Benny Joewono: PWI Jaya Harus Jadi Rumah Cerdas bagi Wartawan Ibu Kota
ASKARA - Ketua Dewan Penasihat Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jaya, Benny N. Joewono, menegaskan pentingnya menjadikan PWI Jaya sebagai rumah cerdas bagi para wartawan di ibu kota. Menurutnya, konsep rumah cerdas bukan sekadar slogan, melainkan visi yang dapat menjadi arah pengembangan organisasi ke depan. “Makna menjadikan PWI Jaya sebagai rumah cerdas bisa dijadikan deskripsi visi atau tagline organisasi,” ujarnya, Selasa (14/10).
Benny menjelaskan, rumah cerdas berarti tempat bagi jurnalis untuk belajar, berinovasi, dan berbagi pengetahuan. Ia menilai, PWI Jaya harus berfungsi sebagai pusat pengembangan kapasitas, kolaborasi, serta wadah untuk menumbuhkan nilai profesionalisme dan etika jurnalistik di tengah tantangan era digital. “Tantangannya bukan hanya melindungi, tetapi juga mencerdaskan, menghubungkan, dan mengangkat martabat profesi wartawan di mata publik,” tegasnya.
Sebagai contoh, Benny menawarkan beberapa bentuk pengembangan konsep tersebut. Pertama, PWI Jaya dapat menjadi ruang tumbuhnya wawasan, etika, dan inovasi media bagi anggotanya. Kedua, organisasi ini harus mampu membina dan menginspirasi wartawan agar tetap adaptif terhadap perkembangan teknologi informasi. Ketiga, PWI Jaya mesti menjadi tempat bagi jurnalis untuk belajar, berjejaring, dan bertransformasi dalam menghadapi perubahan zaman.
Dalam kapasitasnya sebagai Ketua Dewan Penasihat PWI Jaya yang baru, Benny menggantikan Johnny Hardjojo untuk masa bakti 2024–2029. Ia menyatakan akan melanjutkan pola kepemimpinan pendahulunya yang dinilai familiar dan inklusif. “Saya mohon dukungan dari para anggota Wanhat, baik senior maupun yang baru, agar kita bersama-sama menjaga semangat PWI Jaya sebagai barometer wartawan,” katanya di sekretariat PWI Jaya.
Lebih lanjut, Benny menyoroti peran penting PWI Jaya dalam melahirkan tokoh-tokoh pers nasional. Ia menyebut nama-nama besar seperti Adam Malik, Harmoko, Jakob Oetama, Rosihan Anwar, dan SK Trimurti sebagai figur yang memperkuat posisi wartawan di tengah masyarakat. “Mereka dihargai karena dekat dengan masyarakat dan memiliki karya nyata yang berdampak. Dari situ, pengaruh mereka bahkan sampai ke tingkat kebijakan nasional,” tuturnya.
Menutup paparannya, Benny menanggapi pernyataan Ketua PWI Jaya Kesit Budi Handoyo terkait pentingnya membangun otoritas moral dan intelektual organisasi. Ia menegaskan bahwa integritas dan etika harus menjadi pilar utama PWI Jaya. “Kita wajib memberi teguran atau punishment kepada anggota yang tidak beretika. Mekanismenya tentu di Dewan Kehormatan yang lebih memahami prosedur itu,” pungkasnya.

Komentar