Kamis, 09 Juli 2026 | 10:21
NEWS

Pesan Tersembunyi dari Jagat Raya

Malam Bulan Darah, Saat Semesta Menguji Manusia

Malam Bulan Darah, Saat Semesta Menguji Manusia
Gerhana Bulan (Dok Pixabay)

ASKARA - Sebuah fenomena langit yang sarat nuansa mistis akan menyelimuti bumi. Pada 7-8 September 2025, dunia akan menyaksikan Gerhana Bulan Darah (Blood Moon) terpanjang tahun ini. Selama 82 menit, wajah bulan akan berubah merah darah, menyedot perhatian tak kurang dari 7 miliar pasang mata di seluruh dunia.

Langit malam akan menjadi panggung epik ketika Bulan merona merah tua di rasi Aquarius, ditemani sinar Saturnus yang berkilau di dekatnya. Sebuah "duet kosmik" yang oleh banyak budaya kuno kerap diyakini sebagai pertanda perubahan besar.

Fenomena langka ini dapat disaksikan dari Indonesia mulai pukul 23.27 WIB hingga menjelang fajar, 8 September. Saat pukul 01.12 WIB, Bulan akan mencapai puncak kegelapannya, memancarkan cahaya merah pekat yang kerap dikaitkan dengan mitos, ramalan, dan kisah tentang rahasia semesta.

Berikut jadwal lengkap gerhana (WIB):

23.27 - Gerhana Sebagian Dimulai

00.30 - Gerhana Total

01.12 - Bulan Darah Maksimum

01.53 - Gerhana Total Berakhir

02.56 - Bulan Pulih

03.55 - Gerhana Usai

Dalam tradisi Nusantara, gerhana bulan darah tidak hanya dianggap fenomena langit, tetapi juga pertanda gaib. Orang Jawa menyebutnya dino peteng, malam yang diyakini membawa isyarat perubahan nasib atau peringatan bagi pemimpin yang lalai. Di Bali, warna merah pada bulan kerap dipandang sebagai tanda Bhatara Kala menelan rembulan, simbol kekuatan alam semesta yang menuntut keseimbangan.

Sementara di tanah Bugis, gerhana dipercaya sebagai momen ketika dunia arwah dan manusia saling bersentuhan, sehingga doa dan permohonan akan lebih cepat terkabul. Adapun masyarakat Dayak meyakini bahwa gerhana adalah saat roh penjaga bumi berkomunikasi dengan manusia melalui tanda-tanda alam.

Apa pun maknanya, Bulan Darah malam ini adalah undangan untuk sejenak menengadah, menyatu dengan jagat raya, dan merenungi misteri yang melampaui nalar. Sebab di balik merahnya langit, tersimpan pesan abadi bahwa manusia hanyalah bagian kecil dari jagat raya yang maha luas.

 

Komentar