Di Jawa Barat Masih Banyak Guru Pesantren Terima Gaji Rendah
ASKARA-Pesantren telah telah banyak melahirkan tokoh-tokoh bangsa dan memiliki kontribusi besar dalam sejarah perjuangan Indonesia. Namun pada perkembangannya, masih banyak guru di pesantren yang masih menerima gaji rendah, terutama di wilayah Jawa Barat.
Demikian dikatakan Anggota Komisi X DPR RI, Habib Syarief Muhammad pada diskusi Dialektika Demokrasi bertema "Mengawal Komitmen Kementerian Agama dalam Penerapan Kebijakan Pesantren Ramah Anak", di Kompleks Parlemen Senayan, Kamis (6/3/2025).
Menurut dia, pesantren telah menjadi bagian dari sejarah pendidikan di Indonesia selama lebih dari tiga abad, baru dalam 10 tahun terakhir tren ini kembali menguat. Sebab semakin banyak orang tua kini kembali memilih pesantren untuk pendidikan anak mereka. Banyak orang tua yang sebelumnya memilih sekolah unggulan atau eksklusif, kini merasa kecewa dengan hasilnya, terutama dalam hal pembentukan karakter anak.
"Banyak anak yang akhirnya tumbuh dengan sikap egois, sulit bersosialisasi, introvert, arogan, hingga elitis. Ini menjadi keprihatinan tersendiri, sehingga kini muncul pemikiran untuk mengombinasikan sistem pendidikan unggulan dengan sistem pesantren," ujar Syarief.
Pesantren, dia melanjutkan, memiliki nilai-nilai egaliter, kedisiplinan, serta kebersamaan yang kuat, berbeda dengan sekolah eksklusif yang cenderung membentuk pola pikir kompetitif dan individualistis.
Dia pun menyayangkan i minimnya perhatian pemerintah terhadap pesantren dan madrasah, terutama terkait kesejahteraan guru sementara kontribusi mereka sangat besar.
"Masih banyak guru madrasah, bahkan di Jawa Barat, yang hanya menerima gaji Rp200 ribu per bulan. Ini ironi, mengingat pesantren telah banyak melahirkan tokoh-tokoh bangsa dan memiliki kontribusi besar dalam sejarah perjuangan Indonesia," tegasnya.
Lebih lanjut, Anggota Fraksi PKB DPR RI ini berharap revisi Undang-Undang tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) bisa mengakomodasi kebutuhan pesantren dan madrasah agar mendapatkan dukungan lebih baik. Ia juga mengapresiasi beberapa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) yang kini lebih unggul dibandingkan SMA negeri dalam hal kelulusan ke perguruan tinggi ternama.
Syarief juga menegaskan meskipun ada beberapa kasus negatif terkait pesantren, jumlahnya sangat kecil dan bukan representasi dari sistem pesantren secara keseluruhan. Menurutnya, pesantren tetap menjadi model pendidikan unik yang menarik perhatian akademisi dari berbagai negara.
"Banyak pesantren di Indonesia yang masih gratis, seperti di Lirboyo dan beberapa pesantren besar di Jombang, yang santrinya mencapai puluhan ribu. Ini menunjukkan bahwa pesantren tetap mengutamakan keberkahan dan keikhlasan dalam mendidik generasi bangsa," jelasnya. [dry]

Komentar