Rabu, 22 Juli 2026 | 23:47
COMMUNITY

Guru dalam Perspektif Dua Bangsa: Menyusuri Makna Penghormatan di Jepang dan Indonesia

Guru dalam Perspektif Dua Bangsa: Menyusuri Makna Penghormatan di Jepang dan Indonesia
Ilustrasi

ASKARA - Ada kalimat yang selalu saya ingat sejak pertama kali diajarkan menulis di bangku SD: Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Namun seiring bertambahnya usia dan luasnya pergaulan lintas budaya, saya mulai bertanya-tanya, apa sebenarnya makna penghargaan terhadap guru? Apakah cukup dengan satu hari dalam setahun yang disebut "Hari Guru", ataukah ada sesuatu yang lebih dalam dan melekat dalam keseharian kita?

Pertanyaan itu menemukan jawabannya ketika saya tinggal di Jepang selama beberapa bulan sebagai bagian dari program pertukaran akademik. Di sana, saya sempat berdialog hangat dengan seorang guru senior bernama Yamamoto-sensei, sosok yang tenang, bersahaja, dan penuh dedikasi. Saya, dengan keingintahuan khas orang Indonesia, bertanya pada beliau, “Kapan Hari Guru diperingati di Jepang, dan bagaimana biasanya dirayakan?”

Yamamoto-sensei tampak terkejut. Ia mengernyit, lalu menjawab dengan datar, “Kami tidak merayakan Hari Guru.”

Jujur saja, saya sempat salah paham. Dalam hati saya bertanya-tanya, “Bagaimana mungkin sebuah negara maju seperti Jepang, yang dikenal unggul dalam teknologi, etos kerja, dan pendidikan, justru tidak memiliki hari khusus untuk menghargai guru?” Rasanya ganjil bagi saya yang sejak kecil terbiasa melihat murid-murid di Indonesia membawa bunga, menyanyi, dan memberi hadiah setiap tanggal 25 November.

Namun semua itu berubah seiring pengalaman yang datang bukan dalam bentuk jawaban langsung, tapi dalam laku kehidupan sehari-hari. Suatu sore, saat pulang kerja, Yamamoto-sensei mengundang saya berkunjung ke rumahnya. Kami naik kereta bawah tanah yang dipadati penumpang pulang kantor. Tubuh saya lelah, dan saya berdiri sambil berpegangan pada besi pengaman. Tiba-tiba, seorang pria tua yang duduk di dekat saya menatap ke arah dada saya dan berdiri—menawarkan tempat duduknya.

Saya menolak secara refleks. Bagaimana mungkin saya yang muda didahulukan daripada seorang kakek renta? Tapi dia bersikeras. Saya menoleh ke Yamamoto-sensei, berharap ada penjelasan.

Beliau hanya tersenyum dan menunjuk ke arah pin kecil di dada saya. “Dia melihat lencana guru di bajumu,” kata Yamamoto pelan. “Di sini, menjadi guru adalah kehormatan. Bahkan orang tua pun merasa terhormat bisa menghormati seorang guru.”

Sejak saat itu, dunia saya bergeser. Di Jepang, penghargaan terhadap guru tidak dibungkus dalam seremoni tahunan, tapi mengalir tenang dalam perilaku harian. Para guru mendapat potongan harga khusus di toko-toko tertentu, tidak perlu antre saat membeli tiket kereta, bahkan disediakan kursi khusus di transportasi umum. Mereka tidak meminta untuk dihormati. Tapi masyarakat dengan sadar memberikannya—tanpa sorotan kamera, tanpa kembang rampai.

Saat saya berniat membeli oleh-oleh untuk keluarga Yamamoto-sensei, saya mengungkapkan niat itu padanya. Ia mengangguk dan menunjukkan toko yang memang menyediakan barang-barang dengan harga diskon khusus untuk guru. Pemilik toko menyapa dengan senyum penuh takzim, dan berkata bahwa melayani guru adalah kebanggaan tersendiri bagi mereka.

Di Jepang, penghormatan terhadap guru bukanlah momen. Ia adalah kebudayaan. Sebuah napas panjang yang dihirup sejak kecil. Sebuah kesadaran kolektif bahwa mereka yang mencerdaskan bangsa tidak boleh dikerdilkan martabatnya.

Lalu bagaimana dengan Indonesia?

Kita memang memiliki Hari Guru. Kita menulis puisi, memberi bunga, menyanyikan lagu. Tapi sayangnya, terkadang penghargaan itu berhenti di seremoni. Guru masih sering dilupakan dalam pengambilan kebijakan. Banyak yang harus mengajar sambil mengurus ladang atau menjadi ojek agar dapur tetap mengepul. Bahkan tak jarang martabat mereka digerus oleh orang tua murid yang lebih merasa “klien” daripada mitra pendidikan.

Namun harapan itu belum mati. Di banyak sudut negeri ini, saya masih melihat murid-murid yang mencium tangan gurunya dengan tulus. Saya melihat orang tua yang mengantar makanan ke sekolah untuk guru anaknya saat kegiatan luar kelas. Saya melihat desa-desa yang mengarak guru yang hendak pensiun seperti seorang jenderal pulang dari medan perang.

Indonesia tidak kekurangan rasa hormat terhadap guru. Kita hanya perlu menanamkannya lebih dalam, agar ia tak hanya tumbuh di Hari Guru, tapi mekar setiap hari, dalam bentuk kesadaran, perlindungan, dan perlakuan yang bermartabat.

Pengalaman di Jepang menyadarkan saya, bahwa menghargai guru bukanlah soal perayaan satu hari dalam setahun. Tapi bagaimana setiap hari, setiap waktu, masyarakat memilih untuk memuliakan mereka dengan cara yang tak perlu dipamerkan.

Saya membayangkan suatu masa, ketika kita tak perlu lagi bertanya “Kapan Hari Guru?” karena setiap hari adalah milik mereka. Milik para penjaga cahaya.

Dan ketika hari itu tiba, kita bisa berkata tanpa ragu:
“Guru, kami tak hanya merayakanmu. Kami hidup menghormatimu.” (diceritakan Pak Herlino, guru Indonesia yang pernah mengajar di Jepang pada penulis/Dwi Taufan Hidayat)

Komentar