Kamis, 04 Juni 2026 | 10:09
NEWS

Profesor Nidom: Covid-19 hingga Kini Belum Jelas Dinamikanya, Belum Ada Kajian Mutasinya di Mana

Profesor Nidom: Covid-19 hingga Kini Belum Jelas Dinamikanya, Belum Ada Kajian Mutasinya di Mana
Profesor Nidom (Dok tangkapan layar)

ASKARA - Ketua Tim Riset Corona dan Formulasi Vaksin dari Proffesor Nidom Foundation (PNF), Prof Dr Chairul Anwar Nidom menjelaskan terkait vaksin untuk pengendalian serta pencegahan penyakit, salah satunya Covid-19.

Nidom mengatakan, suatu vaksin dibuat dasarnya dari bibit penyakit itu sendiri. Jika penyebab suatu penyakit adalah virus makan vaksinnya dibuat berdasarkan virus itu sendiri. 

Demikian pula, jika penyakit itu disebabkan oleh bakteri maka vaksinnya dari bakteri itu sendiri. Dia juga menjelaskan ada pengembangan produk untuk pengobatan menggunakan antibiotik. Namun, akhir-akhir ini sudah menimbulkan resistensi antibiotik.

"Jadi pencegahan atau pengendalian penyakit secara tepat adalah secara preventif, bisa dilakukan dengan vaksin juga dengan probiotik," ujarnya dalam wawancara di akun YouTube Eksponen PKM IPB 77-78 dengan judul Wawancara Eksklusif bersama Prof. Nidom: Menuju Vaksin ASLI INDONESIA, VAKSIN NUSANTARA!!! (Part 1) dilihat Minggu (30/1). 
 
"Jadi, vaksin adalah suatu cara atau pendekatan yang digunakan untuk preventif, pencegahan suatu penyakit," sambungnya.

Menurut Nido, pembuatan vaksin menggunakan teknologi yang bermacam-macam. Yang paling sederhana disebut autovaksin, yaitu ketika timbul suatu penyakit contohnya di hewan, kemudian diambil organ yang terkena penyakit itu kemudian digerus, disaring lalu dicampur dengan minyak dan air kemudian disuntikkan. 

"Itu namanya live vaksin, tapi bersifat autovaksin," ucapnya.

Teknologi berikutnya, mulai dari pengendalian bibit penyakit atau proses industrinya. 

"Jadi, persoalan ini sudah menyangkut masalah bisnis. Kami sebagai peneliti mulai dari penelitian terhadap bagaimana membuat vaksin yang terbaik. Jadi prinsipnya, bahwa vaksin adalah pendekatan pengendalian suatu penyakit yang terbaik saat ini," terangnya.

Terkait pandemi, Nidom menekankan biasanya tidak didekati terlebih dulu dengan vaksin lantaran akan menimbulkan kecurigaan. 

"Tapi kita berfikir positif mungkin saja dengan teknologi, prediksi yang bagus bisa dibuat vaksin. Covid-19 sampai saat ini belum jelas dinamikanya. Kecepatan mutasi. Mutasi dia dimana sebetulnya, di tubuh orang atau di tempat yang lain, dari (varian) Alfa, Beta, Delta, Omicron di mana terletak terjadinya mutasi belum ada kajiannya," urainya.

Bahkan, menurut analisis yang dilakukan pihaknya, varian Omicron yang ada saat ini berbeda satu sama lain. Ada yang lebih dekat ke Turki, ke Afrika, ada yang dekat dengan Inggris, semuanya tidak bisa menjadi satu kesatuan.

"Dari analisis kekerabatan kami, yang terakhir kami lakukan bahwa Omicron itu sudah terjadi penularan antar orang Indonesia, bukan lagi dari luar," ungkapnya.

 

 

 

 

 

Komentar