Derita Ibu Di Tengah Rumah Mewah
ASKARA - Ada rumah yang tampak megah dari luar, namun di dalamnya kosong dari keberkahan. Ada dinding yang kokoh, namun tidak bisa meredam tangis seorang ibu yang disingkirkan dari hidup anak kandungnya sendiri. Ketika harta menjadi pengikat nafsu dan bukan sarana berbakti, maka jadilah rumah megah itu saksi dari murka Allah yang nyata.
Rumah itu berdiri megah di ujung kampung. Dengan cat baru yang mengilap, pagar besi yang tinggi, dan halaman luas yang dipenuhi bunga-bunga. Namun di balik kemewahan itu, tersimpan luka yang tak terobati. Seorang ibu tua, yang tubuhnya sudah membungkuk dan suaranya bergetar, duduk di pinggir jalan, menatap rumah itu dengan mata berkaca-kaca. Ia hanya bisa mengenang bahwa setiap bata rumah itu berasal dari hasil keringatnya sendiri. Ia menjual sawah warisan almarhum suaminya, demi anak semata wayangnya bisa membangun rumah dan hidup layak. Tapi kini, ketika kulitnya mengeriput dan tenaganya habis, sang anak mengusirnya seperti mengusir beban yang tak diinginkan.
Betapa ngeri jika anak menukar kasih sayang ibu dengan kenyamanan dunia. Rasulullah ﷺ telah memperingatkan umatnya tentang besarnya hak seorang ibu. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA, disebutkan:
جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ: أُمُّكَ، قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: أُمُّكَ، قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: أُمُّكَ، قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: أَبُوكَ
"Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah ﷺ lalu bertanya, 'Wahai Rasulullah, siapa yang paling berhak mendapat perlakuan baik dariku?' Beliau menjawab, 'Ibumu.' Ia bertanya lagi, 'Lalu siapa?' Beliau menjawab, 'Ibumu.' Ia bertanya lagi, 'Lalu siapa?' Beliau menjawab, 'Ibumu.' Ia bertanya lagi, 'Lalu siapa?' Beliau menjawab, 'Ayahmu.'" (HR. Bukhari dan Muslim)
Tiga kali Rasulullah ﷺ menyebut ibu. Karena sesungguhnya keletihan ibu dalam mengandung, melahirkan, menyusui, dan membesarkan anak-anaknya tak pernah bisa ditukar dengan apapun. Bahkan Allah ﷻ sendiri menegaskan hal ini dalam Al-Qur'an:
وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا ۖ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا ۖ وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا
"Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun." (QS. Al-Ahqaf: 15)
Namun kini, manusia semakin lalai. Harta dianggap lebih mulia daripada jasa. Ibu yang dulu memberi segalanya, justru dihinakan ketika ia tak lagi bisa memberi. Seolah keberadaannya hanya layak di masa muda dan kuat, bukan di masa lemah dan renta.
Padahal, Nabi ﷺ bersabda:
رَغِمَ أَنْفُهُ، ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ، ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ، قِيلَ: مَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: مَنْ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ عِندَ الْكِبَرِ، أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا، ثُمَّ لَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ
"Celaka, celaka, celaka!" Para sahabat bertanya, "Siapa yang celaka, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Orang yang mendapati kedua orang tuanya atau salah satunya dalam keadaan tua, namun dia tidak masuk surga (karena tidak berbakti kepada keduanya)." (HR. Muslim)
Betapa meruginya anak-anak yang menjadikan rumah mewah sebagai lambang sukses, tapi mencampakkan ibu mereka ke jalanan. Rumah itu akan menjadi saksi atas pengkhianatan terhadap cinta yang suci. Dindingnya akan memantulkan keluhan ibu yang mengadu kepada Allah dalam diam. Dan ketika waktu berbalik, anak itu akan merasakan sendiri, bagaimana rasanya menjadi tua, lemah, dan dibuang.
Allah ﷻ memberi janji sekaligus ancaman:
فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا
"Maka janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah' dan janganlah engkau membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia." (QS. Al-Isra’: 23)
Tidak boleh berkata "ah" saja kepada orang tua, apalagi sampai mengusir dan menyia-nyiakan mereka. Seburuk-buruk akhlak adalah ketika seseorang lebih menghargai tamu daripada ibu kandungnya sendiri. Ia takut dicela manusia, tapi tidak takut dimurkai Allah.
Lihatlah betapa banyak orang sukses yang tetap menjadikan ibu sebagai poros hidupnya. Mereka paham, di balik setiap keberhasilan ada doa yang keluar dari bibir yang bergetar dalam sujud. Tapi ada pula yang membuang ibunya, lalu heran mengapa hidupnya selalu didera masalah, meski hartanya melimpah. Sebab, keberkahan tak datang dari jumlah, tapi dari rida orang tua.
Ibnul Jauzi rahimahullah pernah berkata, “Tidak akan berkah hidup seorang anak yang membuat ibunya menangis karena perlakuannya sendiri.” Sebab, setiap air mata ibu yang jatuh karena ulah anaknya, akan dibalas oleh Allah dengan kesempitan rezeki, kesulitan hidup, dan jauh dari rahmat-Nya.
Maka bagi siapa pun yang masih memiliki ibu, rawatlah ia seperti merawat kehidupanmu sendiri. Jangan tunggu menyesal di kemudian hari, ketika kuburan ibu menjadi satu-satunya tempat yang bisa kau kunjungi, namun tak bisa lagi mendengar suaranya. Doakan ia, peluk ia, bahagiakan ia selama nyawa masih bersemayam dalam raga. Karena di balik punggung seorang ibu, ada surga yang menanti atau neraka yang mengintai. Pilihan itu ada di tangan kita: menjadi anak yang membawa bahagia atau menjadi sebab luka yang tak pernah reda. (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar