Rabu, 22 Juli 2026 | 04:45
COMMUNITY

Eco Bhinneka Muhammadiyah Gelar Aksi Damai Lintas Iman untuk Bumi

Eco Bhinneka Muhammadiyah Gelar Aksi Damai Lintas Iman untuk Bumi
Foto bersama kegiatan Aksi Damai Lintas Iman untuk Bumi (Dok HAAK K7)

ASKARA - Upaya menjaga bumi sebagai rumah bersama tak lagi cukup hanya lewat seruan, tapi juga aksi nyata. Itulah yang diusung Eco Bhinneka Muhammadiyah lewat program Strengthening Youth Multifaith Leader Initiative on Climate Justice through Ecofeminism atau SMILE.

Sabtu, 5 Juli 2025, Eco Bhinneka Muhammadiyah menggelar kegiatan Walk for Peace and Climate Justice sekaligus dialog lintas iman di kawasan Gereja Katedral Jakarta dan Masjid Istiqlal. Kegiatan ini menjadi bagian dari ikhtiar memperkuat kepemimpinan anak muda lintas agama dalam menghadapi isu perubahan iklim.

"Kami ingin kaum muda, khususnya perempuan dan penyandang disabilitas, terlibat aktif dalam gerakan keadilan iklim. Ini bukan hanya soal lingkungan, tapi soal masa depan kita bersama," ujar Hening Parlan, Program Advisor Eco Bhinneka Muhammadiyah sekaligus Koordinator Nasional GreenFaith Indonesia.

Acara dimulai dengan doa bersama sesuai agama dan keyakinan masing-masing, dilanjutkan dialog yang menghadirkan tokoh lintas iman seperti Romo Hani Rudi Hartoko, SJ (Pastor Kepala Paroki Katedral), Fajri Hidayatullah dari Himpunan Difabel Muhammadiyah (HIDIMU), serta Helmi Halimatul Udmah, Penasihat Dharma Wanita Persatuan Kemenag RI.

Usai dialog, para peserta diajak berkeliling Gereja Katedral, lalu berjalan bersama melintasi Terowongan Silaturahim menuju Masjid Istiqlal. Di sana, dialog dilanjutkan dengan tema Green Mosque, tentang peran tempat ibadah dalam pelestarian lingkungan.

Program SMILE sendiri digelar di 10 wilayah di Indonesia, mulai dari Sumatera Utara hingga Maluku Utara, sebagai bagian dari komitmen Eco Bhinneka Muhammadiyah dalam membangun kesadaran kolektif atas isu perubahan iklim.

"Merawat bumi adalah wujud iman dan kepedulian kita. Lewat kegiatan lintas iman seperti ini, kita belajar bahwa keberagaman adalah kekuatan, dan menjaga alam adalah tanggung jawab bersama," pungkas Hening.

Dalam kesempatan itu, Christoforus Rea, dari Hubungan Antar Agama dan Kemasyarakatan (HAAK) Gereja Katedral, menyampaikan dukungannya atas kegiatan ini.

"Kami di Katedral meyakini, menjaga bumi adalah tugas seluruh umat manusia, tanpa memandang perbedaan agama. Dialog seperti ini adalah wujud nyata persaudaraan lintas iman, di mana kita saling belajar, saling menghormati, dan bersama-sama melindungi ciptaan Tuhan," kata Christo.

 

 

Komentar