Senin, 15 Juni 2026 | 22:05
NEWS

Mudzakarah MUI Kab. Cirebon: Prof Rokhmin Dahuri Tegaskan Islam Pedoman Hidup Menuju Bahagia Dunia Akhirat

Mudzakarah MUI Kab. Cirebon: Prof Rokhmin Dahuri Tegaskan Islam Pedoman Hidup Menuju Bahagia Dunia Akhirat
Prof. Rokhmin Dahuri berbicara pada Mudzakarah dan Bedah Buku Aktualisasi Rukun Islam Dalam Pemberdayaan dan Kesejahteraan Ekonomi Umat MUI Kab. Cirebon (dok.askara)

ASKARA – Rektor Universitas Muhammadiyah Bogor (UMMI), Prof Dr Ir Rokhmin Dahuri MS, mengajak umat muslim menjadikan Islam sebagai pedoman hidup dalam meraih kebahagiaan dan kesuksesan, baik di dunia maupun di akhirat. Menurutnya, kunci utama terletak pada ketakwaan, yakni menjalankan perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangan-Nya.  

Demikian disampaikan Prof. Rokhmin Dahuri pada Mudzakarah dan Bedah Buku Aktualisasi Rukun Islam Dalam Pemberdayaan dan Kesejahteraan Ekonomi Umat MUI Kab. Cirebon, Rabu, 19 November 2025 di Aula Center PCNU Kab. Cirebon

“Betapa beruntungnya kita menjadi seorang muslim, karena agama Islam yang kita anut merupakan pedoman yang mengatur hidup manusia dari berbagai hal sebagaimana tercantum dalam Al-Qur’an,” ujar Anggota Komisi IV DPR RI itu, dengan tema "Meningkatkan Peran Umat Islam Dalam Mewujudkan Indonesia Emas 2045 Dan Dunia Yang Lebih Baik, Sejahtera, Dan berkelanjutan"

Prof Rokhmin menegaskan, Islam adalah agama sempurna dan paripurna. Allah SWT menciptakan manusia dan dunia sebagai satu kesatuan kehidupan yang utuh, dengan Al-Qur’an dan Hadist sebagai pedoman detail untuk menjaga keseimbangan alam semesta.  

Sebagai contoh, ia menyinggung buku World Without Islam yang menggambarkan kontribusi Islam terhadap peradaban manusia. Mulai dari tata cara bersuci, menjaga lingkungan, bersosialisasi, hingga bernegara, semuanya telah diatur oleh Sang Pencipta.  

Guru Besar Fakultas Kelautan dan Perikanan IPB University itu mengingatkan bahwa kesibukan duniawi sering membuat umat muslim lupa akan aturan agama, sehingga terjerumus pada ketidakadilan dan cara-cara yang tidak benar.  

“Untuk itu, mari kita kembali kepada Islam dan menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Baik secara teologis maupun rasional, orang yang beriman dan bertaqwa kepada Sang Pencipta dipastikan hidupnya akan sukses dan bahagia,” tandasnya.  

Pedoman Hidup Manusia

Menurut Prof. Rokhmin Dahuri, kunci sukses dan bahagia dunia akhirat bukanlah semata-mata materi, kekuasaan, atau teknologi, tetapi adalah iman dan takwa kepada Allah SWT. Ini dicapai dengan menjalankan tiga pilar utama ajaran Islam: iman, syariah, dan ihsan, yang mencakup seluruh aspek kehidupan dan mendorong pencapaian keseimbangan antara kebahagiaan duniawi dan kemuliaan abadi di akhirat. 

Selain itu, ia juga merujuk pada Alquran secara umum untuk menekankan bahwa kebahagiaan dunia dan akhirat bisa diraih dengan iman dan takwa, serta melarang kerusakan di muka bumi sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur'an. 

1. Dari Allah Swt Islam: Sukses dan Bahagia Dunia & Akhirat 

2. Dalil Naqly: • QS.3 : 19, 85, 102, • QS. 5 : 3, 44, 45, 47, • QS 24 : 55, • QS. : 2 - 5, • QS. 7 : 96, • QS. 3 : 133,• QS. 2 : 201

3. Dalil Aqly: • Islam sesuai fitrah manusia, • Jika ingin sukses, maka makhluk mesti 
ikuti pedoman (guidelines) dari Khalik

4. Fakta Empiris: • Ketika umat ISLAM laksanakan Islam secara kaffah dan itiba ➔ Umat Islam Jaya (FattuhKh makkah – Revolusi Industri 1873 M).

The Golden Age Of Moslem 

Prof. Rokhmin Dahuri menyebutkan "Fathu Makkah" (Penaklukan Mekkah) abad 7 M sebagai titik awal kejayaan umat Islam dalam sejarah, khususnya selama periode "The Golden Age" hingga abad ke-18 M. Ia menggunakan periode ini sebagai contoh bagaimana penguasaan ilmu pengetahuan dan penerapan ajaran Islam secara "kaffah" (utuh) dapat membawa kemajuan, kemakmuran, dan keadilan. Dalam konteks modern.

Ketika umat Islam melaksanakan Islam secara kaffah dan ittiba’ hanya 
karena Allah (Fatukh Makkah s/d sebelum Revolusi Industri). Umat 
Islam menguasai IPTEK, maju, adil-makmur, dan menguasai 2/3 wilayah 
dunia. 

Saat itu, Umat Islam menjadi pusat keunggulan (center of excellence) IPTEK dunia, dah para ilmuwan dan teknologi dari seluruh penjuru dunia belajar kepada ilmuwan dan teknolog muslim secara gratis (tidak perlu hak paten dan membayar).

Perguruan Tinggi pertama dan terbaik di dunia adalah Bayt Al-Hikmah  di 
Baghdad pada 832 M di masa Khalifah Al-Mansur (754 – 775 M) dan AlMa’mun (813 – 833 M), Kekhilafahan Abasyiah

Hampir seluruh IPTEK modern dari zaman Revolusi Industri sampai sekarang berasal dari karya-karya monumental Ilmuwan Muslim di era Kejayaan Umat Islam (the Golden Age of Moslem)
(Wallace-Murphy, 2007; Qureshi, 2007).

Pancasila Sejalan Dengan Islam

Prof. Rokhmin Dahuri berpandangan bahwa Pancasila sejalan dengan Islam karena keduanya mendorong kehidupan yang beriman, takwa, dan menjunjung tinggi keadilan serta kemaslahatan. Menurutnya, nilai-nilai Pancasila, seperti keadilan dan kemakmuran, dapat dilihat dalam sejarah kejayaan Islam dan menjadi pedoman untuk Indonesia maju dan berdaulat, menurutnya. Ia juga menekankan bahwa sebagai warga negara Indonesia yang beriman, setiap pemeluk agama harus bertakwa sesuai ajaran agamanya masing-masing. 

Pancasila dan UUD 1945 sebagai Dasar Negara dan Sumber Hukum bagi kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia, sesungguhnya berdasarkan pada Islam dan diinspirasi oleh nilai-nilai Islam: 

Alinea- UUD 1945: "Atas berkat Rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaanya”. 

Kelima Sila dalam Pancasila dirumuskan: Berdasarkan para Al-Qur'an. Sila - 1: "Ketuhanan Yang Maha Esa" bersumber dari QS. Al-Ikhlas, dst. Maka, ketika Umat Islam menjalankan Islam secara kaffah dan itiba sesungguhnya sejalan (tidak bertentangan l) dengan Pancasila.

Prinsip-Prinsip Islam Kaffah dan Ittiba’

1. Tidak sekuler: memisahkan urusan Agama dan urusan negara, urusan dunia dan akhirat; dan menjadikan hanya Al-Qur’an dan Hadits sahih sebagai pedoman hidup manusia (QS. Ali Imran: 19; dan QS. Al-Maidah: 3, 44, 45, dan 47).

2. Keseimbangan antara Dunia dan Akhirat, tetapi menempatkan tujuan
kehidupan di akhirat (terhindar dari siksa kubur dan neraka, dan menjadi
penghuni SURGA) yang lebih utama (QS. Al-Baqarah: 201; QS. Al-Qasas: 77).

3. Ber-iman dan ber-taqwa kepada Allah.
4. Mencintai, menguasai, dan menerapkan IPTEKS dalam kehidupan.
5. Menjadi “tangan diatas” dan “banyak manfaatnya bagi sesama insan”.
6. Memperkokoh Ukhuwah Islamiyah, Ukhuwah Wathoniyah, dan Ukhuwah
Basyariah.

Implementasi Islam Kaffah dan Ittiba’ di Indonesia

Menurut Rokhmin Dahuri, terdapat empat pilar utama atau syarat agar suatu wilayah dapat maju, sejahtera, dan berdaulat: 

Pertama, jalan pembangunan yang holistik, benar, dan dilaksanakan berkesinambungan.

1. Transformasi Struktural Ekonomi: dari berbasis SDA mentah ke INOVASI & 
industri manufaktur.
2. Pengembangan competitive advantages based on comparative advantages
3. Kedaulatan pangan, energi, farmasi, air, dan mineral
4. Digital Economy (Industry 4.0), Blue Economy, Green Economy, dan Ekonomi 
Pancasila.

Kedua, SDM unggul: kompeten, kreatif, inovatif, etos kerja tinggi, akhlak mulia, 
dan imtaq kokoh

1. Pendidikan Berkualitas berkelas dunia.
2. Pelayanan Kesehatan prima
3. Pelatihan & Penyuluhan (Upskilling & Reskilling)
4. Riset untuk hasilkan info ilmiah & inovasi
5. Agama

Ketiga,  Stabilitas Politik Dan Damai (Hard State)

1. Rules of law berdasarkan kebenaran dan keadilan.
2. Azas Meritokrasi
3. Kolaborasi antar Komponen Wilayah
4. Iklim Investasi dan Ease of Doing Business yang kondusif
5. Good Governance

Keempat, Pemimpin yang kompeten, smart, good, dan strong 

1.Sehat jasmani & Rohani
2.Berpendidikan memadai
3.Memiliki kemampuan leadership & managerial yang tinggi
4.Berakhlak mulia: jujur, amanah, fathonah, tabligh, sabar, bersyukur, dan kanaah
5.IMTAQ kokoh menurut agama masing-masing.

Perspektif Ekonomi: Dua Persyaratan persyaratan bagi suatu wilayah 
(Kabupaten/kota, Propinsi, dan Negara) bisa menjadi maju, sejahtera, dan mandiri/ berdaulat

1. Memiliki produktivitas dan daya saing yang tinggi.
2. Mampu menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi (rata-rata > 7% per tahun), berkualitas (menyerap banyak tenaga kerja), inklusif (mensejahterakan seluruh rakyat secara adil), ramah lingkungan, dan berkelanjutan (sustainable).

Pada tataran mikro: negara (daerah) yang memiliki banyak Perusahaan (BUMN/BUMD dan Swasta) dan Koperasi yang mampu menghasilkan barang dan jasa (goods and services) yang berdaya saing tinggi (top quality, harga relatif murah, dan produksi teratur serta berkelanjutan) untuk memenuhi kebutuhan nasional maupun ekspor secara berkelanjutan.

Pada tataran makro: pemerintah yang mampu menyediakan infrastruktur
mumpuni, sarana produksi mencukupi dan relatif murah, SDM unggul, Iklim Investasi dan Ease of Doing Business yang atraktif dan kondusif, dan kebijakan politik-ekonomi yang kondusif.

Pembangunan daya saing bangsa yang lebih murah, mudah, dan cepat berdasarkan pada comparative advantage bangsa. Bagi Indonesia, keunggulan komparatif Adalah Agro-maritim.

Bidang Ekonomi

Ekonomi Islam bertujuan mewujudkan falah (kesejahteraan dunia–akhirat) melalui nilai keadilan, keberkahan, dan perlindungan lima aspek maqashid
syariah (agama, jiwa, akal, keturunan, harta).

Prinsip dasar ekonomi islam untuk kesejahteraan umat

1. Menolak ketimpangan ekstrem dan eksploitasi.
2. Menyatukan dimensi spiritual & sosial dalam aktivitas ekonomi.
3. Etika sebagai fondasi: jujur, amanah, adil, bertanggung jawab.
4. Mendorong penggunaan SDA yang efisien, tidak mubazir, dan ramah
lingkungan.

Pilar Kerangka Ekonomi Islam

Tauhid: Seluruh aktivitas ekonomi bernilai ibadah. Keadilan Distribusi: Ziswaf sebagai sistem 
pemerataan kekayaan. Muamalah Halal: Bebas riba, gharar, dan  maysir.

Kebebasan ekonomi yang bertanggung jawab: Setiap individu boleh berusaha 
selama tidak merugikan orang lain.

Peran Kelembagaan: Negara, MUI, BAZNAS, masjid, dan pesantren 
memastikan tata kelola dan keberpihakan pada yang lemah.

Ziswaf produktif, modal usaha UMKM, petani, nelayan, perempuan, dan pemuda.

Peran Utama Ekonomi Islam Sebagai Engine Kesejahteraan Umat

Membangun kesejahteraan material + spiritual secara seimbang.

Zakat, infak, sedekah, dan wakaf adalah motor fiskal umat yang memperkuat 
daya beli dan menurunkan kemiskinan.

Mendorong pembangunan ekonomi berkelanjutan dan pengurangan ketimpangan.

Relevan bagi Indonesia: mayoritas Muslim + ketimpangan masih tinggi → butuh ekonomi berkeadilan berbasis nilai  Islam.

Potensi Zakat Fitrah Nasional 2025

Jika dioptimalkan dan disalurkan melalui lembaga resmi, zakat fitrah dapat menjadi instrumen strategis untuk peningkatan kesejahteraan umat dan ketahanan ekonomi nasional.

Populasi Muslim Indonesia: 244,41 juta jiwa. Muslim di luar garis kemiskinan: 91,43% (BPS Sept 2024).

Potensi zakat fitrah: 604.813.992 ton beras. Setara nilai: ± Rp 8 triliun
(harga ratarata beras medium Rp 14.337/kg).

Lima provinsi dengan potensi terbesar: Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, DKI Jakarta, Banten (> Rp 5 triliun).

Jika dioptimalkan dan disalurkan melalui lembaga resmi, zakat fitrah dapat menjadi instrumen strategis untuk peningkatan kesejahteraan umat dan ketahanan ekonomi nasional.

Peran ZIS dalam pembangunan sosial umat

Pendidikan: Program beasiswa santri, yatim, dan dhuafa yang menjangkau 
ratusan ribu penerima setiap tahun.
Kesehatan: 

Pengadaan ± 300 klinik dan layanan 
kesehatan/zakat (ambulans gratis, 
bantuan alat kesehatan) bagi masyarakat miskin.

Pangan & kebutuhan dasar: Bantuan rutin kepada ± 1,5 juta mustahik per tahun untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarga rentan.

Penguatan maqashid syariah: Seluruh program sosial ini ikut menjaga agama, akal, jiwa, dan keturunan mustahik sehingga kesejahteraan mereka lebih 
bermartabat.

ZIS Produktif: Modal Usaha & Kemandirian Mustahik

Mendapatkan benih, pupuk, alat tani, dan pelatihan budidaya sehingga produktivitas dan pendapatan meningkat. Petani
Nelayan Dibantu perahu kecil, alat tangkap, BBM, dan cold box agar hasil 
tangkapan lebih banyak dan nilai 
jual lebih tinggi.bUMKM

Memperoleh modal dagang, alat produksi, serta pelatihan keuangan dan branding untuk mengembangkan usaha. Perempuan Santri/Pesantren. Didukung 
membangun usaha rumahan (kuliner, 
fesyen, catering) yang menambah 
penghasilan keluarga. Difasilitasi usaha 
pertanian, peternakan, perikanan, dan 
produk halal sebagai basis kemandirian 
ekonomi lembaga

ZIS Sebagai Motor Pembangunan Ekonomi Berkelanjutan

Menteri Kelautan dan Perikanan 2001-2004 itu menjelaskan, ZIS dapat mengurangi ketimpangan dan kemiskinan melalui distribusi dana ke 8 asnaf secara terarah. Mendukung target SDGs: No Poverty, Quality Education, Reduced 
Inequalities lewat pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi.

Mendorong inklusi keuangan syariah melalui digitalisasi pembayaran 
ZIS.Memperkuat kepercayaan publik 
lewat peningkatan transparansi dan 
akuntabilitas (PSAK 409, pelaporan 
lembaga zakat yang lebih rapi).

Menempatkan ZIS bukan sekadar 
ibadah musiman, tetapi solusi 
struktural pembangunan nasional yang 
berkeadilan.

Masjid & Pesantren Sebagai Pusat Pemberdayaan Ekonomi Dan Ipteks Umat

01. Masjid menjadi pusat ibadah sekaligus pusat ekonomi-sosial: memetakan potensi jamaah, UMKM, dan kebutuhan lokal.
02. DKM diperkuat dengan tata kelola 
keuangan yang transparan, pemisahan dana konsumtif–produktif, dan program ekonomi yang terencana.
03.vAkses pembiayaan syariah mikro 
dikembangkan lewat kerja sama dengan 
BMT, BPRS, bank syariah, dan Bank 
Wakaf Mikro untuk modal usaha jamaah 
& UMKM.

04. Pesantren berbasis Imtaq & Iptek mengelola berbagai unit usaha produktif
(pertanian, peternakan, perikanan,dll ) untuk kemandirian ekonomi dan inklusi keuangan santri serta masyarakat sekitar.

Mengapa Sejak 1924 M Umat Islam Mundur ?

Meninggalkan Al-Qur’an dan Hadist, Tidak melaksanakan Islam secara Kaffah
dan Ittiba’
1. Lemah IMTAQ → Contoh: hanya 25% Umast Islam Indonesia yang sholat
2. Kurang mencintai IPTEK
3. Rendahmya eos kerja dan akhlak
4. Lemahnya Ukhuwah Islamiyah
5. Faktor eksternal: musuh-musuh Islam

Kegagalan Kapitalisme

Kegagalan Kapitalisme Di Bidang Ekonomi

Hingga 2019 (sebelum Covid-19), sekitar 3 milyar penduduk dunia (37%) masih miskin (pengeluaran < US$ 2 per hari), dan sekitar 1 milyar orang masih miskin ekstrem atau fakir (pengeluaran < US$ 1.25 per hari). Sekitar 700 juta warga dunia kelaparan (hungry) (World Bank, UNDP, dan FAO, 2020).

Sekitar 1,3 miliar penduduk dunia tidak memiliki akses terhadap listrik, 900 juta orang tidak memiliki akses terhadap air bersih, 2,6 miliar orang tidak memiliki akses terhadap sanitasi yang sehat, dan sekitar 800 juta penduduk pedesaan tidak memiliki akses terhadap jalan yang tahan segala cuaca dan terputus dari dunia luar pada musim hujan (IEA, 2016).

Saat ini, hampir separuh masyarakat termiskin di dunia memiliki listrik, dan hanya satu dari lima masyarakat yang mempunyai akses terhadap internet (PBB, 2023).

Saat ini, 2,3 miliar orang (28,75% populasi dunia) tinggal di negara-negara dengan kekurangan air (UN, 2023).

Pada tahun 2020, 2 miliar orang tidak memiliki akses terhadap air minum, 3,6 miliar orang (45% dari populasi dunia) tidak memiliki toilet di rumah, dan 2,3 miliar orang tidak memiliki cara untuk mencuci tangan di rumah, kondisi sanitasi yang buruk yang menyebabkan penyakit
(PBB, 2020).

Kondisi seperti itu sangat jauh dari SDGs yang ditetapkan PBB pada tahun 2015. Salah satunya adalah "memastikan akses air dan sanitasi untuk semua pada tahun 2030".

Dalam 270 tahun terakhir, ekonomi dunia telah tumbuh sangat timpang. Misalnya, pada tahun 2010, 388 orang terkaya di dunia memiliki kekayaan lebih banyak daripada seluruh separuh populasi dunia terbawah (3,3 miliar orang). Pada tahun 2017, kelompok terkaya yang memiliki kekayaan melebihi separuh populasi dunia terbawah telah menyusut menjadi hanya 8 orang. Ketimpangan kekayaan yang begitu tinggi tidak hanya terjadi antarnegara, tetapi juga di dalam
negara (Oxfam International, 2019).

Saat ini, negara-negara maju (kaya) dengan populasi hanya 18% dari populasi dunia mengonsumsi sekitar 70% energi dunia, yang sebagian besar (87%) berasal dari bahan bakar fosil, yang merupakan faktor utama penyebab Pemanasan Global (IPCC, 2019).

Pandemi Covid-19 menelanjangi kedok kemunafikan negara-negara maju
kapitalis dengan cara memproduksi dan menimbun vaksin jauh melebihi dari
kebutuhannya. Sementara, negara-negara berkembang (miskin) sangat kekurangan vaksin (Sundaram and Chowdury, 2021). Contoh: Uni Eropa menimbun 3 milyar dosis vaksinb(6,6 dosis/orang); AS punya 1,3 milyar dosis vaksin(5 dosis/orang); Kanada memiliki 450 juta dosis vaksin
(12 dosis/orang); Inggris punya 500 juta dosis vaksin (8 dosis/orang); dan Australia mengamankan 170 juta dosis vaksin (7 dosis/orang).

Hingga 7 Juli 2021, lebih dari 3,32 miliar dosis vaksin telah diberikan,
dengan 85% diberikan kepada negara-negara berpenghasilan tinggi dan menengah ke atas, dan hanya 0,3% diberikan kepada negara-negara berpenghasilan rendah.

Tingkat vaksinasi di Afrika (sejauh ini 4%) adalah yang paling lambat di antara semua benua, dengan beberapa negara belum memulai vaksinasi, sementara tingkat infeksi meningkat pesat. Karena tingkat vaksinasi yang jauh lebih tinggi (> 60% total populasi, persentase minimum untuk membangun komunitas yang berkelompok), angka kematian di
negara-negara maju (kaya) turun dari 59% dari total resmi dunia pada Januari
menjadi 15% pada Mei 2021. Angka kematian akibat pandemi di negara-negara berkembang sekitar
85%, tetapi tetap meningkat pesat (WHO, 2021).

Akibatnya, pertumbuhan ekonomi negara-negara maju pada 2021 ini
diproyeksikan akan meningkat, dari 5,1% menjadi 5,6%. Sebaliknya, di negara-negara berkembang menurun dari 6,7% menjadi 6,3% (IMF, 2021) →
Ketimpangan kaya vs. miskin bakal semakin melebar.

Kegagalan Kapitalisme DI Bidang Lingkungan

Anggota Dewan Penasihat Ilmiah Internasional Pusat Pengembangan Pesisir dan Laut, Universitas Bremen, Jerman menguraikan, pertumbuhan ekonomi global selama 270 tahun terakhir juga telah menyebabkan degradasi lingkungan yang masif yang mengakibatkan tiga krisis ekologi (polusi, hilangnya keanekaragaman hayati, dan Pemanasan Global) yang didorong oleh kegagalan pasar dan kebijakan yang buruk. 

Hampir semua negara di seluruh dunia mengalami skala penipisan sumber daya alam, pencemaran lingkungan, dan dampak negatif Pemanasan Global. Dari tahun 1970 hingga 2018, populasi satwa liar global menurun sebesar 68% (WWF, 2023).

Perubahan Iklim Global dapat secara langsung merugikan ekonomi dunia sebesar US$ 7,9 triliun pada pertengahan abad ini karena meningkatnya kekeringan, gelombang panas, wabah penyakit, banjir, dan gagal panen yang menghambat pertumbuhan dan mengancam infrastruktur (EIU, 2019). Jika suhu Bumi meningkat lebih tinggi dari 1,50C dibandingkan pengukuran dasar, maka dampak negatif Pemanasan Global akan tidak dapat dikelola (IPCC, 2019).

Kegagalan Kapitalisme Di Bidang Sosial Budaya

Di seluruh dunia, terutama di wilayah perkotaan, terjadi peningkatan tingkat stres, ketegangan, dan pertikaian dalam urusan manusia, yang disertai dan meningkat dalam semua gejala anomie (penyakit sosial), seperti frustrasi, kejahatan, alkoholisme, kecanduan narkoba, HIV/AIDS, perceraian, kekerasan terhadap anak, penyakit mental, dan bunuh diri, yang semuanya menunjukkan kurangnya kepuasan batin dalam hidup individu (Brown, 2003; Chapra, 
1995).

Ketidakadilan ekonomi, pengangguran, kemiskinan absolut, dan diskriminasi politik telah banyak dilaporkan dan diyakini sebagai akar penyebab radikalisme dan terorisme (Cavanagh dan Mander, 2004).

Ketua Dewan Pakar ASPEKSINDO (Asosiasi Pemerintah Daerah 
Pesisir dan Kepulauan se Indonesia) itu  menegaskan, Indonesia akan gagal bila terus berpedoman pada kapitalisme. Ia berpendapat bahwa sistem ekonomi kapitalis telah gagal menciptakan kesejahteraan yang merata dan justru memperlebar ketimpangan di berbagai negara, termasuk Indonesia. 

Menurut Prof. Rokhmin Dahuri, kapitalisme telah gagal mengangkat sebagian besar warga dunia dari kemiskinan dan kelaparan, meskipun ada pertumbuhan ekonomi yang kuat dan kemajuan teknologi.

Ia menyoroti bahwa kapitalisme menyebabkan ketimpangan antara kaya dan miskin semakin melebar. Di Indonesia, 1% orang terkaya menguasai hampir setengah kekayaan nasional, menempatkan Indonesia di peringkat ketiga sebagai negara dengan tingkat kesenjangan ekonomi tertinggi di dunia (berdasarkan laporan Credit Suisse 2019).

Ancaman Kelestarian Lingkungan: Sistem kapitalis juga dianggap mengancam kelestarian ekosistem dan peradaban manusia karena eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan, yang terlihat dari jejak ekologis Indonesia yang sudah melampaui daya dukung alamnya.

"Sejatinya Indonesia memiliki potensi (modal dasar) pembangunan yang sangat besar untuk menjadi negara maju, adilmakmur, dan berdaulat," sebut Ketua Umum MAI (Masyarakat Akuakultur Indonesia).

Ekonomi Pancasila

Sebagai alternatif, Prof. Rokhmin Dahuri mendesak pemerintah Indonesia untuk meninggalkan kapitalisme dan kembali menerapkan Ekonomi Pancasila yang dianggap lebih sesuai dengan UUD 1945 Pasal 33. Sistem ini diyakini dapat membawa Indonesia menjadi negara yang maju, adil, makmur, dan berdaulat, dengan mendistribusikan hasil pembangunan secara adil.

Ia yakin bahwa Indonesia memiliki potensi besar, terutama di sektor agromaritim (kelautan dan perikanan), untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan, asalkan dikelola dengan sistem yang tepat di luar kapitalisme. 

"Bahwa berpegang teguh pada kapitalisme akan menjebak Indonesia dalam kondisi ketimpangan dan kegagalan mencapai kemakmuran bersama, sementara solusi terletak pada penerapan ideologi ekonomi yang berlandaskan Pancasila," tegas Duta Besar Kehormatan Kepulauan Jeju dan Kota Metropolitan Busan, Korea Selatan itu.

Komentar