Kamis, 04 Juni 2026 | 11:59
OPINI

Lapangan Kerja Menyusut, Ribuan Warga Berebut Lowongan di Job Fair Cikarang

Lapangan Kerja Menyusut, Ribuan Warga Berebut Lowongan di Job Fair Cikarang
Ribuan pencari kerja di Job Fair (Dok Askara)

ASKARA — Antrean panjang dan kericuhan mewarnai gelaran Job Fair yang berlangsung di President University Convention Center, Cikarang, Kabupaten Bekasi, pada Selasa (27/5/2025). Ribuan pencari kerja memadati lokasi acara dengan harapan mendapatkan pekerjaan di tengah situasi ekonomi yang tidak menentu. Namun, harapan tersebut berubah menjadi kekacauan akibat buruknya sistem pendaftaran dan terbatasnya akses masuk.

Situasi ini menjadi gambaran nyata tekanan sosial dan ekonomi yang saat ini dirasakan masyarakat, khususnya oleh generasi usia produktif. Di tengah menurunnya daya serap tenaga kerja, masyarakat kini harus bersaing ketat hanya untuk mendapatkan kesempatan melamar pekerjaan.

Ekonomi Melambat, Lapangan Kerja Terbatas

Menurut data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat pengangguran terbuka (TPT) per April 2025 mencapai 5,5%, naik dari 5,0% pada akhir 2024. Ini berarti lebih dari 8 juta warga Indonesia masih menganggur. Sektor-sektor utama seperti manufaktur, perdagangan, dan jasa terus melakukan efisiensi akibat tekanan global, inflasi, serta melemahnya konsumsi rumah tangga. Banyak perusahaan memilih mempertahankan operasional minimum dibanding membuka rekrutmen baru.

Rebutan QR Code dan Keterbatasan Akses

Di Cikarang, para pencari kerja diwajibkan memindai kode QR sebagai akses masuk dan pendaftaran ke perusahaan peserta. Namun, sistem ini tidak mampu menampung lonjakan jumlah pengunjung. Akibatnya, terjadi dorong-dorongan di pintu masuk, bahkan beberapa peserta dilaporkan pingsan karena sesak dan kelelahan. Meski teknologi telah diterapkan, akses terhadap peluang kerja masih belum merata, terutama bagi mereka yang kurang akrab dengan sistem digital.

Peluang Semakin Sempit, Persaingan Semakin Ketat

Dengan menyempitnya peluang kerja, para pencari kerja kini tidak hanya bersaing dalam hal kualifikasi, tetapi juga dalam kesiapan teknis dan keberuntungan. Banyak lulusan baru dan korban Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dari berbagai sektor turut bersaing dalam pasar kerja yang semakin terbatas. Ironisnya, job fair yang semestinya menjadi solusi justru menambah tekanan psikologis dan logistik, ketika sistem manajemen pengunjung tidak berjalan dengan baik.

Perlu Perluasan Akses dan Program Alternatif

Berbagai program peningkatan keterampilan, pelatihan vokasi, hingga dukungan terhadap UMKM memang telah dijalankan oleh pemerintah dan swasta. Namun, implementasi di lapangan masih menemui banyak tantangan. Masyarakat perlu dibekali keterampilan yang lebih relevan dengan kebutuhan industri saat ini, termasuk adaptasi terhadap transformasi digital dan teknologi baru.

 

Penulis: Siti Muntasiroh
Mahasiswa Universitas Pamulang
 

Komentar