Cinta Mengalahkan Segalanya
Uskup Mandagi Ajak Umat Jadi Pendekar Kasih di Tengah Dunia yang Terluka
ASKARA - Uskup Agung Merauke, Mgr. Petrus Canisius Mandagi, M.S.C., memimpin Misa Ekaristi Kudus pagi sebagai selebran utama pada hari ketiga Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) 2025 di Mercure Convention Center, Ancol, Jakarta. Rabu (5/11).
Ia didampingi Uskup Jayapura, Mgr. Yanuarius Theofilus Matopai You, serta sejumlah uskup lainnya.
Dalam homilinya, Mgr. Mandagi mengangkat tema tentang kekuatan cinta dan pengampunan dengan mengutip pepatah bijak dalam bahasa Latin, "Amor vincit omnia," Cinta mengalahkan segalanya. Ia juga menuturkan kisah ketika Kardinal Suharyo memintanya menjadi Administrator Apostolik Keuskupan Merauke, sebagai wujud ketaatan dan cinta terhadap Gereja.
Mengulas bacaan Kitab Suci hari itu, Mgr. Mandagi menegaskan pentingnya menempatkan Yesus di atas segala hal. "Barang siapa tidak dapat melepaskan diri dari segala yang dicintainya, ia tidak dapat menjadi murid Yesus," ujarnya.
Dalam renungannya, Mgr. Mandagi juga mengisahkan teladan seorang pastor di Guatemala yang berani melawan tekanan dari tuan tanah dan pemerintah. "Sebelum ditembak, ia membuka bajunya dan tampak kaus bergambar Yesus. Beberapa tahun kemudian, ia dinyatakan beato," kisahnya.
Sebagai gembala umat di Amboina selama 27 tahun, Mgr. Mandagi mengaku telah melalui banyak penderitaan, termasuk saat tragedi berdarah di Maluku. Namun, katanya, "Di atas segala-galanya adalah cinta. Tragedi berdarah tidak bisa diselesaikan dengan balas dendam, tetapi hanya melalui dialog dan kasih."
Ia mengajak seluruh umat untuk menjadi "pendekar cinta kasih," dengan mewartakan damai melalui pengampunan. Mengutip Paus Yohanes Paulus II, Mgr. Mandagi menegaskan, "Dendam mungkin menguntungkan dalam jangka pendek, tetapi pengampunan memberi keuntungan dalam jangka panjang."
"Menebarkan damai tanpa pengampunan adalah omong kosong," tegasnya. "Kita harus berani keluar dari zona nyaman, menjadi misioner, dan terus berziarah dalam pengharapan. Sebab Yesus adalah pokok pengharapan kita."
Mgr. Mandagi menutup homilinya dengan seruan penuh makna:
"Cinta harus diproklamasikan. Bila tidak ada pengampunan, tidak akan ada damai. Karena hanya cinta yang mampu mengalahkan segalanya."

Komentar