Senin, 17 Januari 2022 | 15:07
OPINI

Kesejahteraan Guru dan Program Guru Pengggerak

Kesejahteraan Guru dan Program Guru Pengggerak
Ilustrasi guru (Dok Istimewa)

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) mengambil tema “Bergerak dengan Hati, Pulihkan Pendidikan” di Hari Guru Nasional ke 76 pada 25 November 2021 yang lalu. 

Di masa pandemi yang sudah berlangsung selama hampir dua tahun, pqra guru telah sedikit banyak dituntut untuk berinovasi sekreatif mungkin demi tetap memberikan pengajaran yang terbaik kepada murid sehingga proses belajar mengajar tetap berjalan walaupun harus dengan metode jarak jauh (PJJ) serta menggunakan platform teknologi internet.

Dua tahun ini adalah tahun yang sangat sulit khususnya bagi bidang pendidikan, tentunya ada banyak guru yang terdemotivasi, namun ada banyak pula terobosan-terobosan yang dilakukan di sekolah, nyatanya pandemi tidak memadamkan semangat para guru untuk terus berkreasi dalam memberikan pengajaran terhadap murid.

Kesejahteraan Guru dan Rekrutmen 1,3 Juta Guru Horoner

Pada Hari Guru Nasional ke 76 ini, Kemendikbud Ristek diharapkan merefleksikan kembali tentang soal memberikan kesempatan semaksimal mungkin terhadap guru dalam persoalan kesejahteraan guru. 

Kemendikbud Ristek sebenarnya telah memberi kesempatan yang adil dan demokratis kepada guru khususnya guru Honorer untuk bisa menjadi pegawai negeri sipil atau ASN PPPK, sehingga dapat menaikkan kesejahteraan guru lebih baik dari sebelumnya. Karena apabila telah menjadi ASN PPPK, guru akan mendapatkan hak penggajian, tunjangan serta penghargaan dan pengembangan kompetensi.

Pada tahun ini Kemendikbud Ristek telah merespon persoalan ini dengan memberikan lebih dari 500 ribu formasi guru Honorer yang bisa mengikuti seleksi menjadi ASN PPPK. Persoalan kesejahteraan guru memang sudah seharusnya diperhatikan pemerintah karena guru adalah orang yang berperan vital dalam memberikan pendidikan serta membangun sumber daya manusia(SDM) Indonesia.

Berdasarkan data, kebutuhan ASN guru di sekolah negeri hingga tahun 2024 diprediksi membutuhkan sebanyak 1,3 juta guru. Sehingga diharapkan pemenuhan formasi guru sebagai ASN PPPK dapat berjalan maksimal. 

Persoalan ketidakseimbangan jumlah guru dengan kebutuhan di sekolah, ketidakmerataannya distribusi guru hingga kesejahteraan guru adalah beberapa persoalan guru di Indonesia yang begitu berbelit hingga saat ini sehingga pengelolaan tenaga kependidikan ini harus segera Diupayakan secara maksimal. Jika sampai pada tahun 2024 ada 1,3 juta guru yang lolos PPPK, maka Ini akan menjadi terobosan pemerintah khususnya Kemendikbud Ristek dalam merespons soal kesejahteraan guru. 

Akan tetapi di balik harapan angka 1,3 juta guru yang direkrut ini terdapat juga persoalan yang harus dihadapi oleh pemerintah misalnya rendahnya pengajuan formasi dari Pemda hingga kepastian dalam seleksi daerah.

Guru Penggerak dan Gaya Pengajaran Baru di Sekolah

Selain menunutut kesejahteraan guru, pemerintah juga harus mendorong agar guru mampu mendorong tumbuh kembang murid sehingga mampu secara aktif meningkatkan pengetahuannya serta mengimplementasikan pembelajaran yang diterima dari guru, khususnya di masa pandemi ini. 

Program Guru Penggerak adalah program yang tepat dalam merespon hal ini karena Guru Penggerak adalah guru yang menciptakan pemimpin pembelajaran yang berpusat pada murid. 

Kegiatan program Guru Penggerak seperti mengembangkan diri sendiri serta guru lain dalam metode pembelajaran, merefleksikan dan mengevaluasi pembelajaran yang berpusat pada murid dan orang tua, berkolaborasi dengan orang tua dan komunitas untuk mengembangkan sekolah dan menumbuhkan pengetahuan murid serta mendorong upaya mewujudkan visi sekolah yang berpihak pada murid adalah cara dan metode yang tepat dalam mengupayakan solusi kemajuan pendidikan di sekolah dengan metode baru sehingga juga menjadi katalis perubahan pendidikan yang membawa murid menjadi anak yang lebih bersemangat dalam mengembangkan ilmu pengetahuannya.

Guru Penggerak sebelum melaksanakan program ini kepada murid harus mengikuti pendidikan dan pelatihan Guru Penggerak selama sembilan bulan, hal ini akan mendorong guru membangun fondasi gaya pengajaran yang baru bagi murid di sekolah. 

Sehingga jika sudah ditata ulang atau dibangun kembali fondasinya diharapkan pembelajaran di sekolah dapat semakin inovatif serta mampu membawa murid bersemangat dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, khususnya di masa Pandemi yang masih mengharuskan PJJ serta hybrid learning.

Faktanya, jika pembelajaran lebih dipusatkan kepada murid maka akan mendorong terbentuknya SDM murid di sekolah yang kreatif, kritis, bergotong-royong serta inovatif. Karena dalam mengimplementasikan program Guru Penggerak yang sudah terlatih bagi para guru akan membuat metode belajar mengajar di sekolah tidak hanya satu arah seperti sebelumnya namun dapat membuat aktivitas belajar yang dua arah sehingga lebih kreatif dan menyenangkan bagi murid. 

Sistem pembelajaran harus ditekankan agar murid tidak dipaksakan untuk memahami seluruh mata pelajaran yang ada di sekolah tetapi yang lebih penting adalah mengutamakan kemampuan serta bakat dari siswa itu sendiri.


Asry Almi Kaloko
Koordinator Divisi Informasi dan Komunikasi
Lembaga Analisis Kajian Kebudayaa Daerah (LINKKAR)

Komentar