Datang Naik Heli, James Riady Penuhi Panggilan Gunung Padang
ASKARA - Kunjungan pengusaha nasional James Riady ke Situs Gunung Padang di Cianjur, Jawa Barat, beberapa waktu lalu, sekilas tampak sebagai aktivitas personal seorang tokoh publik yang tertarik pada situs purbakala paling kontroversial di Indonesia. Namun, bagi mereka yang memandang Gunung Padang tidak sekadar sebagai objek wisata atau bahan polemik ilmiah, kehadiran James Riady justru membuka ruang tafsir yang lebih dalam: tentang etika, kesadaran, dan tanggung jawab dalam menyikapi warisan peradaban.
Sebagaimana diungkapkan Ali Akbar melalui media sosialnya, James Riady tiba di kawasan Gunung Padang menggunakan helikopter, lalu menelusuri bukan hanya teras-teras utama situs, tetapi juga lereng curam dan kawasan yang masih tertutup semak belukar. Ia bergerak cepat dan sigap, menjangkau area-area yang jarang disentuh pengunjung. Lebih dari itu, ia meluangkan waktu duduk di warung sederhana, berdiskusi panjang dengan tim kajian, mencermati puluhan foto riset, serta mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis yang menunjukkan ketertarikan serius, bukan sekadar rasa ingin tahu sesaat.
Dalam sudut pandang rasional, ini adalah kunjungan seorang tokoh berpengaruh ke situs sejarah penting. Namun, dalam perspektif kebudayaan dan spiritualitas Nusantara, Gunung Padang bukan ruang netral yang bisa dihadiri siapa saja tanpa makna. Praktisi spiritual Dar Edi Yoga menyebutnya dengan kalimat sederhana namun menggugah: Gunung Padang tidak memanggil semua orang. Ia memilih.
Pernyataan ini tentu tidak dimaksudkan sebagai klaim mistis yang menafikan pendekatan ilmiah. Ia justru mengingatkan bahwa tidak semua kunjungan memiliki bobot kesadaran yang sama. Banyak orang datang untuk melihat, berfoto, atau mengukuhkan pendapat. Namun hanya segelintir yang benar-benar hadir untuk mendengarkan, memahami, dan menempatkan diri secara proporsional di hadapan jejak peradaban yang usianya melampaui zaman modern.
Selama bertahun-tahun, Gunung Padang terjebak dalam tarik-menarik ekstrem: antara klaim spektakuler yang ingin segera diakui dunia, dan kehati-hatian akademik yang kerap dianggap lamban. Di antara dua kutub itu, yang sering hilang adalah etika kebudayaan. Situs purbakala tidak boleh diperlakukan semata sebagai proyek pembuktian ego intelektual, alat legitimasi politik, atau komoditas pariwisata. Ia adalah amanah sejarah, yang menuntut kerendahan hati, kesabaran metodologis, dan penghormatan pada konteks budaya lokal.
Dalam konteks inilah, kehadiran James Riady menjadi relevan secara simbolik. Sebagai anggota Dewan Penyantun Museum dan Cagar Budaya yang diketuai Hashim Djojohadikusumo, ia tidak datang sebagai pengambil keputusan teknis, tetapi sebagai figur dengan kapasitas moral dan pengaruh kebijakan. Pernyataannya yang disebut Ali Akbar, bahwa ia sangat terkesan dan siap mendukung kajian serta pemugaran Gunung Padang, harus dibaca sebagai peluang sekaligus ujian.
Peluang, karena dukungan dari figur publik dapat memperkuat riset multidisipliner yang serius, transparan, dan berkelanjutan. Ujian, karena dukungan tersebut tidak boleh berubah menjadi intervensi narasi, tekanan hasil, atau percepatan yang mengorbankan kaidah ilmiah. Gunung Padang membutuhkan waktu, bukan sensasi. Ia memerlukan dialog antara arkeologi, geologi, sejarah, antropologi, dan kearifan lokal, bukan lomba klaim siapa paling benar.
Lebih jauh, Gunung Padang sesungguhnya sedang bercermin pada kita sebagai bangsa. Cara kita memperlakukan situs ini akan mencerminkan kedewasaan kita dalam mengelola warisan peradaban. Apakah kita datang dengan sikap menaklukkan alam dan masa lalu demi validasi masa kini? Ataukah kita hadir dengan kesadaran bahwa pengetahuan manusia selalu parsial, dan sejarah sering kali lebih bijak daripada ambisi kita?
Narasi bahwa "Gunung Padang memilih tamu-tamunya" pada akhirnya bukan soal siapa yang boleh datang atau tidak. Ia adalah metafora tentang kesiapan batin dan etika kehadiran. Situs peradaban tua tidak membutuhkan pengunjung yang ramai, melainkan manusia yang bersedia menahan diri, mendengar lebih banyak daripada berbicara, dan memahami bahwa tidak semua misteri harus segera dibuka.
Gunung Padang mengajarkan satu pelajaran mendasar: peradaban besar tidak dibangun oleh kesombongan pengetahuan, melainkan oleh kerendahan hati untuk belajar lintas zaman. Kunjungan James Riady, disadari atau tidak, menjadi pengingat bahwa dialog antara manusia modern dan masa lalu hanya akan bermakna jika dilandasi kesadaran, tanggung jawab, dan keberanian untuk tidak tergesa-gesa.
Mungkin benar, tidak semua orang dipanggil ke Gunung Padang. Namun ketika panggilan itu datang, ia membawa amanah: melihat situs ini bukan hanya dengan mata, tetapi dengan nalar, etika, dan kesadaran bahwa perjalanan paling penting sering kali bukan mendaki teras-teras batu, melainkan menapaki kedalaman diri sendiri.

Komentar