Rabu, 15 Juli 2026 | 04:47
COMMUNITY

Menua Bersamamu Adalah Bahagiaku

Menua Bersamamu Adalah Bahagiaku
Ilustrasi

ASKARA - Menjalani hidup bersamamu hingga menua adalah karunia, bukan sekadar cerita romantis. Ini tentang keikhlasan, kesabaran, dan cinta yang tumbuh bukan karena berlebih, tetapi justru karena serba cukup. Jangan iri pada mereka yang bergelimang harta. Seringkali, yang terlihat sempurna di luar, justru rapuh di dalam. Cukupkan hati, bukan lemari.

Dalam kehidupan rumah tangga, ada satu hal yang tak dapat dibeli oleh kekayaan: ketenangan. Sebagaimana yang Allah tegaskan dalam Al-Qur’an:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً
Wa min āyātihī an khalaqa lakum min anfusikum azwājan litaskunū ilaihā wa ja‘ala bainakum mawaddataw wa raḥmah
“Dan di antara tanda-tanda kebesaran-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa cinta dan kasih sayang.” (QS. Ar-Rum: 21)

Ayat ini menyiratkan bahwa tujuan berumah tangga bukanlah kekayaan atau status sosial, tetapi sakinah yaitu ketenangan hati, mawadah yaitu cinta yang tulus, dan rahmah yaitu kasih yang terus hidup meski usia menua.

Cinta yang dewasa bukan lagi tentang bunga setiap hari atau makan malam mewah setiap akhir pekan. Tapi tentang menyiapkan teh hangat di pagi hari saat pasanganmu batuk-batuk. Tentang menunggu dengan sabar meski ia pulang terlambat. Tentang tetap memeluk meski kulit tak semulus dulu. Itulah cinta yang tumbuh dari iman, bukan dari tren Instagram.

Rasulullah ﷺ pun pernah menggambarkan indahnya hidup sederhana namun penuh berkah bersama pasangan:

الدُّنْيَا مَتَاعٌ، وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ
Ad-dunyā matā‘, wa khairu matā‘id-dunyā al-mar’atuṣ-ṣāliḥah
“Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah istri yang salehah.” (HR. Muslim)

Jika yang kita kejar adalah rumah tangga seperti milik selebritas atau konglomerat, maka kita lupa bahwa Rasulullah ﷺ sendiri hidup sederhana bersama Khadijah radhiyallahu ‘anha. Mereka bukan pasangan glamor. Tapi mereka adalah pasangan yang abadi namanya dalam sejarah karena cinta mereka berakar dalam iman, bukan dalam emas dan permata.

Kita pun diajarkan untuk merasa cukup dengan rezeki yang telah Allah tetapkan. Dalam hadits lain, Rasulullah ﷺ bersabda:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ، وَرُزِقَ كَفَافًا، وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ
Qad aflaḥa man aslama, wa ruziqa kafāfan, wa qanna‘ahullāhu bimā ātāh
“Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang cukup, dan Allah menjadikannya merasa cukup dengan apa yang diberikan.” (HR. Muslim)

Nikmatilah seadanya. Kita tak harus meniru mereka yang punya segalanya. Rumah mewah tak menjamin tawa. Mobil mahal tak selalu mengantar bahagia. Kadang justru rumah kecil dengan dua gelas kopi dan satu roti dibagi dua bisa lebih berarti jika dibarengi syukur yang besar.

Allah tidak akan menilai siapa yang paling banyak hartanya, tapi siapa yang paling bersyukur dan bersabar:

إِن يَكُنْ غَنِيًّا أَوْ فَقِيرًا فَاللَّهُ أَوْلَىٰ بِهِمَا
In yakun ghanīyan aw faqīran fallāhu aulā bihimā
“Jika dia kaya atau miskin, maka Allah lebih tahu keadaan mereka.” (QS. An-Nisa: 135)

Pasangan yang bersatu dalam cinta karena Allah takkan mudah goyah. Meski ujian datang silih berganti, hati yang terpaut karena iman akan saling menguatkan, bukan menjatuhkan. Maka bahagiaku bukanlah ketika kita bisa ke luar negeri tiap tahun, tapi saat kita masih bisa salat berjamaah di ruang tamu yang sempit.

Menua bersamamu adalah bahagiaku. Bukan karena hidup kita sempurna, tapi karena kita terus belajar mencintai dalam keadaan apapun. Aku tak ingin meniru mereka yang punya segalanya, karena yang aku mau adalah hidup bersamamu meski seadanya tapi selamanya. (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar