Kamis, 09 Februari 2023 | 06:14
NEWS

Tanggapi Kontroversi Pembangunan Bandara Bali Utara, Megawati: Rakyat Hanya Jadi Penonton

Tanggapi Kontroversi Pembangunan Bandara Bali Utara, Megawati: Rakyat Hanya Jadi Penonton
Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri

ASKARA - Menanggapi kontroversi terkait pembangunan Bandara Bali Utara, Sekjen DPP PDI Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto menegaskan bahwa apa yang disampaikan Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri sangat tepat.

Pembangunan bandara lebih digerakkan para pemodal besar dengan pembenaran statistik kemajuan, namun ditingkat implementasinya berbenturan dengan berbagai persoalan seperti pembelian tanah rakyat secara masif.

Ujung-ujungnya rakyat hanya menjadi penonton, terlebih dengan begitu banyak investor asing yang akan digalang untuk menggarap bandara internasional tersebut.

“Saat ini baru ada rencana saja, sudah terjadi perburuan tanah rakyat. Hal ini tidak boleh terjadi,” ujar Hasto kepada awak media di Jakarta, Kamis (19/1).

Hasto menjelaskan dalam jangka menengah, pembangunan bandara tersebut pasti diikuti dengan berbagai infrastruktur turisme yang lebih berorientasi pada keuntungan investor semata, dan derasnya orang asing yang masuk dipastikan akan merubah kultur Bali.

“Kekuatan Bali itu terletak pada kultur yang hidup, menyatu, dan menumbuhkan jiwa spiritualitas yang otentik. Hal inilah yang menjawab mengapa atmosfir kehidupan Bali sangat khas, ada kehidupan spiritual yang menyatu dengan alam. Berbagai aspek spiritualitas ini menjadi kekuatan Bali, dan inilah yang dijaga Ibu Megawati,” ujar Hasto.

“Saya pribadi diajarkan Ibu Megawati untuk membuka alam rasa dan alam pikir kami agar bisa ‘berbicara’ dengan semesta melalui balutan spiritualitas yang sungguh luar biasa,” kata Hasto lebih lanjut.

Peraih Gelar Doktor Universitas Pertahanan (Unhan) RI ini menilai apa yang ditegaskan oleh Megawati tentang pembangunan bandara Bali Utara bertujuan menjaga Bali dengan seluruh tradisi dan nilai kulturalnya.

“Karena itulah lebih baik digunakan pendekatan berbeda. Memperkuat interkoneksi antara Surabaya, Banyuwangi, dan Bali, khususnya Bali Utara sebagaimana digagas Bu Mega adalah pilihan yang sangat progresif dan tepat.”

“Kemudian pembangunan infrastruktur di Bali yang lebih ramah lingkungan guna meningkatkan aksesibilitas terhadap Bali Utara,” papar Hasto.

Daripada berpikir merubah Bali hanya melalui pendekatan infrastruktur, Hasto mengingatkan lebih baik menggali seluruh kekayaan peradaban Bali melalui lontar dan lain-lain.

“Langkah terpenting sekarang ini justru menggali keseluruhan nilai-nilai peradaban Bali. Falsafah kebahagiaan melalui Tri Hita Karana misalnya, sangat tepat ditransformasikan untuk Indonesia dan dunia. Disitulah peran penting penting Bali, bukan malah mereduksinya dengan Bandara Internasional di Bali Utara,” tuntas Hasto.

Komentar