Kamis, 13 Juni 2024 | 23:39
SELEBRITAS

Soleh Solihun Wartawan Yang Garap Film Star Syndrome

Soleh Solihun Wartawan Yang Garap Film Star Syndrome
Foto bersama sutradara dan para pemain Star Syndrome (Dok TB)

ASKARA - Satu lagi wartawan mencoba keberuntungan dan mengembangkan kariernya di bidang penyutradaraan. Adalah H. Usmar Ismail, wartawan pertama yang terjun sebagai sutradara, berikutnya, Andi Bachtiar, Joko Anwar dan yang terbaru Soleh Solihun. Mantan wartawan majalah Rolling Stone ini mengikuti jejak senior tersebut di atas.

Adalah rumah produksi Mahakarya Pictures yang memberika kepercayaan kepada Soleh Solihun untuk menggarap film produksi kelimanya yang bertajuk Star Syndrome.

Latar belakang cerita film drama komedi yang dibintangi Gilang Dirga, Tanta Ginting, Tora Sudiro, Tissa Biani, Aryo Wahab dll bernuansa industri musik.

"Saya ingin membuat film dengan musik sebagai signature film saya," kata Soleh dalam gala premier film “Star Syndrome” di  bioskop XXI  Epicentrum, Kuningan Jakarta, Jumat. (2/6)

Soleh Solihun mengungkapkan kalau penggarapan film karya perdananya membutuhkan waktu 18 bulan, mulai persiapan hingga selesai proses editing.

"Karena Star Syndrome film perdana saya, jadi untuk menghasilkan film yang baik dan berkualitas dibutuhkan waktu yang lumayan lama." Ujar sutradara yang juga seorang Komoka ini.

Sementara Gilang Dirga yang dipercaya sebagai tokoh utama di film yang akan beredar 8 Juni 2023 ini perlu kerja keras lantaran berat badan yang menurut sang sutradara kurang ideal. Ada scene yang mengharuskan Gilang menaikkan berat badannya hanya dalam kurun waktu satu bulan. 

Namun, kemudian ia harus kembali menurunkan berat badan hingga 20 kg demi satu adegan khusus dalam film ini. Syuting bahkan harus berhenti selama satu bulan demi menunggu proses Gilang diet. 

Film bergenre drama komedi ini bercerita tentang perjuangan seorang vokalis yang pernah terkenal untuk kembali ke masa kejayaannya. Yang tak disadari, ternyata dunia musik kini sudah jauh berbeda dari saat ia eksis dulu.

"Ini film untuk mengingatkan gue dan kita semua. Kalau sudah di atas jangan lupa sama siapa yang dulu bareng kita pas berjuang," ujar Gilang Dirga.

Gilang mengungkap, film terbaru yang dibintangi bercerita tentang kisah seorang musisi super star yang lupa diri dan sombong. Hal tersebut sangat berkaitan dengan kehidupannya.

"Iyaa ini sangat relate dengan kehidupan gue yang sekarang. Gue dulu pernah ngalamin star syndrome, dan ya seperti yang ada di film ini," ungkap Gilang Dirga.

"Setiap orang punya perjalanan karier berbeda. Setiap orang punya titik puncak dan turunan. Sekarang bagaimana menghadapi turunan di profesi tersebut, ya ada di film ini," jelas Soleh Solihun menimpali.

"Film ini mengingatkan kita bahwa zaman selalu berubah dan kita harus beradaptasi. Cara "baru" akan menjadi "lama" dalam waktu lebih cepat dari yang kita bayangkan. Semoga menginspirasi dan menghibur," timpal Dendi, sang produser.

Sementara itu, karena berlatar belakang dunia musik, maka 80% bintang dalam Star Syndrome pun punya latar belakang musisi.

Mahakarya Pictures dan Soleh Solihun tidak mau setengah-setengah dalam memproduksi adegan-adegan manggung di film ini. 

Semua adegan musik diambil secara live di lokasi syuting saat para pemain beradegan. Sampai Gilang Dirga pun mengambil kursus gitar karena harus bermain live di film ini.

Star Syndrome mengusung kolaborasi lintas generasi di area soundtrack. Denny Chasmala sang penulis lagu Berharap Tak Berpisah, menggubah lagu berjudul Simpang Siur yang dinyanyikan oleh Jay and The Others (Gilang Dirga, Randy Nidji, Thomas GIGI, Hendy GIGI, serta Denny Chasmala). 

Soleh Solihun berharap cerita Star Syndrome bisa relate dengan semua kalangan, tak hanya musisi. 

"Mudah-mudahan Star Syndrome jadi tontonan menghibur, terinspirasi juga dan memberi manfaat buat 113 menit di Star Syndrome," tutup Soleh Solihun. 

 

Komentar