Senin, 13 Juli 2026 | 17:10
NEWS

Legislator PKB: Era Diplomasi Digital Butuh Partisipasi Aktif Seluruh Rakyat Indonesia

Legislator PKB: Era Diplomasi Digital Butuh Partisipasi Aktif Seluruh Rakyat Indonesia
Anggota Komisi I DPR Fraksi PKB Syamsu Rizal (dok KWP)

ASKARA- Diplomasi dinilai bukan lagi domain para diplomat, melainkan menjadi tanggung jawab kolektif seluruh rakyat Indonesia, terutama di era digital yang menjadikan setiap individu sebagai aktor potensial dalam membentuk citra bangsa.

Demikian disampaikan anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi PKB, Syamsu Rizal dalam forum Dialektika Demokrasi bertajuk “Dubes Baru Harapan Baru: Upaya Maksimalkan Diplomasi RI” di Kompleks Parlemen, Senayan, Kamis (17/7/2025).

Menurut dia, transformasi diplomasi Indonesia saat ini sangat penting dilakukan agar lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi dan pola interaksi global yang kini serba digital.

“Ketika Anda membuka Google atau media sosial, Anda sebenarnya sedang berdiplomasi,” tegas Rizal. Dia mengatakan pendekatan diplomasi konvensional yang bergantung pada pertemuan tatap muka harus digeser ke arah diplomasi digital—atau cyber diplomacy—yang dinilai lebih cepat, efisien, dan menjangkau lebih luas.

Dia mencontohkan penandatanganan perjanjian bilateral oleh kepala negara hanyalah puncak dari proses diplomasi panjang yang kini sebagian besar dijalankan secara daring oleh tim teknis dan kementerian terkait. “Presiden hanya menandatangani. Semua tahapan diplomasi sudah selesai jauh sebelumnya lewat platform digital,” ujarnya.

Kepada para dubes yang baru, Rizal juga mengingatkan tentang kekuatan soft power Indonesia melalui aksi kemanusiaan. Salah satu contohnya adalah keberhasilan tim penyelamat Indonesia dalam mengevakuasi pendaki asal Brasil dari Gunung Rinjani. Aksi tersebut mengubah sentimen publik global terhadap Indonesia secara drastis.

“Dulu Indonesia sempat diboikot karena dianggap abai. Tapi pascakejadian itu, masyarakat Brasil menggalang dana hingga Rp1,3 miliar sebagai bentuk apresiasi. Itu diplomasi publik yang sesungguhnya,” ujarnya.

Selain soal citra dan komunikasi, pihaknya menekankan pentingnya evaluasi kinerja diplomat yang tidak semata-mata dilihat dari relasi politik formal, melainkan dari hasil konkret, seperti pembukaan akses pasar ekspor dan promosi budaya Indonesia secara efektif.

Dalam paparannya, pihaknya menyinggung tantangan berat Indonesia di kawasan Pasifik, khususnya terkait persepsi negatif terhadap isu Papua. Dalam menghadapi isu tersebut, pemerintah sudah melakukan berbagai pendekatan. Namun, pemerintah belum berhasil membangun kepercayaan di wilayah tersebut.

“Negara-negara di Pasifik masih menunjukkan resistensi tinggi. Ini bukan soal kurang komunikasi, tapi karena pendekatannya terlalu normatif dan tidak menyentuh budaya serta jejaring komunitas mereka,” jelas Rizal.

Ia menilai, pendekatan diplomasi harus disesuaikan dengan karakter lokal dan narasi kemanusiaan yang kuat agar Indonesia tidak terus menerus harus memadamkan kampanye hitam di forum-forum internasional seperti PBB. (dry)

Komentar