Rabu, 22 Juli 2026 | 03:04
COMMUNITY

Membaca Ulang Jakarta: Dari Visi Pendiri Bangsa Menuju Smart City

Membaca Ulang Jakarta: Dari Visi Pendiri Bangsa Menuju Smart City
Foto bersama para narasumber dan perwakilan Perluni UAJ dan Yayasan Sanjeev Lentera Indonesia (Dokumen Perluni UAJ)

ASKARA - Menyambut HUT ke-498 DKI Jakarta, Yayasan Sanjeev Lentera Indonesia bersama Perkumpulan Alumni Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya (Perluni UAJ) menggelar seminar publik bertema “Membaca Ulang Jakarta: Dari Visi Founding Parents Hingga Kota Smart City”, Senin (14/7), di Kampus Unika Atma Jaya, Jakarta.

Kegiatan ini menyedot perhatian publik dengan 151 pendaftar dan 83 peserta yang hadir langsung. Mereka berasal dari berbagai kalangan: mahasiswa, akademisi, alumni, pemerhati kebijakan publik, hingga masyarakat umum. Antusiasme tinggi menunjukkan besarnya kepedulian terhadap arah transformasi Jakarta sebagai kota global berbasis teknologi dan budaya.

Ketua Yayasan Sanjeev Lentera Indonesia, Arthur Sanger, dalam sambutannya menekankan pentingnya menelusuri kembali nilai-nilai para pendiri bangsa dalam membentuk karakter Jakarta. “Sejarah adalah fondasi. Jakarta hari ini tidak boleh lepas dari visi para founding parents,” tegasnya.

Sementara itu, Sekjen Perluni UAJ, Jefri Moses Kam, SH., MH., mengajak alumni Unika Atma Jaya untuk terlibat aktif membangun Jakarta yang inklusif dan adaptif. “Kolaborasi dan tanggung jawab intelektual alumni sangat dibutuhkan,” ujarnya.

Dalam sesi diskusi utama, hadir lima narasumber dari lintas bidang. Cyril Raoul (Chico) Hakim, Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta, menyampaikan strategi menuju smart city, mulai dari penerapan aplikasi JAKI, pengelolaan sampah modern, peningkatan SDM aparatur, hingga partisipasi warga dan ekonomi digital.

Dari DPRD DKI Jakarta, Dwi Wijayanto Rio Sambodo, SE., MM., menyoroti pentingnya pengawasan anggaran dan kebijakan agar proyek smart city bukan hanya visible tapi juga valuable bagi masyarakat.

Cendekiawan Betawi sekaligus mantan Wali Kota Jakarta Pusat, Prof. Dr. Sylviana Murni, menekankan pentingnya budaya lokal sebagai pijakan pembangunan. Ia mengusulkan penguatan forum keluarga dan komunitas (FOKKKUNDING) sebagai pendekatan strategis berbasis budaya.

Cucu pahlawan nasional MH Thamrin, Dra. Diennaryati Tjokrosuprihatono, M.Si., Psikolog, mengingatkan bahwa Jakarta global harus berjiwa Pancasila. “Generasi muda harus cerdas secara budaya dan memiliki kemampuan diplomasi,” ucap mantan Dubes RI untuk Ekuador ini.

Adapun Christiana Chelsia Chan, SH., LL.M., dari Perluni UAJ, menekankan pentingnya riset dalam pembangunan kota. Ia mencontohkan proyek Afsluitdijk di Belanda yang lahir dari kolaborasi antara pemerintah dan ilmuwan sebagai inspirasi pembangunan nasional yang berbasis pengetahuan.

Mewakili Pemprov DKI Jakarta, Wakil Ketua Bappeda, Deftrianov, menggarisbawahi pemanfaatan teknologi dan data terbuka untuk menciptakan kebijakan publik yang partisipatif menuju Jakarta Global City Rise #20.

Seminar ini memperkuat harapan lahirnya Jakarta baru: modern secara teknologi, kuat dalam budaya, dan solid dalam kolaborasi.

 

Komentar