Innalillahi, Tan De Seng Sang Maestro Karawitan Sunda Wafat
ASKARA – Innalillahi, Tan De Seng atau karib disapa Tan Deseng wafat di Bandung hari Minggu 6 November 2022 pukul 13.30 WIB di Rumah Sakit Rajawali, Kota Bandung. Di Facebook pribadinya, Boy Worang menulis, "RIP Tan Deseng. Minggu, 6 November 2022 pukul 13.30 WIB. Saya belum bisa berkata-kata, selain mengucapkan selamat jalan saudaraku, maestro Karawitan Sunda, semoga tenang bersamanya."
Sang Maestro musik Sunda ini lahir 22 Agustus 1942 tepatnya di kawasan Pasar Baru, Kota Bandung. Dia adalah musisi, seniman, budayawan terkenal khususnya dalam kesenian Sunda hingga ia dianggap sebagai Maestro Karawitan pada tahun 2015 oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
Tan De Seng mengganti namanya setelah menjadi mualaf menjadi Mohamad Deseng meninggalkan tiga orang anak. Dua perempuan dan satu laki laki. Selama ini, Tan hidup berpindah-pindah dari satu kontrakan ke kontrakan lainnya.
Sang ayah, Tan Tjing Hong merupakan pengusaha, shinse, dan seniman lukis yang bisa memainkan sejumlah instrumen musik. Dari 8 anaknya, Tan Deseng dan kakaknya, Tan De Tjeng yang tertarik pada dunia seni.
Berkat beliau ada rekaman album wayang golek Giri Harja, Upit Sarimanah, sampai Tati Saleh, karena permainan gitarnya beliau disebut "Setan Melodi".
Di usianya yang ke-12, ia mulai serius mendalami musik Sunda. Bahkan saat ia berusia 16 tahun di Palembang ia menitikkan air mata begitu mendengar lagu-lagu sunda di RRI (Radio Republik Indonesia).

Saat itu ia bertekad untuk lebih mendalami musik sunda. Ia belajar dari banyak orang. Mulai dari tetangga hingga para maestro kesenian Sunda.
Seperti belajar waditra (instrumen) musik sunda dari Adjat Sudrajat atau Mang Atun. Belajar kecapi dan suling dari Evar Sobari, Mang Ono, Sutarya, dan dalang Abah Sunarya (ayah dari dalang kenamaan Asep Sunandar Sunarya).
Kemampuannya pada musik sunda terutama karawitan terus berkembang. Tak heran jika ia banyak tampil di panggung dalam maupun luar negeri. Seperti Jepang, China, Thailand, dan lainnya.
Ada lagi satu hobi yang digelutinya yakni mendokumentasikan aset-aset penting budaya sunda melalui rekaman pita hitam.
Tan Deseng orang yang pertama kali merekam pagelaran dalang Abah Sunarya. Kemudian pesinden kondang Titim Fatimah. Lalu ada Euis Komariah, Tati Saleh dan lainnya.
Dia pula yang memperkenalkan 'ketuk tilu' yang menjadi dasar jaipong melalui pita rekamannya yang digarap bersama pemusik-pemusik rakyat dari Karawang.
Rekaman yang kini menjadi artefak budaya tersebut dilakoninya sejak tahun 1950-an. Ia mempelajarinya secara otodidak dengan modal yang seadanya.
Bahkan peralatan perekaman yang dimilikinya saat ini merupakan pemberian Titim Fatimah tahun 1970an. Saat itu Titim membelinya seharga Rp 70 juta (kini miliaran).

Titim merupakan sinden kenamaan. Untuk menonton pagelarannya, orang-orang rela berjalan hingga 40 kilometer. Titim kemudian menjadi acuan para sinden sesudahnya.
Hasil rekaman Tan Deseng dari tahun 1950-an kini menjadi harta karun tak ternilai harganya. Bahkan bisa dibilang, rekaman tersebut merupakan artefak budaya.
Kecintaan dan upaya Tan Deseng melestarikan budaya Sunda berbuah penghargaan dari berbagai pihak. Seperti wali kota Bandung, gubernur Jabar, dan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata.
Lulusan SMP Tsing Hoa ini pun menerima penghargaan dari Presiden Megawati Soekarnoputri dan presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Ia pernah mendapat Anugerah Maestro Seni Budaya Sunda.
Hidup berpindah-pindah tak punya rumah
Sebenarnya keluarga Tan Deseng menginginkan dirinya menjadi pedagang, sama dengan Tionghoa lainnya.
Namun ia teguh pendirian, meskipun menjadi seniman, hidup dalam kemiskinan. Apalagi ia memegang prinsip, menjadi seniman tidak semata untuk mencari uang. Tapi murni karena kecintaannya pada Sunda.
"Meski saya seniman, saya meminta anak saya tidak menikah dengan seniman karena seniman itu sangsara (melarat)," ucap Tan Deseng.
Hal itu merujuk pada dirinya. Meski kaya pengalaman dan mendapat banyak penghargaan, secara finansial, tidak mumpuni.
Menurut Budayawan Dadan Hidayat, hingga kini Tan Deseng tidak memiliki rumah. Hidupnya selalu berpindah-pindah, mengontrak dari satu tempat ke tempat yang lain.
Meski demikian ia orang yang sangat dermawan. Ia kerap berbagi. Contohnya, ketika seniman kehilangan panggungnya karena pandemi Covid-19, Tan Deseng menjual kecapinya untuk makan para seniman.
Kini sangat maestro telah berpulang.. meninggalkan sejuta kenangan akan kecintaannya kepada budaya sunda. Pileuleuyan sang maestro.

Komentar