Minggu, 07 Juni 2026 | 20:18
Editorial

Kemenyan Mahal, Akal Sehat Murah Meriah

Kemenyan Mahal, Akal Sehat Murah Meriah
Wapres Gibran Rakabuming Raka (int)

ASKARA - Ketika nikel telah dilumat investor besar dan kebijakan abu abu, Wakil Presiden Gibran mendadak menemukan “mutiara lama” bernama kemenyan. Ia menyamakannya dengan nikel, logam strategis dunia. Apakah ini strategi hilirisasi atau hilirisasi akal sehat? Indonesia tak butuh jargon baru, tapi kebijakan konkret yang tak beraroma sensasi.

Ada hal menarik, sekaligus membingungkan, dari pernyataan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang mendorong hilirisasi kemenyan. Menurutnya, kemenyan memiliki nilai strategis seperti nikel. Ia bahkan menyebut bahwa merek parfum kenamaan dunia seperti Louis Vuitton dan Gucci menggunakan kemenyan sebagai bahan baku. Sebuah klaim yang tampak beraroma eksotis dan penuh ambisi, tetapi juga menyisakan banyak pertanyaan kritis.

Apakah ini strategi industrialisasi berbasis kekayaan lokal? Atau sekadar headline murah yang sedang dicari agar tampak seperti sedang bekerja?

Mari kita mulai dengan masalah mendasarnya.

Indonesia memang kaya akan sumber daya alam. Dari hutan, tambang, laut, sampai aroma mistis pun bisa dijadikan komoditas. Tapi masalahnya, selama ini kekayaan itu hanya menjadi objek eksploitasi. Hilirisasi pun seringkali hanya menjadi kata kunci dalam pidato pidato tanpa arah. Hilirisasi nikel, misalnya, diklaim sebagai lompatan besar industrialisasi, tapi faktanya, justru menciptakan monopoli asing, kerusakan lingkungan, dan buruh yang hidup dalam kontradiksi.

Kini kemenyan naik panggung. Sebagai negara tropis dengan kekayaan flora, Indonesia memang penghasil kemenyan berkualitas. Namun mengangkatnya setara dengan nikel? Di sinilah masalah logika dimulai.

Kemenyan memang memiliki nilai ekonomi, terutama untuk industri parfum, farmasi, hingga upacara keagamaan. Tapi nilai tambah dari kemenyan bukan semata mata soal membangun pabrik parfum di desa. Itu butuh riset, inovasi kimia, branding, dan pasar global yang sangat kompetitif. Apakah kita sudah punya itu semua? Atau baru punya ide mentah yang kemudian dijual dengan bumbu “hilirisasi”?

Di titik ini, publik berhak curiga.

Apakah Gibran benar benar hendak mendorong nilai tambah industri berbasis tanaman lokal, atau sedang menyulap narasi agar tampak progresif? Karena hilirisasi itu bukan sekadar memproses bahan mentah jadi produk jadi. Hilirisasi adalah strategi ekonomi yang menyeluruh: infrastruktur, teknologi, SDM, dan pasar. Tanpa itu, “hilirisasi kemenyan” hanya akan menjadi jargon seperti “susu kuda liar”, terdengar eksotis tapi tak punya roadmap industri yang nyata.

Kita belum melihat bagaimana negara memperkuat riset lokal soal kemenyan. Kita belum melihat langkah serius membangun ekosistem bisnis dari hulu ke hilir. Yang kita lihat baru satu hal: pernyataan simbolik di depan kamera.

Masalahnya bukan pada niat Gibran, tetapi pada kebiasaan elite kita yang sering kali menjual gagasan seolah olah dunia sedang menunggu Indonesia bangkit dari kemenyan. Pernyataan bombastis tanpa kajian mendalam bisa berbahaya. Ia menyesatkan arah kebijakan, membuang energi publik, dan melahirkan ekspektasi palsu.

Seandainya benar hendak mendorong hilirisasi kemenyan, mari kita bicara solusi konkret.

Pertama, bangun laboratorium riset khusus tanaman aromatik lokal yang terintegrasi dengan universitas dan industri. Jangan sekadar mengandalkan pengusaha kecil di pedalaman Sumatera yang membakar kemenyan dengan cara turun temurun. Ilmu harus menyokong aroma.

Kedua, ciptakan ekosistem pembiayaan inovasi berbasis produk alam. Jangan tunggu unicorn baru muncul dari Silicon Valley, kita bisa lahirkan aromaicorn dari hutan tropis sendiri, asal negara serius memberi ruang.

Ketiga, bangun branding nasional. Produk berbasis kemenyan harus hadir dalam kemasan global, bukan sekadar dijual sebagai “pengusir roh jahat.” Kita punya potensi, tapi tidak boleh mengabaikan pentingnya estetika dan persepsi dunia.

Keempat, pastikan pelibatan masyarakat adat dan petani lokal dalam rantai nilai. Jangan sampai nasib mereka seperti buruh tambang nikel yang hidup di bawah tekanan dan kontrak sepihak. Hilirisasi tanpa keadilan hanya akan melanggengkan kolonialisme dalam bentuk baru: dari alam, oleh elite, untuk investor.

Kelima, dan paling penting, berhentilah menganggap pernyataan politik adalah kebijakan. Rakyat tidak butuh retorika, mereka butuh arah.

Indonesia memang harus berani menciptakan terobosan ekonomi berbasis kekayaan lokal. Tetapi jika semuanya disamaratakan seperti “kemenyan sama berharganya dengan nikel,” kita sedang menyamakan logika dengan ilusi. Hilirisasi tidak bisa diukur dari viralitas pernyataan, melainkan dari keberlanjutan ekosistem ekonomi dan kesejahteraan pelaku utamanya.

Gibran mungkin benar bahwa kemenyan bernilai tinggi. Tapi mari berhenti mengukur nilai sebuah komoditas hanya dari merek parfum yang menggunakannya. Jangan sampai kita mengulang kesalahan lama, mengira punya emas, padahal hanya punya logam yang bersinar sesaat.

Jangan sampai, dalam semangat hilirisasi yang membabi buta, kita justru kehilangan arah kebijakan, dan hanya menyisakan aroma harum untuk elite, tapi asap pekat untuk rakyat.

Dan pada akhirnya, kita tak butuh terlalu banyak kemenyan untuk menyegarkan ekonomi.

Yang kita butuh adalah logika sehat yang tidak terbakar oleh ambisi simbolik. (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar