Ruang Sakral Gunung Padang Rusak oleh Spiritualitas Tanpa Etika
ASKARA - Pergantian tahun di Gunung Padang seharusnya menjadi momentum spiritual: doa, refleksi, dan keheningan. Kamis malam (1/1/2026), belasan orang datang membawa niat batin, termasuk praktisi spiritual Dar Edi Yoga dan Cahaya Adi Wibowo bersama rombongan. Mereka memahami bahwa Gunung Padang bukan sekadar lokasi, melainkan ruang sakral yang menuntut sikap dan kesadaran.
Namun apa yang terjadi justru menyisakan ironi. Di teras 3 dan teras 5, sejumlah orang membentangkan alas tidur dan kantong tidur, lalu terlelap di atas batu-batu megalitik, batu yang selama ini menjadi tempat doa, meditasi, dan perenungan. Gunung Padang diperlakukan seperti area camping bebas. Tanpa izin, tanpa adab, tanpa rasa hormat.
Ini bukan soal perbedaan tafsir spiritual. Ini soal etika paling dasar. Batu-batu Gunung Padang bukan bangku taman, bukan lantai penginapan, dan jelas bukan kasur darurat. Ia adalah warisan peradaban, situs sejarah, dan simbol kesakralan. Ketika orang tidur di atasnya, yang diinjak bukan hanya batu, tetapi nilai dan kesadaran kolektif.
Lebih menyedihkan lagi, praktik seperti ini kerap dibungkus dalih "spiritualitas". Padahal spiritualitas tanpa adab hanyalah ego yang menyamar. Datang membawa doa, tetapi pulang meninggalkan kerusakan makna. Mengaku mencari energi, namun menguras martabat situs itu sendiri.
Gunung Padang tidak membutuhkan ritual yang ramai, apalagi pengunjung yang merasa paling bebas. Yang dibutuhkan adalah kesadaran: tahu batas, tahu tempat, tahu diri. Jika situs sakral terus diperlakukan sembarangan, maka yang runtuh bukan hanya batu purba, tetapi wajah peradaban kita hari ini.
Ini peringatan keras. Gunung Padang bukan tempat camping spiritual. Ia adalah ruang suci sejarah. Siapa pun yang datang tanpa adab, sesungguhnya tidak sedang mencari makna, melainkan sedang kehilangan arah.
Gunung Padang bukan hotel terbuka, bukan pula sekadar tempat singgah. Ia adalah ruang perenungan, simbol peradaban, dan jejak panjang relasi manusia dengan alam dan keyakinannya. Ketika batas-batas etika itu kabur, maka yang terancam bukan hanya batu-batu purba, tetapi juga makna yang selama ini dijaga.

Komentar