Kamis, 25 Juli 2024 | 07:11
COMMUNITY

Imlek 2574 Kongzili Tingkat Nasional Jadi Sarana Evaluasi dan Transformasi Diri

Imlek 2574 Kongzili Tingkat Nasional Jadi Sarana Evaluasi dan Transformasi Diri
Imlek 2574 Kongzili Tingkat Nasional

ASKARA - Perayaan tahun baru Imlek 2574 Kongzili tingkat nasional menjadi sarana evaluasi dan transformasi diri menuju kebijaksanaan, kepekaan sosial, dan kemuliaan sebagai momentum refleksi diri untuk teraturnya negara.

Pesan ini disampaikan Ketua Umum Dewan Rohaniwan dan Pengurus Pusat dari Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (Matakin) Budi Santoso Tanuwibowo saat memberikan sambutan di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta.

Dalam momen perayaan Imlek yang mengangkat tema "Teraturnya Negara Sesungguhnya Berpangkal pada Keberesan dalam Rumah Tangga" ini, Budi Santoso mengajak umat Khonghucu untuk dapat membangun kebersamaan, menjalin kesetiakawanan, dan menumbuhkan kepedulian di antara sesama warga bangsa.

https://www.askara.co/assets/images/upload/2023/01/20230127102741_normal.jpg

Menurut Budi Santoso Tanuwibowo, umat Khonghucu dapat membantu sukses dan teraturnya negara dengan dimulai dari diri sendiri dan rumah tangga. "Membangun bangsa adalah membangun manusia," ujar Budi di Jakarta, dilansir Kemenag, Kamis (26/01).

Budi juga mengatakan bahwa tema Imlek tahun ini diangkat juga untuk mengingatkan kembali pentingnya menjadi pribadi yang dalam keseharian selalu mengutamakan landasan kebajikan yang pokok sembari mengurus rumah tangga, mengatur negara dan ikut serta dalam perdamaian dunia.

"Bangsa ini ibarat sebuah keluarga. Jika ada satu anggota keluarga yang sakit tentu kita harus membantu. Kalau ada yang kesusahan harus kita tolong untuk itu peran serta kita semua dapat menjadi keluarga semakin solid," terang Budi.

Hal ini sejalan dengan pesan Nabi Kong Zi  dalam ajaran Khonghucu yang pernah mengatakan, bahwa untuk membereskan rumah tangga harus lebih dahulu membina diri.

Tampak hadir dalam Perayaan tahun baru Imlek 2574 Kongzili tingkat nasional Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia Muhadjir Effendi dan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas.

Komentar