama menimba ilmu di pesantren yang sama di Semarang dan melanjutkan pendidikan ke Makkah yang membuka ruang persaudaraan keilmuan. Mereka berbagi pengalaman belajar yang kemudian menjadi fondasi respect dan hubungan antar tokoh lintas organisasi yang berbeda. Beberapa riwayat menyebut mereka bahkan pernah saling memanggil dengan nama panggilan akrab di masa muda.
Sumber: NU Online, 10 Maret 2014.
Relasi persaudaraan ini tetap relevan hingga masa kini. Pada era kontemporer hubungan itu terus dibangun secara institusional dan simbolik. Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir dan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Yahya Cholil Staquf sering berpartisipasi dalam dialog dialog kebangsaan yang menegaskan komitmen bersama untuk menjaga keutuhan dan keberagaman Indonesia. Kerja sama semacam ini menunjukkan bahwa hubungan strategis tidak hanya sekedar nostalgia sejarah tetapi juga tindakan nyata dalam kehidupan kemasyarakatan.
Sumber: Kompas, 2 Februari 2024.
Kedua organisasi Islam ini juga mendapatkan pengakuan internasional atas kontribusinya dalam menyebarkan nilai nilai persaudaraan dan toleransi. Pada tahun 2024, Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah dianugerahi Anugerah Zayed untuk Persaudaraan Kemanusiaan yang menegaskan nilai sinergi sosial dan kemanusiaan yang mereka usung bersama. Penghargaan ini bukan semata simbol tetapi juga pengakuan dunia bahwa Islam Indonesia hadir sebagai kekuatan moderat yang memayungi persatuan dan keberagaman agama dan budaya.
Sumber: Kompas, 2 Februari 2024.
Tidak hanya pada level pimpinan pusat, persaudaraan ini juga dirasakan di kalangan tokoh tokoh masyarakat dan generasi muda. Diskusi diskusi lintas ormas, seminar seminar kebangsaan, kerja sosial bersama dalam pendidikan dan kemanusiaan memperkaya ruang publik Islam Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa suara suara yang membangun kerjasama jauh lebih dominan daripada retorika yang memecah belah.
Tidak ada sumber media berita langsung. Narasi ini disimpulkan dari tren dialog publik dan pertemuan antara kedua organisasi yang banyak dilaporkan media.
1 spasi
Konsep hubungan adik kakak sering muncul untuk menggambarkan NU dan Muhammadiyah. NU dipandang sebagai adik karena jumlah jamaahnya lebih besar sementara Muhammadiyah sebagai kakak karena berdiri lebih dulu. Gambaran ini menjadi rujukan budaya yang memperkaya cara kedua organisasi merawat perbedaan tanpa menjadikan itu sebagai ancaman bagi persaudaraan. Ungkapan semacam ini muncul dalam berbagai pernyataan tokoh tokoh NU yang menekankan pluralisme dan mutual respect dalam kerangka kebangsaan.
Sumber: TIMES Indonesia, 3 Agustus 2024.
Tentunya perbedaan praktik religius dan intelektual tetap ada. NU lebih dikenal dengan tradisi pesantren dan pendekatan moderat terhadap praktik keagamaan sementara Muhammadiyah lebih menekankan pada purifikasi dan pembaruan. Bahkan dalam beberapa hal seperti penetapan awal bulan Ramadan kedua pihak sempat memakai metodologi berbeda. Meskipun demikian, perbedaan tersebut lebih dipandang sebagai kekayaan tradisi Islam Indonesia daripada hal yang memecah belah.
Sumber yang relevan: sejumlah laporan diskusi dan pernyataan publik yang dipublikasikan secara luas di media cetak dan online.
Dalam forum forum kebangsaan kedua organisasi ini sering bersama sama menyuarakan nilai nilai Pancasila dan kebangsaan. Mereka memperkuat fundamental demokrasi Indonesia dengan menggaungkan pentingnya toleransi antar umat beragama serta dukungan terhadap kebebasan beragama yang diatur dalam konstitusi. Kerja sama semacam ini turut menghadirkan narasi Islam yang ramah dan inklusif yang menjadi rujukan dunia dalam menghadapi tantangan global.
Tidak ada rujukan tunggal berita tetapi merupakan generalisasi dari laporan banyak media mainstream.
Akhirnya persaudaraan Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama adalah contoh konkret bagaimana dua tradisi Islam besar di Indonesia merawat perbedaan melalui dialog kerja sama dan visi kebangsaan. Narasi ini menunjukkan bahwa Islam Indonesia tidak hanya soal ritual tetapi juga solidaritas sosial dan penguatan ruang publik demokratis. Kisah ini juga mengajarkan bahwa persatuan bangsa Indonesia dapat diperkuat melalui penghormatan terhadap berbagai tafsir keagamaan yang hidup secara damai dalam satu negeri yang beragam. (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar