Selasa, 21 Juli 2026 | 22:47
COMMUNITY

Ketua PWI Babel Desak Polisi Ungkap Dalang Pengeroyokan Wartawan

Ketua PWI Babel Desak Polisi Ungkap Dalang Pengeroyokan Wartawan
Ketua PWI Babel desak polisi ungkap dalang pengeroyokan terhadap wartawan (Dok Freepik-PWI)

ASKARA - Kasus kekerasan terhadap jurnalis kembali terjadi. Kali ini menimpa Lendra Agustian, anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Babel, dan dua wartawan lainnya saat melakukan peliputan proyek tambak udang milik PT VIP di Belitung Timur, Kamis (17/7/2025).

Ketua PWI Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Mohammad Fathurrakhman, akrab disapa Boy, geram dan mendesak aparat kepolisian mengusut tuntas kasus ini. Ia curiga, aksi pengeroyokan oleh sekelompok preman bukan sekadar insiden spontan, melainkan diduga kuat sudah dirancang.

“Ada indikasi ini bukan kejadian biasa. Dari informasi korban dan sejumlah pihak, bahkan sebelumnya korban sempat dihubungi oknum terkait pemberitaan tambak udang. Ini terkesan sistematis,” kata Boy, Kamis malam.

Boy menduga ada aktor intelektual di balik kejadian ini. “Jangan hanya berhenti pada pelaku lapangan. Polisi harus bongkar siapa dalangnya. Ini jelas mengancam kemerdekaan pers,” tegasnya.

Ia menekankan, jurnalis bekerja berdasarkan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, dan tindakan intimidasi serta kekerasan adalah bentuk kriminal yang tidak bisa ditoleransi.

“Tak peduli siapa pun aktor intelektualnya, harus bertanggung jawab di hadapan hukum. Ini bukan sekadar kekerasan fisik, ini upaya membungkam kebenaran,” ujar Boy dengan nada tinggi.

Atas kejadian ini, PWI Babel berkomitmen memberikan perlindungan penuh kepada korban. Boy menyebut pihaknya sedang mempertimbangkan pembentukan tim khusus untuk mengawal kasus tersebut.

Sebelumnya, Lendra dan dua jurnalis lainnya dikeroyok sejumlah preman saat meliput aktivitas tambak udang Vaname di kawasan Tanjung Batu Burok, Desa Mengkubang, Kecamatan Damar, Belitung Timur. Lendra mengalami luka memar di wajah dan tubuh.

Kasus ini telah dilaporkan ke Polres Belitung Timur dan kini dalam proses penyelidikan. PWI Babel menegaskan tidak akan tinggal diam.

 

 

Komentar