Negeri Ini Sedang Dipermainkan, dan Kita Diam Seperti Budak
ASKARA - Cukup sudah kita berpura-pura semuanya baik-baik saja. Cukup jadi bangsa yang menutup mata, menutup telinga, dan menelan semua kebohongan yang disuapkan kekuasaan setiap hari. Negeri ini sedang dipermainkan, bro. Dan kita diam. Seperti budak yang terlalu lama dirantai, hingga lupa bagaimana rasanya merdeka.
Hari ini, mereka bilang stabilitas. Tapi apa arti stabilitas jika didirikan di atas ketidakadilan?
Mereka bicara pembangunan. Tapi siapa yang menikmati pembangunan itu? Sementara rakyat kecil tetap mengais harapan di bawah bayang-bayang utang, korupsi, dan hukum yang tajam ke bawah tapi tumpul ke atas.
Yang lebih menyedihkan, kita membiarkan semua ini terjadi.
Bahkan kita ikut jadi penggemar setia panggung sandiwara kekuasaan. Kita percaya pada tokoh-tokoh yang hanya jago narasi, tapi nihil nurani. Kita ikut memuja pemimpin yang kuat secara citra, tapi lemah secara moral. Pemimpin yang mengatur bukan dengan kebijaksanaan, tapi dengan manipulasi dan rasa takut.
Ada dalang yang sedang memainkan semuanya. Kita tahu itu. Tapi kita pura-pura tidak tahu, karena lebih nyaman hidup dalam kebohongan yang manis, ketimbang menghadapi kebenaran yang pahit.
Kita dombakan. Diadu. Dibelah. Diperalat. Dan ketika kita mulai sadar, sudah terlambat—semua instrumen kekuasaan sudah digenggam, semua suara dibungkam, semua kritik dicap radikal, semua oposisi dianggap ancaman.
Inilah era ketika kebenaran tidak lagi dicari, tapi dikonstruksi. Siapa yang punya kuasa, dia yang menentukan mana benar, mana salah. Bukan berdasarkan etika, bukan berdasarkan nurani, tapi berdasarkan narasi yang bisa dijual.
Bangsa ini sudah terlalu sering dikhianati. Tapi kali ini pengkhianatannya terasa lebih licik: karena kita dibikin merasa ini semua adalah prestasi.
Pertanyaannya cuma satu: sampai kapan kita terus diam?
Karena kalau kita terus diam, jangan salahkan siapa-siapa saat nanti anak cucu kita hidup dalam negeri yang merdeka secara simbolik, tapi dijajah oleh ketakutan, kemunafikan, dan kebohongan yang dilembagakan.

Komentar