Jangan Tinggalkan Allah Karena Dunia
ASKARA - Nabi Sulaiman adalah simbol kemuliaan, kekuasaan, dan kekayaan. Ia memiliki istana megah, bala tentara dari manusia, jin, dan burung, bahkan bisa bercakap dengan semut. Namun, satu hal tak pernah ia tinggalkan: Tuhannya. Lalu kita, yang belum punya apa-apa, mengapa justru sering meninggalkan ibadah hanya karena urusan dunia?
Kisah Nabi Sulaiman bukan hanya tentang kekuasaan yang luar biasa. Ia adalah pelajaran tentang bagaimana seharusnya kita bersikap saat Allah memberi kita kelapangan hidup. Di tengah segala nikmat yang melimpah ruah, Nabi Sulaiman tetap tunduk dan tidak pernah melupakan Sang Pemberi Nikmat. Bahkan ketika ia menyebut semua kekuasaannya, ia selalu menyambungkannya dengan nama Allah.
اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman:
﴿وَوَهَبْنَا لِدَاوُۥدَ سُلَيْمَـٰنَۚ نِعْمَ ٱلْعَبْدُ إِنَّهُۥٓ أَوَّابٌ﴾
"Dan Kami karuniakan kepada Dawud, (seorang putra) Sulaiman. Dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Allah)." (QS. Shad: 30)
Ketaatan Nabi Sulaiman tidak surut meski dunia berada di tangannya. Bahkan ketika ia terlupa sejenak karena kekaguman pada kuda-kuda perangnya, ia segera menyesal dan memohon ampun kepada Allah. Dalam riwayat tafsir disebutkan bahwa beliau langsung menyembelih kuda-kuda itu sebagai bentuk penebusan, agar tidak ada satu pun yang membuatnya lalai dari mengingat Allah.
Dalam firman-Nya:
﴿فَقَالَ إِنِّيٓ أَحْبَبْتُ حُبَّ ٱلْخَيْرِ عَن ذِكْرِ رَبِّي حَتَّىٰ تَوَارَتْ بِٱلْحِجَابِ رُدُّوهَا عَلَيَّۖ فَطَفِقَ مَسْحًۭا بِٱلسُّوقِ وَٱلْأَعْنَاقِ﴾
"Ia berkata: ‘Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap harta (kuda) karena mengingat Tuhanku, sampai kuda itu hilang dari pandangan.’ (Kemudian ia berkata): ‘Bawalah kuda-kuda itu kembali kepadaku,’ lalu ia potong kaki dan leher kuda itu." (QS. Shad: 32–33)
Inilah pelajaran mahal. Nabi Sulaiman tidak menaruh hati pada dunia, meski dunia tunduk di bawah kakinya. Maka, bagaimana dengan kita? Yang hari ini belum punya pekerjaan tetap, belum punya rumah, belum punya kendaraan layak, namun justru begitu mudahnya meninggalkan salat, lupa baca Al-Qur'an, dan jarang sekali menyebut nama-Nya?
Ketika rezeki masih sedikit, kita sering berkata, “Tunggu stabil dulu, nanti baru ibadah lebih rajin.” Tapi saat rezeki mulai lancar, malah makin sibuk dengan dunia, semakin berat bangun malam, makin malas berjemaah di masjid, bahkan lebih sibuk dengan notifikasi ponsel daripada ayat-ayat Al-Qur’an.
Rasulullah ﷺ bersabda:
«تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ وَعَبْدُ الدِّرْهَمِ»
"Celakalah hamba dinar dan hamba dirham." (HR. Bukhari no. 2887)
Kalimat ini bukan sekadar sindiran, melainkan peringatan keras bahwa siapa pun yang hatinya terikat pada dunia, bukan pada Allah, maka ia akan hidup penuh kegelisahan. Sebab dunia itu seperti bayangan, dikejar tak akan pernah tertangkap. Tapi kalau kita arahkan wajah kepada Allah, dunia justru akan datang menghampiri, sebagaimana sabda Nabi ﷺ:
«مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ، فَرَّقَ اللَّهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا كُتِبَ لَهُ، وَمَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ نِيَّتَهُ، جَمَعَ اللَّهُ لَهُ أَمْرَهُ، وَجَعَلَ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ»
"Barang siapa yang menjadikan dunia sebagai tujuannya, maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di depan matanya, dan dunia tidak akan datang kepadanya kecuali yang telah ditetapkan untuknya. Dan barang siapa yang menjadikan akhirat sebagai niat utamanya, maka Allah akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan datang kepadanya dalam keadaan hina." (HR. Ibn Majah no. 4105)
Hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan hanya mengejar dunia. Dunia bukan tempat tinggal, melainkan tempat singgah. Satu hari kita akan mati, dikafani, dikubur, lalu ditanya: Apa yang kamu lakukan dengan hidupmu? Maka jawaban terbaik bukanlah “Aku sukses membangun perusahaan,” tetapi, “Aku tak pernah lalai dalam salatku.”
Mari kita kembali ke titik awal: Nabi Sulaiman punya segalanya, tapi tidak pernah meninggalkan Tuhannya. Ia tidak melupakan ibadah meski sibuk memimpin umat. Maka sudah selayaknya kita bertanya pada diri sendiri: kita ini siapa, sampai-sampai ibadah sering kita tinggalkan?
Mungkin kita belum merasa butuh. Belum ditimpa sakit, belum kehilangan orang tercinta, belum dihadapkan pada ajal. Tapi, bukankah bijak jika kita bersiap sebelum semuanya terjadi?
Allah Ta'ala berfirman:
﴿وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ﴾
"Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku." (QS. Az-Zariyat: 56)
Kita diciptakan bukan untuk menumpuk harta, bukan untuk bersaing dalam gemerlap dunia, tapi untuk menyembah Allah. Dunia hanyalah sarana, bukan tujuan. Dan Nabi Sulaiman membuktikan itu. Ia gunakan hartanya, kerajaannya, pengaruhnya—semua untuk menguatkan ketakwaannya.
Mari kita mulai dari hari ini. Jangan tunggu nanti. Jangan tunggu tua. Jangan tunggu sukses. Karena jika sukses menjadi syarat taat, maka itu bukan ketaatan, melainkan perhitungan dagang dengan Allah. Kita tidak pernah tahu kapan waktu kita habis. Tapi kita tahu satu hal pasti: hanya orang yang dekat dengan Allah yang akan selamat, di dunia maupun di akhirat.
Semoga kita menjadi hamba yang tak meninggalkan Tuhan, sekalipun dunia belum berpihak kepada kita. Sebab sesungguhnya, dunia yang kita tunggu, justru sedang menanti kita dekat kepada Allah. (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar