Kardinal Suharyo: Kita Butuh Pahlawan Baru Penjaga Kemanusiaan dan Pancasila
ASKARA - Dalam Misa Kudus Peringatan Hari Pahlawan yang digelar Ordinariatus Castrensis Indonesia (OCI) atau Keuskupan untuk Umat Katolik di Lingkungan TNI-Polri, di Gereja Katedral Jakarta, Selasa (11/11), Kardinal Ignatius Suharyo mengajak umat Katolik di lingkungan TNI, Polri, dan Kementerian Pertahanan untuk merenungkan kembali makna kepahlawanan di masa kini.
"Kita bersyukur kepada Tuhan karena OCI boleh merayakan Hari Pahlawan. Banyak tulisan tentang pahlawan dan kepahlawanan, namun kita diajak merenungkan apa makna pahlawan di masa kini," ujar Uskup Suharyo dalam homilinya.
Kardinal menegaskan, kepahlawanan di zaman modern tidak hanya diukur dari pengorbanan jiwa di medan perang, tetapi juga dari kontribusi nyata dalam memperjuangkan kemanusiaan.

Dalam renungannya, Kardinal Suharyo menceritakan kisah simbolis tentang burung nuri dan pohon tua yang rindang. Pohon yang menjadi tempat bersarang banyak burung terkena panah beracun ketika seorang pemburu mengejar kijang. Pohon itu kemudian meranggas dan ditinggalkan semua burung, kecuali seekor nuri yang setia.
"Nuri itu tidak mau pergi karena di pohon itu kakek, nenek, dan orang tuanya pernah bersarang. Kesetiaan nuri yang berhati mulia membuat seorang peziarah, yang ternyata adalah Maha Dewa, mengabulkan doanya agar pohon menjadi hijau kembali," tutur Kardinal.

Kisah itu, lanjutnya, adalah perumpamaan tentang kemanusiaan yang terluka dan perlambang Pancasila yang juga terluka.
Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, sering disalahgunakan untuk menebar kebencian dan kekerasan.

Sila kedua, Kemanusiaan yang adil dan beradab, terluka oleh perdagangan orang, kekerasan dalam rumah tangga, dan diskriminasi.
Sila ketiga, Persatuan Indonesia, masih diuji karena sebagian warga bangsa belum mendapat perlakuan yang adil dan setara.

Sila keempat, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan, sering dilukai oleh kepentingan diri dan kekuasaan.
Sila kelima, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, masih jauh dari terwujud karena kesenjangan sosial yang semakin lebar.

"Kita membutuhkan pahlawan-pahlawan baru, penjaga Pancasila dan perawat kemanusiaan," tegas Kardinal Suharyo. Ia menambahkan bahwa TNI dan Polri memiliki peran istimewa sebagai pahlawan tanpa tanda jasa di tempat tugas masing-masing.
"Pahlawan sejati adalah mereka yang menyembuhkan luka-luka, yang memahami kebenaran dan menghidupi kasih. Semoga semangat pahlawan itu kita wariskan kepada keluarga, masyarakat, dan bangsa," tutup Uskup Suharyo dalam homilinya yang disambut hening penuh refleksi oleh umat.

Komentar