Senin, 18 Oktober 2021 | 05:41
TRAVELLING

Sempat Terpapar Covid-19, Suciwarni Masih Kuat Mendaki Gunung Gede di Usia 63 Tahun

Sempat Terpapar Covid-19, Suciwarni Masih Kuat Mendaki Gunung Gede di Usia 63 Tahun
Mendaki Gunung Gede (Dok Yanni)

ASKARA - Suciwarni (63) perempuan pendaki perempuan asal Depok, Jawa Barat ini memang luar biasa. Bagaimana tidak, di usianya yang sudah tak muda lagi masih mendaki beberapa gunung. 

Gunung Semeru via Ranupane didakinya saat usia ke-60 dan Gunung Ciremai via Linggajati di usia ke-61. 

Pada bulan Juli 2021 lalu, Suciwarni sempat terpapar Covid-19, saturasi sempat pada angka 60. 

"Melayang-layang, juga sesak nafas seperti kebanyakan orang. Rasanya lelah seolah-olah mengejar seseorang di depan, ingin rasanya menutup mata," ujarnya beberapa waktu lalu. 

Lantaran pasien di rumah sakit yang penuh saat itu, Suciwarni memilih menjalani perawatan di di rumah yang dipantau langsung anak-anaknya. Tentu saja, banyak mengonsumsi buah, asupan vitamin juga pantauan dari Puskesmas. 

Saat itu, dokter yang merawat mengatakan, Suciwarni beruntung karena punya fisik yang kuat, hingga bisa melewati masa kritis yang sulit. 

"2 orang tetangga yang sama-sama terpapar berusia 57 tahun dan 53 tahun harus pergi dan tidak kembali," katanya.

Olah raga sejak muda, pikiran positif, badan sehat tanpa komorbid, tenang menghadapi, membuatnya terbebas dari Covid-19. Usia tidak menjadi jaminan, kebiasaan sehari-hari untuk hidup sehat lebih banyak mempengaruhi.

Setelah dinyatakan negatif Covid-19 pada Agustus 2021, September 2021 Suciwarni kembali mendaki. Pertama mencoba gunung pendek tapi terjal di seputaran tempat tinggalnya, gunung yang biasa digunakan latihan para marinir, Gunung Galau. 

"Nafas sedikit berat, memang tidak seperti biasanya. Tapi tetap semangat tanpa memaksakan diri, setelah berjalan sekitar 45 menit, Alhamdulilah sudah mulai kuat lagi. Tiap pagi tetap berlatih dengan jalan kaki sejauh 2 hingga 3 kilometer," cerita Suciwarni. 

Pada tanggal 5 Oktober 2021, Suciwarni kembali mendaki Gunung Gede melewati  basecamp Putri. Hasilnya luar biasa, meski perlahan akhirnya sampai pada puncaknya dengan ketinggian 2.958 MDPL. Suciwarni sendiri sudah pernah mendaki gunung ini sebanyak 4 kali.

"Semua juga tahu bagaimana medan pendakian Gunung Gede ini dari sisi basecamp Putri, yang usia muda saja terengah-engah dan seringkali putus asa akhirnya memutuskan membuka tenda di pos 3 atau 4 saja dan turun kembali. Kemarin kami temukan perempuan muda yang menangis mendekati pos 3 karena lelah, dan teman-teman seperjalanannya memberikan semangat agar terus melangkah. Itulah persahabatan di atas pegunungan. Banyak pelajaran bisa kita dapatkan," tuturnya.

Perjalanan hari pertama, 5 Oktober 2021 dimulai pukul 10.00 pagi, ditempuhnya  sekitar 8 jam untuk mencapai Taman Edelweis, alun-alun Surya Kencana untuk bermalam di pintu barat dengan indahnya gemerlap bintang. 

"Kami sangat beruntung, cuaca sangat cerah, tanpa kabut dingin, tanpa gerimis apalagi hujan," ucapnya.

Ada 5 Pos dari jalur ini, trek paling berat menguras tenaga dari Pos 3 menuju Pos 4. Tanjakan curam dengan banyaknya akar menyembul, ditambah medan tanah sedikit berpasir juga kerikil, terbayang saat turun. Lutut harus kuat menahan beban tubuh, kaki harus hati-hati menginjak tempat yang tepat agar tidak terpeleset. 

Pada jalur Putri ini, tidak perlu membawa logistik ataupun persediaan air meskipun minim sumber air, karena di tiap pos tersedia warung, juga buah semangka.

"Saat kami mendaki di hari kerja, ternyata banyak juga pendaki dan beberapa warung tetap buka. Asal jangan lupa membawa uang yang cukup, karena harganya tidak sama dengan warung kota, dan itu wajar. Kita yang mendaki bawa barang segitu saja berat, apalagi mereka. Sebandinglah kalau harga menjadi 3 kali lipatnya. Tapi tetaplah membawa logistik, siapa tahu warung tutup," imbuhnya. 

Hari kedua, pukul 06.00 pagi pada 6 Oktober 2021 pendakian dilanjutkan menuju puncak Gunung Gede, start sangat terlambat, ingin mengejar sunrise, dibutuh waktu sekitar 30 menit, Suciwarni ditemani anak muda bernama Abrizon (22) yang baru belajar mendaki, baru tiba di puncak dan bergabung bersama pada 45 menit kemudian.

"Bahagia, haru itu tidak tertahankan, banyak pengalaman juga pelajaran kami dapatkan. Semangat yang luar biasa, tekat yang membara dengan kehati-hatian tentunya pasca covid yang pernah dialaminya, akhirnya semua berhasil sampai pada puncaknya," tuturnya.

Rasa syukur yang tak terkira dipanjatkan bersama, meski pada tanggal 4 Oktober 2021 sempat hujan lebat di Jakarta, namun pada 5-6 Oktober 2021 diberikan cuaca cerah luar biasa. Diberi kemudahan menjalaninya.

Hai para pemuda juga pemudi, mumpung masih muda, berolahragalah tiap hari minimal jalan kaki, makanlah yang bergizi dan hiduplah sehat juga teratur. Jaga diri mulai dini. Indonesia itu indah, agar bisa kalian nikmati meski usia sudah tidak muda lagi, contohnya seperti Utie Suciwarni ini. 

Selalu ingat, jaga kebersihan gunung-gunung yang dikunjungi, bawa turun sampah.  prokes juga menjadi prioritas menjaga diri untuk keluarga, sanak saudara juga teman-teman yang dicintai. Saling peduli menjadi kunci. Sehat bersama itu suatu kebahagiaan yang tak tertandingi.

Salam satu jiwa, berpetualanglah dengan gembira penuh perhatian menjalaninya, agar jiwa-jiwamu tertempa di sana, dan menjadi orang sukses nantinya.

Komentar