Rabu, 22 Juli 2026 | 05:29
COMMUNITY

AIDS Week 2025 Gaungkan Warisan Kemanusiaan Prof. Irwanto

AIDS Week 2025 Gaungkan Warisan Kemanusiaan Prof. Irwanto
Ilustrasi AIDS Week (Dok Pixabay)

ASKARA - Rangkaian AIDS Week 2025 yang digelar belum lama ini menegaskan pentingnya respons HIV yang inklusif, berbasis komunitas, dan berorientasi pada hak asasi manusia. Salah satu agenda utama adalah Memorial Lecture Prof. Irwanto yang menjadi ruang refleksi atas warisan pemikiran dan nilai kemanusiaan almarhum.

Memorial Lecture yang mengusung semangat “Peduli sebagai Kemanusiaan Bersama”, sejalan dengan tema AIDS Week 2025, “Semua Berarti, Semua Punya Tempat”. Kegiatan ini dihadiri keluarga Prof. Irwanto, akademisi, peneliti, mahasiswa, praktisi, serta aktivis komunitas lintas sektor.

Penyelenggara menegaskan Memorial Lecture bukan sekadar peringatan, melainkan upaya merawat etos berpikir Prof. Irwanto, penelitian yang berpihak, kerja lapangan partisipatif, serta keberanian moral membela kelompok rentan. Kepala Pusat Studi HIV AIDS Unika Atma Jaya, Gracia Simanullang, menyebut Prof. Irwanto mengajarkan bahwa komunitas adalah subjek pengetahuan, bukan sekadar objek riset.

Perwakilan keluarga, Astrid Irwanto, menyampaikan bahwa almarhum mendedikasikan hidupnya sebagai misi kemanusiaan dengan selalu mendengarkan suara yang jarang terdengar dan menempatkan pengalaman manusia sebagai dasar penelitian.

Memorial Lecture disampaikan oleh Nani Nurrachman-Sutoyo yang menegaskan kepedulian sebagai nilai moral, etos profesional, dan fondasi kebijakan publik berkeadilan. Menurutnya, kepedulian adalah tanggung jawab publik yang harus hadir dalam riset, pendidikan, dan tata kelola negara.

Diskusi panel menghadirkan akademisi dan penggiat sosial dari isu anak, disabilitas, kesehatan inklusif, komunitas marjinal, hingga pendampingan trauma. Diskusi menyoroti kontribusi Prof. Irwanto dalam pengembangan pendekatan keilmuan yang memadukan empati, integritas metodologis, dan advokasi berbasis bukti.

Sementara itu, rangkaian diseminasi AIDS Week 2025 selama empat hari membahas inovasi pencegahan HIV, akses PrEP, penguatan sistem perawatan, peran spiritualitas, serta pentingnya bahasa dan narasi publik yang tidak menstigma. Seluruh rangkaian menegaskan bahwa respons HIV yang efektif membutuhkan pendekatan holistik dan kemitraan setara dengan komunitas.

Melalui AIDS Week 2025, penyelenggara berharap hasil riset dan refleksi ini dapat memperkuat kebijakan dan praktik layanan menuju respons HIV yang adil, inklusif, dan berkelanjutan di Indonesia.

 

Komentar