Rabu, 22 Juli 2026 | 05:51
COMMUNITY

Relawan Hakka Aceh, FOBI, dan PerMaTA Siapkan Pengiriman Bantuan ke 8 Titik Posko di Pidie Jaya dan Bireuen

Relawan Hakka Aceh, FOBI, dan PerMaTA Siapkan Pengiriman Bantuan ke 8 Titik Posko di Pidie Jaya dan Bireuen
Yayasan Hakka Aceh, FOBI Aceh, dan Persaudaraan Masyarakat Tionghoa Aceh (PerMaTA) tengah mempersiapkan pengiriman bantuan kemanusiaan untuk korban bencana di Pidie Jaya dan Juli, Bireuen (Dok Hakka)

ASKARA - Semangat kemanusiaan kembali menyala di Banda Aceh ketika tim relawan gabungan dari Yayasan Hakka Aceh, FOBI Aceh, dan PerMaTA terlihat bahu-membahu memuat berbagai bantuan ke dalam kendaraan logistik. Malam ini, mereka bekerja tanpa lelah untuk memastikan seluruh bantuan siap diberangkatkan ke wilayah terdampak bencana di Pidie Jaya dan Juli, Bireuen.

Bantuan tersebut rencananya akan meninggalkan Banda Aceh pada Sabtu pagi, 13 Desember 2025, menuju delapan titik posko dan dapur umum. Setiap paket bantuan menjadi simbol kepedulian masyarakat Aceh yang tidak pernah absen hadir ketika sesama membutuhkan. Logistik yang dikirim mencakup kebutuhan darurat bagi warga yang tengah berjuang melewati masa sulit pascabencana.

Di tengah kepadatan persiapan, para relawan tetap menunjukkan raut wajah tulus. Ada keyakinan kuat dalam langkah mereka bahwa setiap perjalanan yang ditempuh adalah upaya untuk menguatkan kembali saudara-saudara yang kini kehilangan tempat tinggal dan fasilitas dasar. Mereka sadar perjalanan menuju lokasi terdampak bukanlah perjalanan yang mudah, tetapi tekad mereka menembus rasa lelah.

Ketua Yayasan Hakka Aceh, Aky, yang juga memimpin FOBI Aceh dan PerMaTA, menggugah harapan masyarakat. “Mohon doa kita semua agar relawan kita semangat, sukses, dan kembali dengan sehat dan selamat dalam misi kemanusiaan ini,” ujarnya. Pesan itu menjadi penyemangat bagi para relawan yang sejak awal telah meneguhkan hati untuk memberikan yang terbaik.

Aksi bantuan ini sekaligus menegaskan soliditas dan kepedulian yang telah lama hidup di Aceh. Kolaborasi lintas komunitas, khususnya dari masyarakat Tionghoa Aceh, menjadi bukti bahwa kepedulian tidak mengenal batas suku, agama, atau latar belakang. Ketika bencana datang, semua bergerak sebagai satu keluarga besar Aceh.

Pengiriman bantuan besok menjadi penanda bahwa dalam kondisi apa pun, Aceh tidak pernah kehilangan ruh gotong royong. Di tengah bencana yang melanda, semangat membantu justru tumbuh lebih kuat. Para relawan ini membawa lebih dari sekadar logistik; mereka membawa harapan, empati, dan keyakinan bahwa Aceh akan bangkit bersama.

 

 

 

 

Komentar