Di Usia 77 Tahun, Jaya Suprana Tak Lelah Menjaga Nurani Bangsa
ASKARA - Hari ini, Jaya Suprana genap berusia 77 tahun. Lahir di Denpasar, Bali, ia menjalani usia senja bukan sebagai penonton zaman, melainkan sebagai pengingat, bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak kehilangan nuraninya.
Bagi Jaya Suprana, kebudayaan bukan sekadar seremoni atau romantisme masa lalu. Ia adalah cermin kejujuran bangsa dalam memandang dirinya sendiri. Keyakinan itu menuntunnya menapaki jalan panjang pengabdian di dunia seni, pemikiran, dan kebudayaan.
Langkah paling dikenang adalah ketika dia mendirikan Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI). Melalui MURI, Jaya Suprana mencatat prestasi anak bangsa yang sering luput dari perhatian, dari yang sederhana hingga luar biasa, sebagai bentuk penghormatan pada daya cipta manusia Indonesia.
Namun Jaya Suprana bukan sekadar pencatat rekor. Ia adalah intelektual publik yang konsisten menyuarakan kegelisahan zaman. Lewat tulisan dan ceramah, ia kerap mengkritik kekuasaan, keserakahan, dan kemunafikan sosial dengan bahasa yang halus, satir, namun menggugah kesadaran.
Di tengah derasnya pragmatisme dan polarisasi, Jaya Suprana berdiri sebagai penjaga akal sehat. Ia mengingatkan bahwa kemajuan yang tercerabut dari etika hanya akan melahirkan kehampaan, dan modernitas tanpa empati adalah bentuk lain dari kemunduran.
Memasuki usia 77 tahun, produktivitasnya tak surut. Ia terus hadir dalam ruang publik, menyemai dialog, dan merawat kesadaran bahwa budaya adalah fondasi peradaban, bukan pelengkap belaka.
Ulang tahun ke-77 Jaya Suprana menjadi momentum refleksi bahwa dedikasi pada kebudayaan adalah kerja panjang yang sunyi. Di sanalah ia memilih berdiri, menjaga ingatan, martabat, dan nurani bangsa.

Komentar